
Dimas merasa sangat bahagia, semua yang ada dalam hidupnya seperti yang dia harapkan, memiliki kekasih yang sangat pengertian, di tambah karirinya yang semakin menanjak, semakin hari Dimas semakin yakin untuk masa depannya bersama Namira, semua yang Namira lakukan membuat rasa khawatir dalam jati Dimas berkurang sedikit demi sedikit.
"Aku akan mendapat promosi jabatan" ucap Dimas dengan wajah penuh rona kebahagiaan.
"Oh ya, selamat sayang" Namira memeluk Dimas dan memberikan kecupan di pipinya.
"Tapi mungkin beberapa bulan ke depan aku tidak memiliki banyak waktu dengan mu" ucapnya sendu.
"Aku bisa mengerti sayang, semua demi masa depan kita"
"Kita?" goda Dimas.
"Ishh" Namira merajuk "Oke demi masa depan kamu" ketusnya.
Dimas tersenyum geli melihat tingkah Namira.
"Hahahaha" terbahak "Kalau kamu merajuk kamu semakin cantik Mir" goda Dimas sembari mencolek dagu Namira.
"Gak mempan gombalan mu" sinis Namira.
"Ah masa" Dimas mencubit hidung dan pipi Namira dengan gemas "Kalau ini pasti mempan" Dimas menggelitiki Namira, Namira langsung tertawa geli dan meminta ampun.
"Ampun sayang" Namira berusaha lepas dari Dimas "Ahahaha, udah ampun ampun" tertawa lepas.
Dimas meciumi pucuk kepala Namira beberapa kali, sungguh dia telah jatuh cinta kepada Namira untuk kesekian kalinya, meskipun dalam hatinya masih ada sedikit keraguan namun semua perhatian Namira dan ketulusannya perlahan lahan mampu mengikis hal tersebut.
"Sayang nanti malam aku ada acara di luar" Namira memotong steak kemudian menyuapi Dimas.
"Kemana?" Tanya Dimas seblum memakan steak yang di sodorkan oleh Namira.
"Hanya acara sama rekan rekan dosen ku saja" Dimas mengangguk, di pikirannya langsung terbersit ajakan Leo pada Namira waktu itu di kantin.
"Perlu aku antar?" tawar Dimas, Namira terdiam sesaat seperti sedang mencari sebuah alasan untuk menolak.
"Bukan kah kamu ada operasi"
Dimas sempat bercerita jika malam ini ada operasi, walaupun akhir pekan tapi dia harus tetap melakukan operasi demi memenuhi syarat untuk mendapat promosi jabatan.
"Hanya mengantar mu saja tidak akan mengganggu jadwal operasiku" terang Dimas.
"Tapi aku takut kamu nanti terlalu lelah sayang"
Dimas menatap Namira dengan penuh rasa curiga, Namira yang biasanya selalu antusias jika Dimas menjemput atau mengantarnya tapi kini seolah berusaha menolaknya.
"Kamu pergi dengan siapa?" Tanya Dimas sembari menatap Namira dengan intens.
"Leo" lirih Namira
Huh....... Dimas menghela nafasnya.
"Baiklah" Dimas mengangguk.
Namira tersenyum.
"Tapi aku minta satu hal boleh?" Pintanya dengan tagapan serius.
"Kenapa serius begitu" ucap Namira "Beberapa hal pun aku berikan jika aku mampu sayang" lanjutnya.
"Kenapa?"
"Apa perlu alasan?" Namira mengangguk.
Dimas kemudian menceritakan keresahannya, dia merasa jika tatapan yang Leo berikan pada Namira memiliki maksud lain, bukan hanya sebuah tatapan seorang teman untuk temannya melainkan tagapan seorang laki laki yang mendamba wanitanya.
"Hehehe" Namira terkekeh "Kami sudah berteman lebih dari 10 tahun sayang, jadi kamu tidak perlu curiga seperti itu" ucap Namira tanpa menghilangkan senyum di bibirnya.
Huh..... menghembuskan nafasnya kasar
"Feelingku biasanya tidak pernah salah Mir".
"Sayang" Namira mengelus wajah Dimas "Kamu percaya padaku kan?" Namira berusaha meyakinkan Dimas.
"Tapi perasaanku mengatakan aku harus waspada terhadapnya"
"Maka dari itu tanam kepercayaan dalam hatimu sayang" ucap Namira lembut, terlihat keyakinan dalam mata Namira.
"Setidaknya berteman sewajarnya, aku tidak mau kenyamanan hadir diantara pertemanan kalian"
Namira mengangguk.
...****************...
Dimas terus fokus dengan pekerjaannya, dia hampir tidak memiliki waktu dengan Namira walau hanya untuk sekedar makan malam bersama, Dimas hanya menyempatkan waktu untuk mengantar dan menjemput Namira, terkadang Dimas malah tidak bisa menjemput Namira karena pekerjaannya yang banyak.
Hubungannya dengan Namira akhir akhir ini berjalan datar tanpa ada sesuatu yang istimewa, komunikasi keduanya lebih sering dilakukan melalui ponsel.
"Aku besok free, bisa kita keluar" ketik Dimas di aplikasi pengirim pesan.
"Besok aku ada seminar sayang, maaf ya" balas Namira, Dimas pun hanya membalas dengan emot tersenyum.
Dimas kembali fokus dengan pekerjaannya, dia harus menyelesaikan semuanya malam ini supaya besok tidak ada pekerjaan yang mengganggunya saat menikmati waktu akhir oekan yang jarang dia dapatkan.
Pagi hari.......
Dimas terbangun ketika matahari sudah berada cukup tinggi, waktu libur yang jarang dia dapatkan membuatnya sedikit bermalas malasan hari ini, di tambah Namira yang tengah ada kesibukan membuatnya malas walau hanya sekedar bangun dari tempat tidurnya.
Kruk...
Kruk...
Kruk...
Bunyi dari perutnya yang tengah meminta haknya memaksa Dimas harus bangkit dari pembaringannya, dia kemudian berjalan gontai menuju ke dapur.
"Ah... sial" umpatnya ketika tidak menemukan apapun yang bisa di makan, Dimas yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit membuatnya tidak pernah memperhatikan kondisi dapurnya.
"Bernostalgia seperti saat masih single sepertinya asik" gumam Dimas sembari melangkah menuju kamar mandi.
Sebelum kehadiran Namira seperti saat ini Dimas memang lebih banyak menghabiskan waktu dengan kesendiriannya, entah itu makan di restoran atau iseng iseng nongkrong di mall.
Dimas sudah rapi menggunakan pakain santai, dia kemudian turun ke bawah menuju parkiran, setelah itu dia langsung melajukan mobilnya ke caffe favoritnya yang sudah lama tidak dia kunjungi.
Dimas baru saja berhenti di parkiran caffe, matanya langsung menangkap sosok wanita yang sangat dia kenali sedang tertawa bersama laki laki yang ingin dia jauhkan dari wanitanya, Namira terlihat sedang tertawa bahagia bersam Leo, Leo bahkan sesekali mencubut gemas pipi Namira.