I Am Home

I Am Home
Pemain cadangan (Dinda ternyata liar)



Hari pun berlalu, Anna semakin dekat dengan Dimas bahkan intensitas mereka bertemu menjadi lebih sering, Dimas selalu berusaha memprioritaskan Anna, walau Dimas dekat dengan wanita lain tapi dia tidak bisa membohongi perasaanya bahwa Anna adalah wanita yang dia sayangi.


Dimas hanya sesekali bertemu Anita, Dimas hanya bertemu untuk melakukan servis rutin saja, selain itu Anita mulai sibuk dengan berbagai les, dia yang sebentar lagi akan menghadapi ujian nasional mulai fokus dengan belajar.


Hari ini Dimas menjalani harinya dengan hampa, Anna yang tidak masuk sekolah membuat Dimas sedikit bermalas malasan, hari yang biasa selalu di temani dengan senyum hangat dari wajah cantik Anna terpaksa Dimas lewatkan untuk hari ini.


"Kak Dimas" sapa Dinda malu malu ketika berpapasan dengan Dimas di koridor sekolah.


"Eh Dinda cantik" goda Dimas "Mau pulang?"


"Iya kak, kak Dimas mau pulang juga?" tanya balik Dinda.


Dimas pun mengangguk, mereka kemudian berjalan beriringan sepanjang koridor sekolah, sesekali terdengar suara tawa dari bibir Dinda akibat di goda oleh Dimas, tak jarang juga Dinda mencubit lengan Dimas dengan manja.


"Kamu pulang naik apa Din?"


"Naik angkutan kak, papa gak bisa jemput".


"Papa gak bisa jemput"


"Naik Angkutan"


"Papa gak di rumah"


Senyum devil Dimas tiba tiba muncul, dia seakan mendapat firasa baik setelah ini.


"Gue anter aja ya" tawar Dimas sembari mengerlingkan matanya.


"Mmmm" Dinda pun nampak berifikir.


"Gak ngrepotin kok" rayu Dimas yang kemudian di balas dengan anggukan kepala oleh Dinda.


Dimas langsung berlari ke rumah Amar, hari ini Dimas tidak membawa mobilnya, dia hendak memakai motor Amar untuk mengantar Dimas, sesampainya di rumah Amar terlihat tiga anggota the bad boys sedang bersantai di ruang tamu, Dimas segera menyambar kunci motor di atas meja lalu mengambil dua buah helm yang terletak di pojok ruang tamu itu.


"Kemana men?" tanya Amar.


"Tugas negara" jawab dimas singkat sembari berlalu.


"Pamit dulu kek" gerutu Amar.


"Gak usah sungkan anggep aja rumah sendiri".


"Anying" maki Amar mengantar kepergian Dimas.


Dimas segera melajukan sepeda motor ke arah sekolah, dia berhenti tepat di depan Dinda yang tengah menunggunya dengan sabar di warung seberang sekolah, Dimas langsung memakaikan helm kemudian meminta Dinda untuk naik ke atas sepeda motor.


Sepanjang perjalanan Dinda memeluk tubuh Dimas erat, sesekali mereka berbincang tentang kehidupan masing masing, fakta yang baru Dimas ketahui ternyata Dinda sudah memiliki kekasih, namun mereka harus berpisah karena pacar Dinda melanjutkan sekolah di luar kota dan tinggal di asrama.


"Duh gak ada kesempatan dong" ucap Dimas dengan nada pura pura sedih.


"Kesempatan apa kak?"


"Buat jadi pacar lo" Dinda terkekeh pelan.


"Dinda jadi yang ketiga dong".


"Ketiga?" ucap Dimas bingung.


"Kak Anna sama kak Anita kan pacar kak Dimas".


Skak.....


Dimas terdiam seribu bahasa lidahnya kelu, bagaimana mungkin Dinda bisa tahu kedekatan Dimas dengan dua selirnya itu, padahal Dimas merasa sudah sangat rapi dalam bermain.


"Tapi kalau kak Dimas mau jadiin Dinda yang ketiga Dinda mau kok".


Skit......


Dimas tiba tiba mengerem.


"Ih kak Dimas" kesal Dinda.


"Maaf maaf" ucap Dimas sembari tersenyum bodoh.


Dimas kemudian melanjutkan perjalanan menuju rumah Dinda, 30 menit kemudian mereka pun mendarat dengan sempurna, Dimas kemudian masuk ke dalam rumah setelah di tawari masuk oleh Dinda, Dimas diminta untuk menunggu di ruang tamu sedangkan Dinda mau ganti baju dulu.


"Wow" ucap Dimas sambil menganga ketika melihat penampilan Dinda yang hanya menggunakan celana gemas dan tangtop.


"Di minum kak" Dinda menyodorkan segelas sirup berwarna hijau kepada Dimas.


"Eh.. mmm makasih" Dimas langsung menengguk minuman itu untuk menghilangkan rasa grogi.


"Kok sepi Din?" tanya Dimas basa basi, padahal di dalam hatinya senang melihat kondisi rumah Dinda yang sedang sepi.


"Oh gitu" ucap Dimas sembari mangguk mangguk setelah mendengar penjelasan dari Dinda.


Jleder..... suara gemuruh petir bersahutan dengan suara rintik hujan deras di luar, entah kenapa semesta seakan sedang melakukan konspirasi dengan Dimas.


"Duh hujan Din".


"Hehe iya kak".


Hening......


"Mmm nonton film mau gak kak?" tawar Dinda.


"Boleh lah dari pada bosen".


"Bentar ya".


Dinda kemudian bangkit menuju kamarnya, dia kemudian kembali sembari membawa sebuah laptop, tanpa menunggu lama Dinda langsung memutar sebuah film romantis, Dimas dan Dinda kini duduk bersebelahan, lengan mereka menempel satu sama lain.


"Dinda udah lama pacaran" tanya Dimas di sela sela fokusnya yang sedang menikmati film romantis.


"Dari kelas dua SMP"


"Wah lama juga ya".


"Pernah kaya gitu?" tanya Dimas iseng sembari menunjuk layar laptop yang tengah memutar sebuah adegan dimana pemerannya tengah berciuman.


"Pernah kak".


"Eh di jawab" kaget Dimas karena pertanyaan isengnya barusan justru mendapat jawaban, iseng iseng berhadiah.


"Waduh gue gak pernah loh"


"Ah Dinda gak percaya" ucap Dinda sembari memasang wajah polosnya.


"Bener gak pernah, gak pernah sama lo maksudnya" Dimas cengengesan.


Suara musik romatis pun tiba tiba berputar saat adegan film menunjukkan sepasang insan yang tengah bermesraan di atas ranjang, Dimas yang sudah dua minggu tidak mendapat servis rutin dari Anita pun merasakan ketegangan di tubuhnya, entah dorongan dari mana Dimas menarik tubuh Dinda untuk lebih rapat, dia kemudian mencium bibir Dinda pelan, hal yang tidak di sangka oleh Dimas adalah ketika Dinda membalasnya dengan ciuman lebih dalam, menunjukkan Dinda sudah lebih pro dari Dimas.


Mendapat lampu hijau dari Dinda membuat Dimas lebih berani, dia pun mulai menaikkan tangtop Dinda untuk kemudian menikmati bola kenyal milik Dinda, seketika suasana menjadi panas, Dinda yang bergairah langsung menguasai permainan.


"Eh Din tunggu" ucap Dimas ketika tubuh Dinda berada di atasnya, Dinda bahkan sudah siap memasukkan pusaka Dimas ke dalam sarangnya.


"Kenapa kak?" tanya Dinda dengan wajah yang sudah memerah.


"Gue gak pernah sampai sejauh ini dan gue gak mau ngerusak lo" Tutur Dimas.


"Ini bukan yang pertama buat Dinda kok"


Bless.... pusaka Dimas masuk dengan mulus, Dimas membelalakkan matanya, bukan karena kenikmatan yang tengah dia rasakam, tapi karena jawaban dari Dinda yang berkata jika ini bukan yang pertama, ternyata pemain cadangan lebih liar dari yang Dimas kira.


Gerakan Dinda langsung menghipnotis Dimas, sensai baru yang tengah Dimas rasakan sungguh luar biasa, puluhan kali lebih nikmat dari apa yang pernah dia rasakan dengan Anita.


Musik romantis mengiringi kegiatan dua anak muda yang sedang berusaha meraih puncak kenikmatan, Dimas hanya bisa menggigit bibir bawahnya ketika merasakan kenikmatan dari Dinda.


"Din gue udah gak bisa nahan" lirih Dimas sembari merintih kenikmatan.


"Keluarin di dalam aja kak"


Hah....


Dimas membelalakkan matanya, tiba tiba materi biologi yang pernah dia pelajari melintas di pikirannya.


"Nanti kalau hamil?"


"Aman kok kak" jawab Dinda.


"Maksudnya?"


Dinda hanya tersenyum penuh arti tanap menjawab pertanyaan Dimas, dia terus memompa lebih cepat hingga membuat tubuh Dimas langsung kejang jejang seketika.


"Uhhhh"... lenguhan panjang dari keduanya pun mengakhiri pergumulan mereka yang berlangsung kurang lebih 30 menit.


"Makasih ya kak" Dinda menjatuhkan tubuhnya di atas Dimas.


"Loh kok makasih, harusnya gue yang makasih".


"Pacar Dinda gak pernah bikin puas, biasanya baru lima menit udah selesai".


Dimas tersenyum bangga mendengar penuturan Dinda, dia merasa menjadi pria perkasa sore itu di rumah Dinda.


Satu jam kemudian hujan sudah reda, setelah merapikan penampilannya Dimas hendak pamit untuk pulang, tapi kata kata Dinda mencegah Dimas untuk pulang cepat "Papa pulang malam" tanpa menunggu komando Dimas langsung melancarkan aksinya kembali, Dimas membopong tubuh Dinda ke dalam kamar milik Dinda, Dimas langsung memimpin permainan begitu mereka sudah sampai dalam kamar itu.