I Am Home

I Am Home
Meminta kepastian



Dimas masuk ke dalam rumah bersama ibu Reni, Reni sudah menghilang entah kemana, saat Dimas sampai di ruang tamu hanya terlihat ayah Reni yang tengah duduk santai dengan celana pendek dan kaos oblong, terlihat rokok yang terjepit di jari tangan kirinya sembari memegang secangkir kopi di tangan kanan.


"Apa kabar om?" sapa Dimas ramah, dia meraih tangan ayah Reni lalu mencium punggung tangannya.


"Baik, kamu apa kabar?"


"Aneh nih pak tua, salah makan apa gimana nih?" ucap Dimas dalam hati karena mendapati respon ayah Reni yang lebih ramah dari pada kemarin saat pertemuan pertama mereka.


"Baik om, hehe" Dimas kemudian duduk setelah di persilahkan oleh ayah Reni, ibu Reni ikut duduk di sebelah suaminya.


"Kopi?" tawar ayah Reni.


"Bo...." belum selesai Dimas berbicara tiba tiba Reni datang membawa nampan dengan sebuah cangkir di atasnya.


"Dimas gak suka kopi yah" Reni meletakkan cangkir di atas meja, cangkir yang terlihat berisi cokelat hangat kesukaan Dimas, beberapa kali Reni keluar bersama Dimas membuatnya tahu jika Dimas sangat menyukai cokelat hangat, karena Dimas selalu memesan minuman itu.


"Dimas juga gak ngerokok yah" ucap Reni saat sang ayah mengangkat bungkus rokok di depannya, Reni tahu jika sang ayah akan menawari rokok pada Dimas.


"Wah gaya hidup dokter memang beda ya yah" puji ibu Reni yang membuat Reni langsung meliriknya sinis.


"Mulai lagi" ucap Reni dalam hati, Reni kemudian duduk di sebelah Dimas.


Sedari pagi kedua orang tuannya bertanya banyak hal mengenai Dimas pada Reni, Reni yang tidak tahu apapun menjawabnya dengan jujur, jika Dimas adalah seorang dokter dan Dimas adalah teman sekolah Reni dulu.


Ayah Reni hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya.


"Oh ya nak Dimas dokter apa?" tanya ibu Reni.


Dimas melirik Reni yang wajahnya masih terlihat kesal, dia mengembangkan senyum seketika, dia merasa memilki kesempatan untuk lebih membuat kesal Reni.


"Saya spesialis bedah umum dan spesialis penyakit dalam tante" jawab Dimas sembari milirik ke arah Reni, dia langsung tersenyum mengejek ketika Reni juga tangah melihat ke arahnya.


"Wah hebat sekali nak Dimas ini, masih muda dokter lagi, apalagi dokter dengan dua spesialis" puji ibu Reni yang membuat Dimas semakin mengembangkan senyum mengejek ke arah Reni, Reni langsung membuang muka ketika Dimas melihat ke arahnya seraya tersenyum mengejek.


Ibu Reni langsung bercerita banyak hal yang membuat Reni semakin kesal dan Dimas semakin tertawa lebar di atas rasa kesal Reni, orang tua Reni bercerita jika dulu mereka ingin Reni menjadi dokter namun Reni lebih memilih jurusan ekonomi yang menurutnya sesuai dengan kemampuan otaknya.


"Hehehe" Dimas terkekeh pelan "Dulu waktu sekolah Reni sering mencotek sama saya tante" Dimas mulai mengarang cerita.


"Oh ya, terimakasih loh nak Dimas mungkin jika bukan karena nak Dimas Reni mungkin tidak bisa lulus sekolah" bak gayung bersambut ibu Reni justru menanggapi kebohongan Dimas.


"Dim" Reni berbicara lirih, Dimas menoleh, Reni langsung menunjukkan kepalan tangan untuk Dimas, Dimas hanya menjawab ancaman Reni dengan tawa mengejek.


Setelah beberapa lama berbincang kedua orang tua Reni mengajak Dimas menuju meja makan untuk menikmati santap malam mereka.


"Nak Dimas mari keruang tamu om ingin berbicara serius dengan nak Dimas" pinta ayah Reni yang berjalan lebih dulu menuju ruang tamu.


"Perasaan gue gak enak nih" ucap Dimas dalam hati sembari mengekor di belakang ayah Reni.


Mereka duduk berhadapan di ruang tamu, wajah tegas ayah Reni semakin menambah horor suasan yang tercipta saat itu.


"Begini nak Dimas, usia kalian kan sudah matang untuk membicarakan hal serius terkait hubungan kalian" Dimas mengerutkan keningnya mendengar ucapan ayah Reni.


"Ma-maksud om?" tanya Dimas tergagap.


Ayah Reni tersenyum menyadari kegugupan Dimas, Reni menguping pembicaraan mereka dari ruang sebelah yang mampu membuatnya mendengar dengan jelas obrolan dua laki laki itu.


"Kapan orang tua nak Dimas bisa datang kesini untuk membicarakan keseriusan hubungan kalian, maaf kalau om to the point nak, untuk membicarakan tanggal baik untuk pernikahan kalian".


"Mampus gue"


Dimas seketika gelagapan, dia tidak siap untuk pembicaraan ini, Dimas bahkan tidak tahu apapun tentang pernikahan, ucapannya waktu itu ketika Dimas memperkenalkan diri sebagai calon menantu ternyata dianggap serius oleh ayah Reni.


"Ng.. nganu om?" Dimas berfikir untuk mencari kalimat yang tepat untuk membicarakan situasi yang sebenarnya "Sebenarnya begini om" Dimas bingung "Saya dan Reni baru bertemu lagi setelah bertahun tahun om".


"Om tahu" potong ayah Reni.


"Jangan di potong woy, bikin gue tambah bingung" ucap Dimas dalam hati, ingin sekali Dimas berbicara seperti itu langsung pada ayah Reni.


"Ma-maksud saya begini om?" Dimas menyeka keringat yang tiba tiba mengucur dari dahinya, sungguh ingin rasanya Dimas pingsan saja pada saat itu.


"Hahaha" ayah Reni terbahak "Santai saja nak Dimas, om orangnya gak kaku, om dulu juga seperti kamu saat menghadap calon mertua" ucapan yang seharusnya membuat Dimas terhibur namun hanya terdengar seperti bualan belaka.


"Jadi begini om, saya memang sudah mengenal Reni semenjak SMA dulu, tapi..."


"Loh justru lebih bagus kalau kalian sudah saling mengenal dari lama" potong ayah Reni.


"Masalahnya gue musuhan sama anak om, bukan seperti yang om bayangkan"


Huh.... Dimas menghela nafas panjang rasanya percuma saja menjelaskan tentang apa yang sebenarnya, apalagi terlihat harapan yang begitu besar dari mata ayah Reni agar Dimas menjadi menantunya, senyum tulus dari bibir ayah Reni membuat Dimas tidak sampai hati menghancurkan harapannya.


"Terserah keluarga om saja bagaimana baiknya, nanti saya akan bicara pada orang tua saya jika sudah ada kepastian dari keluarga om" jawab Dimas pasrah.


Ayah Reni tersenyum lebar mendengar jawaban Dimas, sedangkan di sisi lain Reni yang sedari tadi menguping terkejut akan hal itu, dia pun bergegas menghampiri Dimas di ruang tamu, ingin rasanya Reni menggunduli kepala Dimas saat itu juga.