
Ardi berhasil meloby murid kelasnya untuk bertukar kelas dengan Amar dan Dimas, walaupun dengan proses yang tak mudah, the bad boys dan Anna berada di kelas yang sama, hal yang membuat Dimas sangat semangat, setiap pagi ada senyum manis di bibir Anna, pelukan hangat yang selalu menyambutnya, usapan lembut di kepala yang tak akan pernah Dimas lupakan.
Di kelas baru itu Dimas duduk tepat di belakang Anna bersama Amar, teman sebangkung yang akan menemaninya di tahun terakhir dia mengenyam pendidikan, kedua sahabat karibnya dengan setia duduk di belakang Dimas bak pengawal yang tidak pernah meninggalkan sang komandan.
Dimas sering kali menjahili Anna dengan mencolek bahu Anna dari belakang, kadang tiba tiba Dimas memainkan rambut Anna yang sangat indah, kadang Dimas sangat romantis mengikat rambut Anna dengan ikatan ekor kuda yang menjadi favoritnya.
"Men kantin yok" ajak Ardi bersama Noval yang berdiri di samping Dimas.
Dimas hanya menggeleng, matanya kembali fokus menatap bangku kosong di depannya.
Amar hanya memberi kode melalui matanya pada Ardi, Ardi mengangguk paham, sudah satu bulan ini Amar tetap berada di kelas menemani Dimas tanpa sekalipun beranjak jika Dimas tidak beranjak.
Beberapa menit kemudian Ardi dan Noval datang sembari membawa dua kantong plastik yang berisi makanan dan minuman, dia kemudian menyerahkan beberapa makanan ringan dan minuman untuk Amar dan Dimas.
Sudah satu bulan ini the bad boys tidak pernah menyambangi kantin bunda untuk nongkrong, mereka hanya datang untuk memesan makanan dan minuman kemudian kembali ke kelas dan menikmati makanan itu di dalam kelas.
"Minum men" Amar menyerahkan sebuah botol berwana cokelat, minuman kesukaan Dimas.
Dimas menerima pemberian Amar setelah itu dia teguk, lalu kembali fokus menatap bangku kosong di depannya, sudah satu bulan terakhir menatap bangku kosong itu menjadi rutinitas Dimas.
Bangku yang penuh dengan kenangan, Dimas tak mengizinkan seorang pun untuk duduk di sana, tidak ada yang bisa menggantikan posisi itu, sampai kapan pun tidak akan ada yang bisa.
Memori kepalanya memutar bayangan beberapa bulan yang lalu, bayangan tentang wajah Anna, senyum manis Anna dan semua keindahan yang ada pada Anna, hingga bayangan wajah Anna yang terlihat pucat membuat Dimas meneteskan air mata.
"Men" Amar langsung menepuk pundak Dimas setelah melihat sang sahabat kembali terisak.
Sudah bukan hal baru Dimas tiba tiba terisak bahkan kadang Dimas tertawa dengan keras, semua tentang Anna tersimpan dengan rapi dalam memory Dimas.
"Kenapa harus gue men" ucap Dimas lirih, terlihat dengan jelas di wajahnya kesedihan yang begitu dalam.
Amar, Ardi dan Noval hanya diam, tidak tahu harus berkomentar apa, tidak tahu harus berbuat apa untuk menjawab pertanyaan Dimas, pertanyaan yang tidak bisa di jawab oleh siapa pun termasuk Dimas itu sendiri.
"Tuhan lebih tahu mana yang terbaik buat lo" ucap Ardi memecah keheningan.
"Hahahaha" Dimas tertawa keras "Padahal gue pernah minta sama Tuhan, gue pernah memohon supaya tuhan mengizinkan gue untuk menentukan takdir gue sendiri, gue memohon supaya Tuhan menjadikan gue sebagai sutradara di dalam skenario hidup gue"
Tes.....
Air mata menetes dari pelupuk mata Noval, wajah dinginnya hilang berganti dengan ekspresi sendu, dia adalah orang yang ikut merasakan sakit yang Dimas rasakan, dia adalah salah satu orang yang berdiri di samping Dimas ketika Dimas memaki Tuhan.
The bad boys kembali terdiam tidak ada yang mengeluarkan suara, hanya deru nafas dan isakan lirih Dimas yang terdengar, Dimas benar benar hancur, semangat hidupnya hilang bersama sang kekasih yang telah pergi.
"Apa Tuhan gak ada kerjaan sehingga dia benar benar fokus sama kehidupan gue, apa Tuhan sedang tersenyum di sana melihat gue kaya gini men" ucap Dimas dengan lelehan air mata yang mengucur deras sampai terjatuh di bajunya.
Ingatanya kembali memutar segala kenangan tentang Anna, janji Dimas yang di ucapkannya sembari menggenggam erat tangan Anna, telinganya yang masih bisa mendengar seluruh harapan Anna, bibirnya yang masih bisa merasakan kehangatan kepala Anna.
"Semesta tak pernah bercanda tentang yang baik pasti pergi lebih dulu"
Semua terlukis jelas di kepala Dimas, semua tentang Anna, wanita terindah, wanita yang sangat sempurna di matanya, tidak pernah Dimas menemukan kekurangan Anna, tak sekalipun Dimas menjumpai hal yang tidak mengenakkan pada diri Anna.
Nirvanya Attalia sebuah nama yang melukiskan semua keindahan, sebuah nama yang memiliki arti kesempurnaan bagi Dimas.
"Apa lo bahagia di sana Ann, apa lo bisa bahagia tanpa gue di sana Ann, kenapa lo gak milih buat bahagia sama gue di sini Ann? kenapa lo pilih bahagia di sana Ann? kenapaaaaa!" pekik Dimas yang berakhir dengan kepanikan ketiga sahabatnya yang langsung membopong tubuh Dimas.