I Am Home

I Am Home
Jaga jarak dengannya atau denganku



Dimas bergegas turun dari mobil, tangannya terkepal erat dengan nafas yang memburu, emosinya berada di titik tertinggi, dua hal yang paling tidak Dimas sukai yaitu menunggu dan kebohongan.


"Sejak kapan seminar di lakukan di caffe" sarkas Dimas dengan tangan menyilang di depan dada "Apalagi hanya di lakukan berdua sembari tertawa bahagia" Dimas memberi tatapan sinis pada Namira dan Leo.


"Sayang" Namira terkejut kehadiran Dimas di sana, posisi caffe yang cukup jauh dari tempat tinggal Dimas membuat Namira tidak menyangka bertemu Dimas di sana.


Leo hanya diam sembari membalas tatapan tajam Dimas, jika bukan karena Namira mungkin saja dia akan membalas ucapan sarkas dari kekasih temannya itu.


"Kamu jangan salah paham dulu sayang" Namira berdiri dan langsung menggenggam tangan Dimas, Dimas mengibaskan tangannya untuk melepas genggaman Namira.


"Selesaikan saja urusan kalian" Dimas melangkah masuk ke dalam caffe.


Namira mengikuti Dimas sembari terus berbicara untuk menjelaskan situasinya, Dimas tetap melangkah tanpa memperdulikannya.


Dimas lalu duduk di salah satu meja di ikuti oleh Namira, seorang pelayan datang setelah Dimas melambaikan tangannya.


"Pak dokter sudah lama tidak kesini" sapanya dengan ramah sembari memberikan daftar menu.


"Akhir akhir ini saya lumayan sibuk" jawab Dimas yang di balas anggukan oleh sang pelayan.


Namira hanya diam memperhatikan percakapan keduanya yang terlihat cukup akrab.


"Apa yang enak di makan ketika sedang marah?" Tanya Dimas tanpa melihat lawan bicaranya.


"Roti bakar dan cokelat hagat sepertinya tidak buruk pak dokter" ucap pelayan memberikan rekomendasi, padahal itu adalah menu yang selalu Dimas pesan ketika mengunjungi cafe itu.


"Baiklah buatkan dua porsi masing masing"


"Aku sudah kenyang Dim" ucap Namira.


"Aku tidak memesan untuk mu, dua porsi hanya untuk aku saja" ketus Dimas, pelayan itu hanya tersenyum tipis sembari mengambil buku menu, kemudian berlalu setelah meminta Dimas untuk menunggu pesanan datang.


"Sayang" Namira menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan Dimas.


"Dengar dulu penjelasan aku, jangan langsung marah oke" Dimas kali ini tidak berusaha menampik tangan Namira yang memegang lengannya.


Namira kemudian bercerita jika dia datang ke acara seminar menggunakan taxi karena pagi tadi mobilnya mengalami masalah, awalnya Namira ingin menelfon Dimas untuk mengantarnya, namun karena dia ingat jika Dimas pulang larut malam apalagi Dimas sudah lama tidak mendapatkan libur, membuat Namira mengurungkan niatnya untuk menghubungi Dimas.


"Silahkan" kedatangan pelayan menginterupsi cerita Namira, pelayan meletakkan dua piring dan dua buah cangkir berisi cokelat hangat.


"Terimakasih" jawab Dimas.


"Tenggorokan mu tidak kering?" Dimas menyodorkan satu cangkir pada Namira, Namira menyambutnya dengan senyum manis dan langsung menyesapnya.


"Aku boleh lanjutkan penjelasan ku tadi" pinta Namira, Dimas hanya diam, diamnya Dimas di artikan oleh Namira jika dia boleh melanjutkan ceritanya.


Saat Namira baru selesai mengisi acara seminar tanpa sengaja dia bertemu dengan Leo yang kebetulan tengah melakukan seminar di tempat yang sama.


"Kebetulan yang sangat luar biasa" cibir Dimas.


Namira hanya menghela nafasnya melihat Dimas yang ketus terhadap dirinya.


Leo kemudian menawarkan tumpangan setelah tahu Namira tidak membawa kendaraan, saat di jalan kebetulan sudah masuk waktu makan siang, Namira yang merasa lapar mengajak Leo untuk mengisi perut terlebih dahulu, dan setelah itu datanglah Dimas.


"Apa aku harus mempercayai cerita mu?" Tanya Dimas setelah Namira selesai bercerita.


"Apa aku pernah membohongimu?"


Dimas mengedikkan bahunya.


"Sayang come on kita bukan lagi abg labil yang mempermasalahkan hal kecil seperti ini" Dimas seketika menatap tajam Namira setelah mendengar ucapanya.


"Apa kamu tidak tahu jika batu kecil yang bisa membuat orang tersandung dari pada batu yang besar"


"Oke aku salah, aku minta maaf sayang, tapi please jangan besar besarkan masalah kecil ini"


"Kecil" Dimas berdecak kesal "Bukankah aku sudah pernah meminta untuk tidak terlalu dekat dengannya".


"Tapi kita sudah berteman sejak lama sayang" Namira terus berargumen membatah ucapan Dimas.


Hal yang sangat fatal jika membuat kesalahan pada Dimas, beradu argumen dengan Dimas adalah kesalahan fatal jika membuat kesalahan, cukup minta maaf dan jelaskan semuanya sembari mendengar vonis Dimas, itu yang akan mempermudah hidup orang orang di sekitar Dimas.


"Kita permudah saja" Dimas menatap Namira "Jaga jarak dengannya atau denganku" ucapnya tanpa ada keraguan sedikit pun.


"Kenapa harus seperti ini sayang?" Tanya Namira dengan ekspresi wajah tak percaya mendengar ultimatum dari Dimas.


"Lalu harus seperti apa yang menurut mu baik?"


"Kalian mungkin bisa berteman" jawab Namira.


"Cih" Dimas langsung berdecih "Lebih baik aku tidak memiliki teman dari pada berteman dengannya".


Mereka masih saling beradu argumen, Namira berusaha mencari solusi terbaik agar Dimas tidak marah dan dia juga tidak menjauhi Leo, karena bagi Namira bagaimanapun Leo adalah sahabatnya.


"Ayolah sayang" bujuk Namira.


"Keputusan ada di tangan anda, saya tidak akan berbicara dua kali" Dimas berbicara dengan bahasa formal, Namira tahu jika Dimas sudah berucap seperti itu berarti dia harus mengambil keputusan.


Huh..... Namira menghela nafas berat


"Apa tidak bisa...."


Dimas langsung memotong ucapan Dimas "Anda yang memutuskan atau saya yang memutuskan" tegas Dimas.


"Baiklah aku akan menjaga jarak dengan Leo mulai sekarang" ucap Namira pasrah.


"Kamu jangan marah lagi ya?" Dimas mengangguk pelan untuk mengabulkan permintaan Namira.


Namira kemudian mengambil piring yang ada di depan Dimas, dia memotongkan roti bakar kemudian menyuapi Dimas dengan penuh perhatian.