I Am Home

I Am Home
Pertemuan tak terduga



10 tahun kemudian


Tinnn..... tin......


Suara klakson mobil terdengar saling bersahutan satu sama lain, salah satunya dari mobil yang tengah di kendarai oleh seorang laki laki, wajahnya terlihat gelisah sesekali dia melirik ke arah jam tangannya, laki laki yang menggunakan sebuah jas putih khas seorang dokter, tertulis nama di name tag yang terdapat di dada sebelah kirinya dr. Dimas Mahendra SpB,. SPpD.


"Si*l, gak tahu orang lagi buru buru apa" gerutu Dimas sembari melihat ke arah depan.


Dia ada operasi yang harus di lakukannya sebentar lagi, tapi kemacetan di depannya membuatnya kesal, biasanya jalan itu tidak pernah di temui kemacetan, makanya Dimas datang seperti kebiasaannya satu jam sebelum operasi di mulai.


Dimas kini telah menjadi dokter di salah satu rumah sakit terbesar yang ada di ibu kota, berkat kegigihannya dalam berjuang Dimas telah berhasil mendapatkan nama besar yang sangat di perhitungkan di dunia medis, dengan dua gelar spesialis yang dia dapat dengan susah payah kini nama Dimas sangat di segani oleh rekan rekan se profesinya.


The bad boys kini hidup terpisah dan saling berjauhan dengan kebahagiaan masing masing, Noval sudah menikah dengan wanita yang dia cintai, mereka hidup bahagia di ujung negeri yang menjadi tempat dinas Noval, Amar dan Anggi sudah menikah dan di karuniai dua orang malaikat kecil, mereka memutuskan untuk menetap di luar negeri, Ardi kini melanjutkan bisnis ayahnya, dia menjadi salah satu pembisnis sukses, kisah asmaranya tidak berbanding lurus dengan kehidupannya, di usia yang sudah matang Ardi masih saja melakukan kebiasaannya sebagi playboy sejati, sedangkan Dimas masih setia menikmati masa lajangnya.


Dimas yang merasa kesal kemudian turun dari mobilnya.


"Ada apa ya pak?" Tanya Dimas dengan ramah pada pengguna jalan lainnya.


"Ada pengendara yang pingsan dalam mobil pak, mobilnya tidak bisa di buka karena terkunci, jadi sedang menunggu bantuan datang pak" terang pengendara itu.


Dimas sebagai dokter merasa nalurinya terpanggil, firasatnya mengatakan ada yang tidak baik dengan pengendara yang pingsan itu, dia pun kemudian berjalan mendekati mobil yang tengah di kerumuni oleh beberapa orang.


"Permisi, permisi" ucap Dimas berusaha memecah kerumunan orang di sekitar mobil.


Setelah mendapatkan ruang Dimas kemudian mendekatkan diri ke mobil itu, dia menempelkan wajahnya ke kaca untuk melihat kondisi orang yang ada di dalamnya, matanya menangkap sosok seorang wanita, kepala wanita itu tersender di atas stir mobil, rambut panjang yang dimilikinya hampir menutupi seluruh wajahnya.


"Kita harus segera mengeluarkan dia, atau bisa terjadi hal buruk". Terang Dimas pada orang orang yang ada di situ.


"Saya dokter pak, kalau sampai 20 menit lagi tidak di keluarkan dia bisa keracunan gas di dalam" ucap Dimas berusaha meyakinkan orang orang yang bekerumun di situ.


"Lah gimana pak, pintunya terkunci" jawab salah satu orang.


"Pecahkan saja kaca mobilnya" usul Dimas.


"Kita gak berani pak, nanti malah jadi masalah" jawab yang lain.


****....


Dimas mengumpat dalam hati.


Dimas segera melepas jas kebesarannya, dia kemudian melilitkan jas itu di tangan kanannya.


Bugh.... pyar.....


Sekali pukul kaca pintu mobil langsung pecah seketika, orang orang yang ada di situ menatap perbuatan Dimas seperti tidak percaya, kaca mobil yang terkenal cukup keras mampu pecah hanya dengan sekali pukul.


Dimas kemudian membuka pintu mobil, dia lalu menarik tubuh wanita yang tengah bersandar di stir mobil perlahan untuk kemudian dia sandarkan di jok mobil.


Deg......


Tubuh Dimas seketika membeku saat melihat wajah wanita itu, wanita yang sudah 10 tahun ini dia rindukan, wanita yang setiap malam Dimas mimpikan dalam tidurnya.


"Namira" ucap Dimas lirih setelah mengenali wanita itu.


"Ealah pak dokter malah bengong" tegur seseorang yang melihat Dimas termenung.


Dimas kemudian kembali sadar dari keterkejutannya, dia langsung mengecek kondisi Namira, mulai dari denyut nadi sampai respon pupil matanya.


Huhhh.....


Dimas menghela nafas lega setelah mengetahui kondisi Namira baik baik saja, Dimas rasa Namira hanya kelelahan.


"Pak, bapak orang sini?" Tanya Dimas pada salah satu orang.


"Iya pak dokter" jawabnya.


"Saya titip mobil saya pak" Dimas menunjuk sebuah mobil yang berada di belakang "Saya mau bawa ke rumah sakit dulu nona ini" Sambungnya.


Setelah mendapat persetujuan dari orang itu, Dimas langsung memindahkan tubuh Namira ke kursi penumpang, dia membersihkan sedikit pecahan kaca yang ada, lalu langsung melajukan mobil milik Namira ke rumah sakit.


Sesekali Dimas melirik ke arah wanita yang duduk di sampingnya, seulas senyum tipis terlihat di bibirnya, semesta nampaknya sedang mengajaknya kembali bercanda, bagaimana Dimas selama hampir sepuluh tahun terakhir terus mencari keberadaan Namira namun tak jua ada titik terang, tapi hari ini dengan kondisi yang tidak pernah terbayangkan Dimas kembali bertemu dengan Namira, wanita yang selama sepuluh tahun terakhir menyandera hatinya.


"Aku bahagia kamu baik baik saja Mir" lirih Dimas.


Seketika ucapan Namira di masa lalu terlintas di kepala Dimas.


"Jika suati hari kamu tidak bisa hidup bahagia datang lah padaku Dim, tapi jika saat kamu datang dan menemukan ku sudah bahagia lihat lah dari jauh dan carilah kebahagiaan baru".


"Semoga aku gak perlu mencari kebahagiaan baru setelah pertemuan ini" ucap Dimas dalam hati penuh pengharapan.