
"Dim kamu kok dari tadi ngelamun terus si?" Tanpa Namira di sela sela makannya.
Dimas hanya mengaduk aduk makanannya saja tanpa sekalipun memasukkan nya ke dalam mulut, Dimas sedang berfikir untuk menimbang resiko apa yang akan dia terima jika berbicara jujur kepada Namira terkait hubungan masa lalunya dengan Dinda.
"Gue cuma gak nafsu makan Mir" jawab Dimas sembari berusaha tersenyum untuk menyembunyikan gundah yang tengah dia rasakan.
"Apa ada yang menganggu pikiran mu?" Namira menatap lekat mata Dimas untuk mengetahui kejujuran.
Dimas menggeleng.
"Tapi mata mu berkata iya Dim" sergah Namira.
Dimas diam, mau tidak mau, cepat atau lambat memang Namira harus tahu semuanya.
"Bisa kita bicara di tempat lain Mir?" Pinta Dimas.
"Kenapa gak di sini aja Dim?".
Dimas menatap Namira dengan tatapan memohon.
"Baiklah" Namira berdiri "Ayo" di raihnya tangan Dimas, lalu dia genggam dengan erat kemudian menariknya sembari berjalan meninggalkan resto itu.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di sebuah taman, bukan taman yang penuh kenangan antara Dimas dan Anna, namun taman yang memiliki kenangan antara dia dan Daisi.
"Tumben kesini?" Tanya Namira setelah sampai di taman itu, karena setahu Namira, Dimas selalu datang ke taman favoritnya dulu.
"Duduk dulu" Dimas menunjuk sebuah bangku "Gue mau beli minum dulu".
Dimas berjalan perlahan menjauh, dia memutar tubuhnya sesekali melihat Namira yang tengah duduk sembari bersendandung, dia pernah kehilangan seseorang di taman dan di bangku yang sama, mungkin saja hal itu akan terulang kembali, bedanya Daisi pergi dengan meninggalkan kenangan dan membuat Dimas bahagia, tapi kepergian Namira entahlah biar Tuhan yang mengatur semuanya.
Dimas datang sembari membawa dua botol minuman ringan, satu dia serahkan kepada Namira, lalu Dimas duduk tepat di sebelah Namira.
"Mir lo percaya ada dunia pararel?" Tanya Dimas yang membuat Namira seketika mengernyitkan keninganya.
"Engga" jawab Namira singkat.
"Kalau kehidupan kedua?
Namira menggeleng "Aku gak percaya" Namira meneguk minuman yang di berikan oleh Dimas.
"Kalau kamu?" Tanya Namira balik.
Dimas diam sesaat, dia kemudian menoleh untuk melihat wajah Namira lalu tersenyum.
"Gue gak percaya, tapi gue berharap dua hal itu ada"
Dimas kemudian menceritakan keinginannya jika ada kehidupan lain, Dimas ingin hidup dengan caranya sendiri dan bahagia dengan pilihannya.
"Kamu mau hidup dengan Anna?" Tanya Namira dengan raut wajah sedikit kecewa.
Dimas menggeleng.
"Gue pengin ketemu lo lebih cepat dan bahagia bersama lo tanpa ada masa lalu yang bisa memisahkan kita" jawab Dimas mantap.
"Masa lalu apa? Bersama Anna?" Tanya Namira.
"Bukan" Dimas menarik nafas dalam "Dinda" Lirihnya.
"Dinda" Namira tertawa "Dinda siapa kok aku gak pernah dengar Dim kamu pernah punya pacar namanya Dinda?"
"Dinda adik mu" Dimas menatap mata Namira dalam "Dan mungkin ini sudah saatnya kamu tahu".
Deg.......
Namira seketika terkesiap melihat tatapan tegas Dimas, dia masih bingung dengan apa yang di maksud oleh Dimas.
"Dengar baik baik Mir, jangan memotong ketika aku sedang berbicara, oke?". Namir mengangguk.
Dimas kemudian bercerita dari awal mula pertemuannya dengan Dinda saat MOS dulu, lalu terjalinlah ke dekatan antara dia dan Dinda, lalu Dimas mencampakan Dinda begitu saja saat dia fokus dengan Anna. Awal bertemu dengan Namira, Dimas tidak tahu jika Namira adalah kakak dari Dinda, hingga di acara ulang tahun Namira dia baru mengetahui jika Namira adalah kakak Dinda, sejak saat itu Dimas sudah bertekad untuk tidak lagi mendekati Namira, tidak lupa Dimas juga bercerita semua rasa sakit yang dia berika pada Dinda, semua caci makinya juga tak luput, namun takdir berkata lain Dimas yang ingin menjauh dari Namira tapi justru takdir yang mendekatkan mereka, hingga hari ini mereka berdua duduk di bangku taman itu.
"Lalu sejauh apa hubungan mu dengan Dinda?" Tanya Namira masih dengan ekspresi wajah terkejut.
"Kita pernah melakukan..."
"Stop" pekik Namira "Jangan kamu teruskan".
Seketika tangis Namira pecah luluh lantah, dia tidak menyangka jika orang yang sangat di cintai olehnya adalah orang yang sama, orang yang juga sangat di benci oleh sang adik, memang beberapa kali Namira bercerita tentang Dimas pada sang adik, namun tidak pernah ada tanggapan dari Dinda yang menyiratkan kedekatannya dengan Dimas.
"Kenapa harus Dinda Dim? Kenapa!" Namira berteriak sembari terisak, tangannya terus memukul bahu Dimas, Dimas hanya diam, dia tahu saat ini yang Namira butuhkan hanya di dengarkan saja semua keluh kesahnya tanpa di beri masukkan apapun.
"Kamu orang yang paling aku cintai Dim, kamu!!!!" Isakan yang begitu menyayat hati terdengar oleh Dimas keluar dari mulut Namira "Tapi kamu juga orang yang paling di benci adik ku!!" teriaknya tepat di depan wajah Dimas, tidak ada pembelaan yang keluar dari mulut Dimas, mungkin Dimas merasa dia memang tidak berhak untuk membela diri.
Namira terus tenggelam dalam tangisnya, tak ada pelukan yang Dimas berikan untuk sekedar menenangkan Namira, yang bisa dia lakukan hanyalah diam dan mendengar semua keluh kesah Namira.
Beberapa saat kemudian tidak lagi terdengar isakan Namira, Dimas pun berani mengangkat kepalanya kemudian melihat ke arah Namira yang tengah mengusap sisa air mata yang ada di wajahnya.
"Sudah lebih tenang?" Namira mengangguk, Dimas kemudian mengusap punggung Namira.