I Am Home

I Am Home
Tukang sol sepatu



Kantin bunda terlihat ramai dengan banyaknya lalu lalang murid yang tengah membeli beberapa keperluannya untuk mengisi tenaga kembali setelah 3 jam mengikuti pelajaran, tak terkecuali the bad boys yang masih setia mengunjungi kantin bunda selama hampir 3 tahun ini.


The bad boys selalu mengisi salah satu meja yang berada di kantin itu, tidak ada yang pernah berani menempati meja tersebut, namun sudah beberapa minggu terakhir hanya ada 3 orang yang duduk di situ, kesibukan Dimas dengan duniannya sendiri bersama Daisi membuat personel the bad boys tidak lengkap dalam beberapa minggu terakhir, hanya ada Noval, Amar dan Ardi yang setia menghuni sudut kantin itu.


Terlihat ketiga orang yang tengah berdiskusi dengan sangat serius, nampak sesekali kening mereka berkerut seakan sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat, mereka pun beberapa kali memijit kepalanya masing masing karena tiba tiba pusing.


"Gak bisa men" bantah Noval atas usul Ardi " Terlalu frontal, sama saja kita mengibarkan bendera perang sama Dimas" tandasnya.


Ardi baru saja mengusulkan jika mereka langsung berbicara saja apa adanya kepada Daisi, agar Daisi tahu dengan maksud dari Dimas memperlakukannya seperti itu.


"Terus lo ada ide?" tanya Ardi yang langsung di sambut gelengan kepala oleh Noval.


"Ishhh" cibir Ardi.


"Gue ada ide" mata Ardi dan Noval langsung berbinar setelah mendengar ucapan Amar.


"Dengerin baik baik" Noval dan Ardi langsung mengangguk.


"Jadi gini..." Amar memulai cerita tentang rencananya, nanti ada dua orang yang berbincang seakan akan bernostalgia kenangan mereka dengan Anna, khususnya Dimas dan Anna, pada saat itu mereka harus memastikan jika Daisi sedang sendiri tanpa adanya Dimas di sana.


"Terus Dimas kita kemanain, kita culik" celetuk Ardi.


Plak.... Noval memukul kepala Ardi.


"Thanks udah lo wakilin men" ucap Amar kemudian melanjutkan ceritanya, nanti salah satu the bad boys bertugas untuk mengalihkan perhatian Dimas selama mungkin.


"Tepatnya berapa lama?" tanya Noval serius.


"Paling tidak 20 menit kita harus menjauhkan si kampret dari Daisi" jawab Amar, Noval mengangguk menyetujui jawaban Amar.


"Oke masalahnya sekarang bagaimana cara buat Dimas jauh dari Daisi, kan kita semua tahu mereka udah kaya sol sama sepatu nempel mulu" ucap Ardi.


Kembali terdiam.


Ketiga orang tersebut kembali terdiam tenggelam dalam pikirannya masing masing untuk mencari cara menjauhkan Dimas dan Daisi.


"Sol dan sepatu" gumam Noval.


"Gue tahu" ucapnya hingga mendapat perhatian dari kedua sahabatnya.


"Gimana men?" tanya Amar dan Ardi kompak.


"Gimana cara memisahkan sol dan sepatu?"


"Jangan muter muter apa si men" kesal Ardi pada Noval.


"Tinggal jawab aja woy"


"Ya tinggal bawa ke tukang sol sepatu beres" ucap Ardi pasrah.


"Benar sekali, dan lo berdua tahu siapa yang bisa jadi tukang sol buat misahin Dimas dan Daisi" kata Noval berusaha memberi teka teki, ketiganya pun saling tatap satu sama lain, kemudian mereka tertawa secara bersamaan seakan baru saja mendapatkan harta karun.


"Dinda" ucap mereka kompak, mereka kemudian melakukan tos satu sama lainnya.


Setelah semuanya deal dengan rencana mereka akhirnya mereka membagi tugas masing masing, Ardi di tugaskan untuk memanas manasi Dinda sehingga Dinda mau menemui Dimas di kelas, Amar dan Noval akan memastikan jika Daisi tidak akan keluar kelas selama Dimas bertemu Dinda, tentu saja Dimas akan langsung menarik Dinda keluar jika Dinda datang ke kelas mereka.


"Kita harus secepatnya eksekusi rencana ini" Amar dan Ardi mengangguk " Lo inget tugas lo Di" tunjuk Noval pada Ardi "Kita harus melaksanakan ini dalam tempo yang sesingkat singkatnya"


"Deal' ucap mereka bertiga kompak.


"Bentar bentar men" Ardi menginterupsi.


"Apa lagi?" kesal Noval karena dia yang sudah beranjak terpaksa harus kembali duduk.


"Tempo yang se singkat singkatnya" Ardi bergumam sembari mengerutkan kening "Kaya gak asing men".


"Udah jangan di pikir men" ucap Amar sembari tersenyum mengejek.


"Kenapa?"


"Otak lo gak akan nyampe" cibir Noval dan Amar kompak, mereka menoyor kepala Ardi kemudian pergi meninggalkan Ardi yang sedang menggerutu kesal.


The bad boys sudah menyusun secara matang rencana mereka, mereka berharap nantinya Dimas akan sadar akan kesalahannya selama ini yang selalu memperlakukan dan melihat Daisi sebagai Anna, bukan the bad boys ingin memisahkan Daisi dan Anna, mereka hanya ingin Dimas benar benar bahagia karena pilihannya sendiri bukan lagi karena bayang bayang Anna.