
Dimas terus melangkahkan kakinya, dia tidak punya arah dan tujuan, dia hanya ingin keheningan, keheningan yang sangat dia butuhkan sekarang, Dimas melangkah sembari mengikuti kata hatinya, hingga tanpa sadar Dimas telah sampai di pinggiran sebuah danau.
Matanya menyapu setiap sisi danau, tak begitu besar namun terlihat sangat menentramkan, suara ranting potohon yang saling begersekan karena tertiup angin, suara air, bagai simponi indah yang terdengar begitu merdu di telinga Dimas.
Dimas duduk terjerembab, dia menekuk kakinya kemudian menjatuhkan kepalanya di atas lutut, suara isak tangis terdengar begitu lirih, waktu berjalan begitu lambat di sekitarnya, sesekali terdengar teriakan seorang ibu yang memanggil nama anaknya, terdengar juga rengekan anak tersebut karena mendapat larangan dari ibunya ketika ingin bermain di air, sahutan sahutan antar orang tua dari anak itu pun terdengar, dimana sang ayah membela anaknya.
Dimas tersenyum getir, semesta seakan sedang mengejek dirinya, semesta seakan tengah memamerkan ke indahan yang pernah Dimas bayangkan sebelumnya, bayangan tentang keluarga kecilnya yang bahagia, bayangan tentang masa depannya bersama Anna, yang kini seolah olah tidak akan dapat Dimas raih dan hanya akan menjadi bayangan indah untuknya.
"Tuhan" lirih Dimas sembari menengadahkan wajahnya menatap langit.
"*Aku pernah me*n***dengar jika engkau selalu memberikan apa yang hamba mu butuhkan".
"Engkau adalah pengatur skenario hidup semua manusia di dunia, Engkau adalah penentu takdir kehidupan seseorang*".
Dimas kembali sesegukan menangis pilu, dia kembali mengusap lelehan air mata di pipinya.
"*Namun bolehkah aku meminta satu hal saja Tuhan"
"Ijinka aku untuk mengatur skenarioku sendiri, ijinkan aku untuk mengatur takdir ku sendiri"
"Hanya satu saja yang aku pinta, jadikanlah Anna sebagai takdir indahku, jadikanlah Anna sebagai pemeran utama dalam skenario indah hidup ku*"
"Tolong kabulkan permintaanku ini Tuhan, aku yakin ini bukan hal yang sulit untukMu".
Dimas kemudian berdiri, di genggamnya batu dengan erat di tangan kanannya, Dimas menarik nafas dalam, kemudian dia kemparkan sekuat tenaga batu itu ke arah danau, Dikas seakan sedang membuang jauh jauh rasa gundah dalam hatinya, rasa takut yang teramat sangat dalam benaknya.
Akh.......
Dimas beteriak, berteriak sangat keras sekan sedang memaki takdir hidupnya, dirinya selalu mencari pembenaran atas apa yang menimpanya, sedang mencari kambing hitam atas apa yang terjadi pada Anna.
"L**eukimia" gumam Dimas.
"Gue benci lo Leukimia, gue benci" teriak Dimas sekuat tenanga hingga akhirnya Dimas kembali terduduk dengan lemas, gunda yang dia rasakan sedikit berkurang setelah Dimas melampiaskan rasa itu dengan berteriak.
Bayang bayang keindahan yang selalu Dimas khayalkan, selalu Dimas mimpikkan setiap harinya tiba tiba terlintas di kepalanya bagai film pendek yang tengah ia tonton, namun film itu berganti dengan scene kesedian, scene yang membuat Dimas hancur karena kehilangan Anna, kehilangan orang yang sangat dia cintai, orang yang sangat dia sayangi, orang yang selama ini selalu menjadi pelipur setiap kesedihannya, orang yang selama ini menjadi obat dalam semua laranya.
"Gue harus kuat" ucap Dimas berusaha memotivasi dirinya sendir.
"Kalau gue lemah, Anna lebih lemah, kalau gue sedih Anna lebih sedih, gue harus kuat demi Anna, setidaknya mulai saat ini gue tahi tujuan hidup gue, Anna, Anna adalah tujuan hidup gue saat ini".
Dimas berdiri dari duduknya, di hapusnya sisa sisa air mata di pipinya, dia sudah tahu apa yang harus dia lakukan, dia pun sudah tahu bagaimana harus memperlakukan Anna, Dimas ingin memberi kenangan indah setiap detik untuk Anna jika memang takdir akan memisahkan mereka sebentar lagi, atau Dimas memberi kenangan indah untuk masa depan mereka jika takdir berbaik hati untuk menyatukan dirinya dan Anna di masa depan nanti.
Di hirupnya nafas dalam dalam, kemudia dia hembuskan perlahan.
"Gue pasti bisa"
Dimas berusaha kembali tersenyum, di tatanya semua memori indah dengan Anna.
Dimas memutar tubuhnya, dia ingin kembali ke kehidupannya yang sangat indah, meskipun dia tahu bahwa kehidupan itu hanyalah sesaat, tapi setidaknya Dimas bisa menikmati sesaat hal semu itu.
Dimas melangkah menjauhi danau yang telah sedikit mengobati luka di hatinya, namun langkahnya terhenti ketika ada suara seseorang yang mencibirnya.
"Cowo kok cengeng" cibir orang itu.
Dimas hanya menatap malas seseorang yang baru saja mengajaknya bicara, tidak ada keinginan walau hanya sekedar untuk menyapa, mungkin jika saat ini kondisinya baik baik saja Dimas akan memberikan senyum manis, akan menyuguhkan senyum terbaiknya untuk wanita itu, wanita yang sempat menarik perhatian Dimas saat mereka pertama kali bertemu, Namira.
Dimas kembali melanjutkan langkahnya setelah melihat jika orang yang baru saja menegurnya adalah Namira, dia enggan untuk berhubungan dengan lawan jenis untuk saat ini dan mungkin selamnya, kecuali dengan Anna, Nirvanya Attalia wanita terindah dalam hidupnya.