
"Lucu sekali hidup ku" cicit Namira sembari menatap nanar hamparan rumput di depannya, di sampingnya Dimas terduduk sembari menunduk dalam.
"Kamu punya saudara laki laki kan Dim?" Tanya Namira.
Dimas mengangguk pelan.
"Jika kamu dan saudaramu mencintai wanita yang sama, kamu akan memilih mengalah atau kamu berusaha mendapatkannya untuk kebahagiaanmu?" Namira menatap wajah Dimas "Angkat kepalamu dan tatap mataku Dim!" Tegas Namira.
Dimas mengangkat kepalanya, walaupun terasa berat Dimas akhirnya berani menatap mata Namira.
Huh.... Dimas menghela nafas berat, sedang kengumpulkan kalimat terbaik untuk menjawab pertanyaan Namira.
"Mungkin gue gak perlu mengalah atau mendapatkan wanita itu" Namira menautkan alisnya menunggu Dimas melanjutkan bicaranya "Karena saudara gue pasti akan mengalah buat kebahagiaan gue" lanjutnya.
"Kamu benar".
Deg ..... hati Dimas tiba tiba terasa sakit, udara di sekitarnya terasa habis hingga membuat nafasnya terasa sulit, Dimas baru saja menyadari jika jawabannya tadi bisa membuat hubungannya berakhir.
"Mir maksud gue"Dimas tergagap tidak dapat melanjutkan kalimatnya, tatapan mata Namira seakan menohok hatinya.
"Kalau aku melakukan hal yang sama apa yang akan terjadi sama kamu Dim?" Tanya Namira dengan mimik wajah serius.
"Ma... maksudnya?" Tanya Dimas, sesungguhnya Dimas sudah tahu maksud pertanyaan Namira, hanya saja dia belum siap bahkan tidak siap untuk menerima kenyataan selanjutnya.
"Kamu pasti sudah tahu maksud ku" Namira memberikan senyum manis dari bibirnya, senyuman yang biasanya terasa damai bagi Dimas ketika melihatnya, namun saat ini senyum Namira sungguh menyayat hatinya hingga menimbulkan luka yang sangat dalam.
"Mir" Dimas menggenggam erat tangan Namira.
"Apakah seorang kakak tidak boleh egois demi kebahagiaannya sendiri?" lirih Dimas dengan wajah yang sudah mulai terlihat sendu.
"Boleh" Namira mengangguk pelan, secercah harapan muncul untuk Dimas.
"Tapi mungkin itu untuk orang lain bukan untuk ku".
Deg..... ucapan Namira seakan memberi vonis mati bagi Dimas.
"Boleh gue minta satu hal Mir" Dimas memohon melalui sorot matanya.
Namira masih membisu, belum menjawab pertanyaan Dimas, perlahan Namira melepaskan genggaman tangan Dimas.
"Sebelum aku menjawab boleh aku bertanya satu hal?"
Dimas menatap wajah Namira sesaat kemudian mengangguk lemah.
"Apakah kamu sudah memiliki rencana dengan ku di masa depan?" Tanya Namira.
Dimas mengangguk "Iya" ucapnya singkat.
"Lalu apakah kamu sudah memiliki rencana tanpa ku di masa depan?"
Dimas kembali mengangguk, Namira tersenyum tipis.
"Awalnya gue hanya punya satu rencana dan tujuan hidup" Dimas menatap lekat mata Namira "Lo Namira!, lo rencana dan tujuan hidup gue ke depannya, Tapi setelah gue bertemu dengan Dinda terakhir kali, saat itu juga gue sudah membuat rencana masa depan tanpa lo".
Namira mengerutkan keningnya mendengar ucapan Dimas yang terakhir.
"Kamu ketemu Dinda?" Dimas mengangguk "Kapan?" Lanjut Namira.
Dimas kemudian menceritakan pertemuan terakhirnya dengan Dinda, respon Dinda ketika Dimas meminta maaf tak lupa dia sampaikan, apalagi ucapan Dinda yang terang terangan akan menentang hubungan dirinya dan Namira.
"So, apa rencana hidup mu tanpa aku Dim?"
"Gue akan fokus belajar dan mewujudkan mimpi gue jadi dokte" ucap Dimas dengan yakin.
Namira terkekeh pelan "Kamu ingin menepati janji mu pada Anna?" Tanya Namira, Dimas sebelumnya pernah bercerita jika dia pernah berjanji akan menjadi dokter dan menyembuhkan Anna ketika dulu Anna sakit, namun Dimas merasa tidak perlu lagi menepati janjinya itu karena Anna juga telah pergi, tapi saat itu Namira berusaha meyakinkan Dimas untuk tetap menepati janji pada Anna, karena laki laki yang di pegang adalah ucapanya.
"Bukan karena janji pada Anna, jadi dokter bukan lagi sebuah janji tapi sebuah mimpi bagi gue" elak Dimas.
"Lalu?"
"Gue gak mau ada Dimas Dimas lain yang terpuruk karena kehilangan Anna, karena belum tentu mereka akan bertemu dengan Namira yang lain untuk membantunya bangkit".
Namira tersenyum lebar mendengar jawaban Dimas, dia bisa melihat ketulusan di mata Dimas.
"Oke aku paham" ujar Namira "Lalu hal apa yang kamu minta sama aku?" Tanya Namira.
Dimas menghembuskan dan menarik nafas beberapa kali, dia tengah menyiapkan dirinya untuk mendengar jawab Namira.
"Boleh gue minta lo egois kali ini demi kebahagiaan kita atau tepatnya demi kebahagiaan gue?" Kristal bening mulai mengembun di mata Dimas, permintaan yang sangat Dimas harapkan untuk bisa di kabulkan.
"Apa kamu yakin mau mendengar jawaban itu sekarang?"
"Apa jawabannya akan menyakitkan?" Tanya Dimas mulai ragu.
"Yang pasti akan ada yang tersakiti dari jawaban aku"
Dimas tidak siap, sangat tidak siap untuk mendengar jawaban dari Namira.
"Kalau gue gak siap dengar jawaban lo sekarang, apa lo masih mau jawab permintaan gue di lain waktu?" Pinta Dimas dengan penuh harap
Namira menggeleng.
"Tidak ada lain waktu, tapi aku mungkin akan menjawabnya di kehidupan kedua atau di dunia pararel yang kamu harapkan itu ada"
"Apa lo bakal jawab ya di waktu atau dimensi yang lain itu?"
"Kenapa kamu tanya begitu?"
"Kalau jawaban lo iya di waktu dan dimensi lain, gue akan lebih senang lo gak jawab permintaan gue sekarang".
Namira tersenyum, dia seka air mata yang baru saja mentes membasahi pipi Dimas, Namira kemudian menarik Dimas untuk berdiri lalu dia memberi pelukan pada Dimas, pelukan yang akan sangat dia rindukan pelukan yang mungkin terakhir kalinya karena kebodohannya sendiri yang tidak berani mengambil keputusan.
"Jika suati hari kamu tidak bisa hidup bahagia datang lah padaku Dim, tapi jika saat kamu datang dan menemukan ku sudah bahagia lihat lah dari jauh dan carilah kebahagiaan baru".
"Ada seseorang pernah berkata cinta tahu kemana dia harus pulang". ucap Dimas menirukan perkataan Namira tempo hari.
"Maka dari itu pulanglah kemana seharusnya kamu pulang Dim".
"Jika tempat gue pulang adalah lo?"
"Aku akan membukakan pintu jika hal itu terjadi, so biarlah waktu yang menjawab".
Namira berjalan menjauhi Dimas, Dimas segara membalik tubuhnya untuk melihat kepergian Namira, tidak ada lagi air mata, Dimas mengantar kepergian Namira dengan senyum.
"Gue akan tagih jawaban lo, gue akan tagih semua janji lo, di masa depan, di kehidupan kedua atau di dunia paralel sekalipun Mir, gue akan memperjuangkan lo di masa depan Mir" ucap Dimas dalam hati sembari matanya tidak pernah lepas menatap punggung Namira yang semakin jauh.