I Am Home

I Am Home
Wanita tetaplah wanita



Dengan nafas yang masih terengah engah Dimas berusaha untuk duduk, di lihatnya wanita yang berada di sebelahnya sudah terlelap, kegiatan panas baru selesai beberapa menit yang lalu namun wanita itu langsung terlelap begitu saja, Dimas tersenyum lebar menandakan sebuah kepuasan.


Bastard, kata yang tepat untuk menggambarkan Dimas saat ini, setelah Dimas mampu berdamai dengan keadaan tingkah lakunya justru semakin tidak terkendali, masalah seakan menjadi pendamping setianya dan selalu singgah menemani harinya.


"Uh.. mmmm... ah" tidur Dinda terusik ketika merakan geli di beberapa area sensitif.


Dimas terus memainkan area kesukaannya, bola kembar Dinda menjadi magnet yang sangat kuat untuk Dimas selalu singgah di sana.


"Lagi ya" ucap Dimas dengan wajah sendu, Dinda hanya mengangguk pelan, walaupun tubuhnya terasa sangat lelah karena pergumulan mereka yang entah sudah berapa kali hari itu, namun dia tak kuasa untuk menolak permintaan Dimas.


Setelah mendapat persetujuan Dinda membuat Dimas kembali berpacu dalam permainan kenikmatan, meskipun Dinda hanya diam tanpa ikut merespon tapi tidak mengurangi kenikmatan yang berusaha Dimas raih.


"Akhhhh..." lenguhan panjang Dimas menandakan berakhirnya permainan panas itu, Dimas langsung mencari posisi nyaman untuk tidur setelah mengecup lembut kening Dinda.


Di sisi lain terlihat Namira dengan wajah kesalnya sedang duduk di sebuah taman, tangannya meremas ponsel yang sedari tadi dia tatap, sudah lebih dari dua jam dia menunggu Dimas namun sampai sekarang belum ada kabar sama sekali.


"Awas lo Dimas" geram Namira setelah panggilannya tidak di jawab oleh Dimas, panggilan untuk kesekian kalinya yang membuat Namira semakin kesal.


Dimas memang bastard, setelah pertemuan dirinya dan Namira di danau waktu itu, Dimas menjalin kedekatan yang lebih dari teman dengan Namira, namun di sisi lain Dimas juga melanjutkan hubungannya dengan Dinda yang merupakan adik dari Namira, entah Dimas yang kembali masuk dalam jerat cinta Dinda atau justru Dinda yang berhasil di perdaya oleh Dimas untuk sekedar di jadikan pelampiasan.


Namun begitulah Dimas, dengan segala trik dan tipu muslihatnya Dimas berhasil menyembunyikan hubungan dari kakak adik tersebut tanpa ada yang curiga satu sama lain, hal itu tidak lepas dari perah the bad boys.


"Sorry Mir, gue telat" ucap Dimas sembari langsung duduk di ruang kosong sebelah Namira.


"Lo" Namira menunjuk Dimas dengan tatapan tajam "Gila lo udah dua jam gue nunggu dan dengan entengnya lo bilang sorry" runtuk Namira, Namira bukanlah type wanita yang mudah luluh hanya dengan rayuan, bukan wanita yang akan tersanjung dengan sebuket bunga, itulah yang membuat Dimas tertarik, seakan mendapat tantangan baru.


"Iya iya sorry" pasrah Dimas.


"Lo ada alasan untuk keterlambatan lo atau hanya akan sekedar membual?" tanya Namira dengan penuh selidik.


Dimas menggeleng "Kalau gue bilang ketiduran apa lo percaya?" ucap Dimas lirih, ya Dimas memang benar ketiduran setelah bercinta dengan Dinda.


Namira menatap lekat lekat wajah Dimas, di perhatikannya setiap inci wajah Dimas, tidak terlihat kebohongan, Namira memang sangat menyukai psikologi, dia belajar banyak hal mengenai psikologi terutama untuk mengetahui apakah seseorang berbohong atau tidak.


Huh...... Dimas langsung bernafas lega ketika Namira sudah tidak lagi menatapnya tajam.


"Sorry gue ketiduran Mir, cape banget tadi" ucap Dimas berusaha setulus mungkin untuk meyakinkan Namira.


"Oke gue terima alasan lo, tapi bukan berarti gue maafin lo"


"Terus lo bilang" menatap Dimas "Gak ada inisiatif banget lo jadi orang".


Arggg.... Dimas mengacak acak rambutnya merasa frustasi, wanita tetaplah wanita dengan segala tingkahnya yang semaunya sendiri, walaupun Namira sedikit berbeda dengan para selir Dimas lainnya, namun tetap saja Namira menyebalkan.


"Kenapa?" tanya Namira ketika melihat Dimas tengah mengacak acak rambutnya.


"Gatel" jawab yang terlihat menahan kesal.


Dimas terdiam, dia tengah berfikir bagaimana cara membujuk Namira, Namira tidak akan luluh hanya dengan mulut beracun Dimas atapun setangkai mawar dan sebatang cokelat, itu tidak mempan untuk Namir.


"Mir nonton asik nih" tawar Dimas


"Mata gue lagi gak bisa ngeliat yang silau silau".


"F*ck, alesan macam apa itu"


"Mmm makan es cream enak"


"Lo pikir gue bocah"


"Lah"


Habis, tidak ada lagi ide di dalam kepala Dimas, tidak ada cara untuk meluluhkan Namira, Dimas putus asa.


"Traktir gue makan Baso".


"Eh"


"Yaudah kalau gak mau" ucap Namira karena Dimas hanya diam saja.


"M.. mau kok mau, yok lah mau makan Baso dimana tuan putri?"


"Terserah"


"****" Ingin sekali Dimas mengumpat namun tentu saja dia tidak berani, Namira bak singa betina yang tengah menjaga anaknya jika sedang marah.


Dimas kemudian menggandeng tangan Namira, tidak ada penolakan salah satu tanda jika Namira sudah tidak marah, setelah Namira masuk ke dalam mobil Dimas menutup pintunya dengan perlahan, lalu dia sedikit berlari mengitari mobil.