I Am Home

I Am Home
Lying is lying



Kebahagiaan seakan enggan beranjak dari sisi Dimas, karir yang terus menanjak, hubungan asmara yang selalu terlihat harmonis, hidup Dimas tidak memiliki masalah yang berarti akhir akhir ini.


Kesibukan Dimas membuatnya jarang bertemu dengan Namira bahkan di akhir pekan sekalipun, walau Namira tidak pernah mempermasalahkan hal itu namun dalam hati Dimas ada sedikit rasa cemas terkait dengan hubungannya, apalagi kedekatan Namira dan Leo yang hampir setiap hari bersama membuat perasaan Dimas tak tenang, walaupun Namira telah berjanji jika kedekatannya hanya sebagai bentuk profesionalisme dalam bekerja saja.


Dimas baru saja menyelesaikan pekerjaannya saat waktu menunjukkan pukul 8 malam, awalnya Dimas beniat untuk menjemput Namira pulang karena tadi pagi dia mengantar Namira, namun karena ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan dengan berat hati Dimas membatalkan niatnya.


"Aku baru selesai operasi" isi pesan teks yang Dimas kirimkan untuk Namira.


"Pulang dan istirahatlah sayang, aku sedang ada acara di luar" balas Namira.


Dimas hanya membacanya saja tanpa berniat untuk membalas, dia sudah menaruh keprcayaan pada Namira, di usia mereka yang sudah matang tentu tidak perlu terlalu mengekang atau posesif berlebihan terhadap pasangannya, namun ada satu hal yang Dimas lupakan, jika wanita tetaplah wanita yang selalu butuh perhatian dan kasih sayang walaupun untuk hal hal kecil sekalipun.


Ponsel Dimas berdering ketika dia baru saja masuk ke dalam mobilnya, terlihat nama Ardi tertera di layar ponsel.


"Men" pekik Ardi ketika Dimas baru saja mengangkat panggilan darinya.


"Biasa aja woy" sungut Dimas.


"Hahaha" Ardi malah tertawa "Dimana?"


"Baru mau pulang dari rumah sakit"


"Gue lagi ada di ibu kota, kita ketemu di hotel two version gue lagi stay di sini"


"Oke".


Tut.... panggilan langsung Dimas akhiri.


Ardi memang rutin berkunjung ke ibu kota untuk perjalanan bisnis, mereka akan selalu menyempatkan waktu untuk bertemu saat Ardi datang, karena hanya mereka berdua yang lebih banyak memiliki waktu luang dibanding dengan dua sahabatnya yang lain.


Dimas menghentikan mobilnya di parkiran hotel setelah beberapa menit perjalanan, dia mengirim pesan pada Ardi jika sudah sampai.


"My brother" teriak Ardi saat Dimas baru masuk ke dalam lobby hotel, tidak ada yang berubah pada tingkah Ardi walaupun kini usianya hampir menginjak kepala tiga.


"Malu maluin lo" cibir Dimas, saat Ardi merangkul lengannya.


"Malu kalau lo gak pake baju" sungut Ardi.


Mereka kemudian masuk ke dalam bar yang ada di hotel tersebut.


"Orange juice" cibir Ardi dengan tatapan meremehkan ketika Dimas selesai memesan minuman.


"No alcohol no smoke" ucap Dimas.


"Siap pak dokter" sembari memberi gaya hormat.


"Belum minum udah mabuk lo"


Mereka kemudian berbincang ringan, kebanyakan Ardi membahas tentang wanita, tabiat yang tidak mudah di rubah darinya.


"Lo kapan nikah men, udah cukup petualangan lo?"


"Ck... ck... ck...." Ardi berdecak mendengar pertanyaan dari Dimas "Kalau yang tanya gitu Noval atau Amar gue jawab men, yang nanya lo, status sama sama masih petualang cinta"


"Gue udah punya Namira" bela Dimas.


"Lah gue punya Lily, Marsha dan banyak lainnya" jawab Ardi menyebutkan nama selir selirnya kemudian tertawa mengejek.


Mata Dimas menatap lekat lekat sepasang manusia yang baru saja keluar dari Ballroom dengan bergandengan mesra, Namira terlihat sedang merangkul lengan Leo dengan mesra, posisi Ballroom yang tepat berada di depan bar membuat Dimas bisa melihat hal itu.


"Kenapa men?" tanya Ardi karena melihat tatapan tajam Dimas ke arah luar, dia pun kemudian ikut melihat ke arah luar.


"Namira" ucap Ardi "Lo tahu dia kesini?"


Dimas mengangguk, walaupun sebenarnya dia tidak tahu acara yang dimaksud Namira berada di hotel bersama Leo.


"Lo tahu dia pergi dengan laki laki lain?" tanya Ardi karena melihat keraguan di mata Dimas saat menjawab pertanyaannya tadi.


"Kalau lo serius sama dia buruan lo kawinin, jangan sampai di ambil orang lo baru nyesel men"


"Lo pikir kucing main kawin aja" sungut Dimas.


"Inget men yang istimewa akan kalah dengan yang selalu ada".


Deg......


Ucapan Ardi langsung menyadarkan Dimas, Dimas yang hampir tidak pernah memiliki waktu untuk Namira, Dimas tidak pernah meluangkan waktunya walau sekedar untuk mendengar keluh kesah Namira.


"Tapi gue senang lihat lo sekarang, mungkin kalau 10 tahun lalu lo udah berantem sama tuh cowo" tunjuk Ardi ke arah Namira dan Leo yang tengah duduk di lobby hotel.


"Sekarang lo telfon dia" ucap Ardi memberi perintah.


"Untuk?" tanya Dimas bingung.


"Tes kejujuran" jawabnya sembari menenggak satu sloki alkohol.


Dimas kemudian mengambil ponselnya lalu menekan nama Namira yang tesimpan dalam daftar kontak untuk melakukan panggilan.


"Loudspeaker men" ucap Ardi setelah bunyi nada dering.


"Hallo sayang" sapa Namira.


"Sudah pulang?" tanya Dimas.


"Baru mau pulang, acara baru selesai".


"Acara apa?"


"Ulang tahun rekan dosenku"


"Mau aku jemput?" tawar Dimas.


"Engga usah sayang, aku pulang sama teman ku".


"Teman?"


"Iya teman dosen ku"


"Siapa?"


"Ada teman dosen ku, kamu belum kenal" jawab Namira berbohong, mungkin maksud Namira tidak ingin membuat Dimas curiga, karena Dimas pernah berbicara padanya agar tidak terlalu dekat dengan Leo.


"Baiklah"


Dimas langsung memutuskan panggilan tanpa mengucapkan salam.


"Lo kenal laki laki itu" tanya Ardi setelah Dimas meletakkan ponselnya.


Dimas mengangguk.


"Hahahaha" Ardi terbahak "Begitulah wanita, mereka tidak akan cukup dengan satu pria, apalagi jika belum ada ikatan men"


"Namira cuma jaga perasaan gue aja, dia tau gue gak suka kalau dia terlalu dekat dengan laki laki lain" ucap Dimas berusaha membela Namira.


"Kalau dia tahu lo gak suka, dia gak akan melakukan itu men".


Glek.... "Akh.. keras juga nih minuman" monolog Ardi setelah menenggak satu sloki lagi.


"Lying is lying, it's never okay"


Dimas hanya mengangguk atas ucapan Ardi, dia harus segera mengambil sikap terkait hubungannya ke depan, usianya dan Namira sudah sangat matang untuk berumah tangga, hanya ada dua pilihan untuk Dimas saat ini yaitu memiliki atau mengikhlaskan.