
Pov Anna
Teh bad boys, kadang aku suka gemas bahkan kesal melihat kelakuan absurd mereka, selalu membuat onar dan keributan di kelas, pernah suatu pagi aku benar benar tidak bisa memberikan komentar ketika Dimas dan Ardi datang membawa permadani dan dua buah bantal ke dalam kelas , ketika aku tanya alasannya, Dimas dengan entengnya menjawab "buat kita mesra mesraan" walaupun akhirnya memang buat aku dan Dimas bermesraan si, hehe.
The bad boys lebih dari sekedar sahabat, aku melihatnya langsung ketika Dimas berkelahi dengan Noval, saat itu aku benar benar marah dengan Ardi yang menahanku saat aku ingin memisahkan mereka, namun setelah aku tahu alasan di balik tindakan Dimas aku merasa terharu, saat itu aku jatuh cinta untuk kedua kalinya dengan sosok Dimas.
Oh ya, hampir setiap hari aku melihat ada yang mengirim hadiah untuk Dimas, bunga, cokelat dan beberapa bingkisan kecil, aku selalu membuang itu ke tempat sampah, kesal sekaligus bangga rasanya Dimas ku yang sekarang banyak fans tapi tetap setia dan perhatian denganku.
Ngomong ngomong masalah setia, ehem, banyak seletingan tentang Dimas yang menjalin hubungan dengan siswi kelas X dan kelas XII dan amazing nya siswi tersebut adalah siswi tercantik di setiap angkatan, awalnya aku sangat cemburu mendengar hal itu tapi akhirnya aku bersyukur.
Aku sering berkhayal hidup bahagia bersama Dimas, semua seakan mudah di raih tinggal menunggu waktu saja, apalagi janji janji Dimas yang selalu membuatku tersipu, Dimas adalah orang yang selalu menepati janjinya, khusus janji dengan ku tidak tahu juga dengan janji di luar sana.
Semua khayalanku mendadak sirna ketika dokter memvonis ku menderita penyakit Leukimia, penyakit yang sangat asing menurutku, dokter bahkan bilang jika penyakit ku sudah cukup parah, jadi kelangsungan hidupku hanya tinggal menunggu waktu saja.
Dokter memvonis ku menderita Leukimia stadium tiga, dan bisa lebih parah dalam beberapa bulan kedepan karena menurut dokter aku sudah sangat terlambat memeriksakan kondisi ku, aku memang selalu acuh dengan diriku walaupun sudah beberapa bulan aku merasakan ada yang tidak baik dengan kondisi tubuh ku.
Hancur sudah hidupku, hancur semua harapanku, awalnya aku ingin menyerah tidak mau menjalani pengobatan apapun yang hanya bisa memperlambat saja tapi tidak bisa menyembuhkan, namun bayangan Dimas selalu muncul ketika aku putus asa, aku menjadi kembali bersemangat untuk bertahan lebih lama, aku bertahan bukan untuk mewujudkan semua impianku bersama Dimas? bukan! tapi aku bertahan hanya untuk memastikan jika Dimas sudah bahagia ketika aku pergi.
Aku selalu menyembunyikan penyakit ku dari orang lain, hanya keluarga ku saja yang tahu, bukan karena aku tidak ingin di kasihani, tapi aku tidak mau jika Dimas tahu, aku yakin jika Dimas tahu dia akan menjadikan ku sebagai tujuan hidupnya, aku tidak mau itu, karena hal itu bisa membuat Dimas lebih hancur ketika aku pergi.
Aku langsung berlutut di depannya ketika Noval berbicara akan memberi tahu Dimas, aku menangis sembari memohon, untungnya Noval luluh dia pun bilang tidak akan memberi tahu Dimas selama kondisiku baik baik saja, huh syukurlah.
Pernah terbersit di pikiranku untuk membuat Dimas menjauhiku, aku hanya ingin Dimas tidak merasa kehilangan ketika aku pergi, bahkan aku pernah mengutarakan niat ku pada Noval, aku mengajaknya berpacaran supaya Dimas membenciku, namun jawaban Noval membuatku tersadar jika apa yang akan aku lakukan salah.
"Manfaatkan sisa hidup mu untuk memberi kesan yang indah bukan malah meninggalkan luka, jika kamu tidak bisa membahagiakan nya setidak nya jangan menyakitinya".
Ucapannya membuatku bersyukur, aku semakin yakin jika Dimas akan baik baik saja ketika aku pergi, karena Dimas di kelilingi oleh orang orang baik yang akan selalu menjaga nya.
Dimas sangat menyukai rambut ku, entahlah aku juga tidak tahu mengapa Dimas sangat tergila gila dengan rambutku ini, alasan itulah yang menbuat aku tidak mau menjalani kemoterapi, karena semua itu bisa menyebabkan rambut ku rontok, apalagi ketika aku bertanya apa kemoterapi bisa menyembuhkan ku jawab dokter setidaknya masih ada sedikit harapan, akhirnya aku tidak kau melakukan itu, biarlah aku menjalani sisa hidupku dengan senyum Dimas di setiap harinya.
Oh ya terkait hubungan Dimas dan dua primadona sekolah aku sebenarnya tahu loh, tapi aku sengaja tutup mata, aku hanya berharap Dimas bisa mencintai salah satunya sehingga ketika aku pergi Dimas tidak begitu kehilangan.
"Aku hanya ingin pergi dengan tenang, tapi itu bisa terwujud jika aku sudah melihat Dimas bahagia".
Dimas Mahendra aku mencintaimu.
Nirvanya Attalia wanita yang sangat menyayangimu.