I Am Home

I Am Home
Perawan tua



Dimas tengah berada di bandara bersama Amar dan keluarga kecilnya, awalnya Amar meminta supaya Dimas tidak usah mengantar dirinya karena ada Namira di sana, Amar tidak mau jika Dimas bertemu kembali dengan Namira, namun ucapan Dimas membuat Amar tidak bisa membantahnya.


"Gue mau anter saudara gue, gak ada urusan sama Namira"


Dimas menghentikan mobilnya di parkiran bandara, dia bergegas turun dan membantu Amar menurunkan beberapa koper.


"Kebaikan apa yang pernah gue lakukan di masa lalu sampai koper gue aja yang nurunin dokter terkenal" goda Amar saat Dimas sedang menurunkan koper miliknya dari bagasi mobil.


Dimas hanya mengacuhkan ucapan sahabatnya itu, mereka kemudian masuk ke dalam bandara, Dimas membantu menarik satu buah koper dengan si kembar yang duduk di atasnya.


"Gue ikut lo aja check in men" bantah Dimas ketika Amar memintanya untuk ikut Anggi dan twins menunggu di sebuah resto, namun ketika melihat Namira dan Leo yang sudah menunggu di sana membuat Dimas enggan untuk ikut bersama Anggi.


"Up to you" Amar berjalan menuju counter check in bersama Dimas sedangkan Anggi bersama si kembar menuju ke resto.


"Men kalau lo gak bisa maafin dia lo juga jangan benci dia men" ucap Amar membuka obrolan saat sedang antre.


"Gak ada yang gue benci men, gue cuma ingin hidup seperti sebelumnya, lo tahu itu" jawab Dimas.


Amar kemudian berbincang mengenai hal lain tidak ingin membahas masalah Namira setelah Dimas menunjukkan ekspresi tidak nyaman.


Setelah selesai melakukan cehck in, Amar dan Dimas langsung menuju ke resto tempat Anggi berada tentu saja di sana ada Namira dan Leo juga.


"Men gue pamit dulu ada operasi darurat" pamit Dimas ketika mereka sampai di resto, walaupun Amar tahu jika itu hanya alasan Dimas tapi dia juga tidak mau menahan sahabatnya itu.


"Oke men" mereka berjabat tangan kemudian berpelukan satu sama lainnya, Dimas juga berpamitan pada Anggi dan si kembar, walaupun pada awalnya si kembar tidak mau berpisah namun dengan bujukan Dimas jika dia akan mengunjungi si kembar suatu hari nanti membuat keduanya luluh.


"Oom Dims janji?" ucap si kembar memberi jari kelingking mereka.


"Yes twins" Dimas menautkan jari kelingkingnya, kemudian mencium si kembar bergantian.


"Berkabar seperti biasa men" ucap Dimas sembari memberi tepukan kecil di pundak Amar, Dimas pergi setelah itu, dia sama sekali tidak menyapa Namira dan Leo, Anggi yang awalnya ingin menegur Dimas langsung di cegah oleh Amar.


"Jangan karena sahabatmu papa kehilangan sahabat terbaik papa" bisik Amar di telinga Anggi, Anggi pun hanya bisa pasrah.


...****************...


Dimas baru saja tiba di rumah sakit, dia langsung menuju ke ruangannya untuk berganti pakaian sebelum memulai pekerjaan, tumpukan data pasien langsung menyambutkan ketika dia masuk ke dalam ruangan, Dimas harus siap bekerja lembur setelah libur panjangnya.


"Akh... lelahnya" Dimas merenggangkan tubuhnya setelah beberapa jam ini menangani konsultasi dari puluhan pasien.


"Apa ada pasien lagi sus?" tanya Dimas pada suster.


"Satu pasien terakhir dokter" jawab suster


"Saya ke toilet dulu, minta pasien menunggu sejenak".


Suster mengangguk, dia kemudian keluar dari ruang praktek untuk memanggil pasien terakhir Dimas hari itu, di dalam toilet Dimas membasuh wajahnya beberapa kali, rasa penat di tambah rasa gundah dalam hatinya membuat dia sedikit berat menjalani hari, tidak bisa di pungkiri bebannya bertambah karena permasalahannya dengan Namira.


Dimas keluar dari toilet setelah merasa lebih segar, terlihat seorang wanita yang seumuran dengannya tengah duduk di kursi pasien, Dimas berjalan menghampiri kemudian duduk di kursinya, suster menyerahkan identitas pasien dan rekam medisnya, Dimas membaca sekilas.


"Nona Khaeyraeni Amalia" ucap Dimas saat membaca identitas pasien tersebut.


"Lo Dimas?" ucap pasien itu, Dimas mengangkat kepalanya, keningnya berkerut ketika melihat pasien di depannya, Dimas seperti mengenalnya namun tidak menemukan ingatan apapun dalam memorinya.


"Wah gak nyangka gue trouble maker sekolah sekarang udah jadi dokter hebat" pujinya yang berisi sindiran tentang kelakukan Dimas dan teh bad boys dulu.


"Apa kita pernah saling mengenal?" tanya Dimas dengan menatap intens wajah pasiennya.


"Ck.. ck... ck...." berdecak kesal "Lo sombong banget gak inget sama gue" ucapnya.


Dimas menggeleng.


"Gue Reni masa lo lupa, kita sekelas dulu pas kelas XI SMA"


Dimas mengerutkan keningnya beberapa kali berusaha mengingat nama Reni dalam memori otaknya namun tidak berhasil di ingat juga.


Huh.... Reni menghela nafas ketika Dimas belum berhasil mengingat dirinya.


"Gue yang marah marah mulu sama geng lo waktu di kelas, sahabat Anna, ingat kan" ucapnya sembari mengedipkan mata beberapa kali.


Dimas tersenyum smirk, ya dia ingat dengan wanita yang tengah duduk di depannya, wanita yang selalu berani menentang kekuasaan dan kesewenang wenangan the bad boys dulu, wanita yang tidak pernah kenal takut ketika berurusan dengan the bad boys.


"Wah saya ingat" Dimas tersenyum sinis "Saya benar benar tidak menyangka wanita pemberani seperti anda menjadi perawan tua" ucap Dimas sembari memberi tanda pada status Reni yang ada di kartu identitasnya.


"Ish.. gak pernah enak omongan lo dari dulu" gerutu Reni yang membuat Dimas sedikit terkekeh.


"Apa ada hasil rontgen?" tanya Dimas pada suster yang sedari tadi berusaha menahan tawa melihat interaksi kedua teman lama itu, suster menyerahkan hasil rontgen Reni, Dimas kemudian melihatnya dengan teliti, ada sedikit masalah pada ginjal Reni mungkin di sebabkan karena terlalu banyak mengkonsumsi minuman beralkohol dan pola hidup tidak sehat.


Senyum jahil mendadak timbul di bibir Dimas untuk mengerjai wanita pemberani di depannya.


"Sepertinya kita harus melakukan operasi pengangkatan ginjal" terang Dimas yang langsung membuat Reni tekejut.


"Apa!" pekik Reni membuat Dimas langsung menutup telingannya.


"Jangan teriak teriak ini rumah sakit"


Cetas..... Dimas menyentil kening Reni.


"Aduh..." Reni mengusap keningnya "Gue pasien di sini woy" sungutnya.


Suster yang tidak bisa lagi menahan tawanya pamit pada Dimas untuk keluar, dia tahu jika Dimas hanya sedang mengerjai teman lamanya.


"Dim jangan bercanda, masa gue masih muda gini ginjal harus diangkat si" tutur Reni dengan panik.


"Saya tidak pernah bercanda" Dimas memasang mimik wajah serius "Dan lebih parahnya tidak hanya satu tapi dua ginjal anda harus kita angkat" ucapnya dengan tatapan mata serius.


Reni langsung lemas seketika, dia tidak menyangka jika nasibnya sangat tidak baik seperti kisah hidupnya, wajah sendu Reni membuat Dimas tidak bisa menahan tawanya.


"Hahahahaha" Dimas terbahak cukup keras membuat Reni langsung menatapnya tajam.


"Lo ngerjain gue ya?" sungut Reni dengan tangan terkepal, Dimas semakin terbahak.


Reni merasa jengkel dengan kelakuan musuh besarnya dulu, dia berdiri sembari berkacak pinggang, tangan kanannya perlahan mendekat ke wajah Dimas, Dimas yang masih terbahak tidak menyadari hal itu, hingga tiba tiba.


"Aw... aduh.." Teriak Dimas saat Reni menarik jambangnya.


"Wah gila lo..." Dimas mengusap wajahnya yang sakit.


"Bisa gue laporin lo KDRT" sungut Dimas.


"Apaan? emang lo suami gue KDRT?"


"Kekerasan dalam rumah takit" ucap Dimas membuat Reni tertawa.


"Ngada ngada banget lo". cibir Reni.


Keduanya kemudian bercerita banyak hal, Dimas seakan telah bertemu dengan Reni yang lain, bukan lagi Reni bermuka judes dengan suara cempreng seperti dulu, Reni pasien terakhir membuat Dimas memiliki waktu yang lebih banyak untuk mengobrol, mereka saling meledek dan mencibir satu sama lain terkait kenakalan di masa lalu, suara tawa sesekali menggema.


"Jadi gue sakit apa Dim?" tanya Reni setelah selesai bergurau dengan Dimas.


"Kurangi minuman alkohol dan rubah pola hidup lo, minggu depan kesini lagi kita lihat perkembangannya" jawab Dimas serius.


"Bilang aja lo mau ketemu gue" goda Reni sembari mengedipkan mata.


"Terserah lo si kalau gak percaya siap siap aja ginjal lo di angkat"


"Bercanda lo gak lucu" Dimas tersenyum lebar melihat tingkah Reni.


"Lo praktek sampe jam berapa Dim?"


"Sorry gue bukan cowo murahan yang gampang di ajak jalan"


"Kepedean lo Dimas" gemas Reni sembari meremas tangannya.


Setelah beberapa saat mengobrol mereka kemudian bertukar kontak satu sama lain, Reni awalnya menuduh Dimas tertarik padanya namun dengan lihat Dimas bisa berkilah.


"Gue cuma mengabulkan keinginan lo, kalau cuma sekedar nomor telfon lo ada di data pasien" Dimas menunjukkan identitas Reni.


"Basi lo" Reni mencibir namun dengan rona merah pada wajahnya.


"Jujur aja kenapa? mata lo gak bisa bohong tuh kedip kedip terus" goda Dimas membuat wajah Reni semakin memerah.


Hari yang melelahkan Dimas tutup dengan pertemuannya dengan teman lama yang dapat sedikit menghiburnya dari rasa penat hari ini.


Reni