
Reni masih mengingat dengan jelas wajah menjengkelkan Dimas saat dia memberi kabar bahagia padanya, kabar gembira yang akan menjadi pelengkap kebahagiaan kehidupan rumah tangga mereka.
"Sayang" Reni menggoncang tubuh Dimas pelan.
"Sayang bangun ish" kesal Reni, Dimas bahkan tidak memberi respon apapun, dia masih terlelap dalam mimpi indahnya.
"Dimas bangun!" Dimas seketika menggeliat setelah mendengar suara yang memekakkan telinganya, persis seperti suara sang mama dulu saat membangunkannya untuk berangkat sekolah.
"Iya ma" rancau Dimas.
"Sayang ish, buka matamu dulu malah merancau" Reni mencubit dengan keras hidung Dimas.
"Ah apa sih Ren" Dimas mengusap hidungnya "Aku baru tidur dua jam, kamu pagi pagi udah berisik aja! kenapa si?" kesal Dimas
"Duduk dulu" Reni menarik tangan suaminya.
"Kenapa?" tanya Dimas dengan kondisi setengah sadar, Dimas semalaman melakukan operasi yang sungguh menguras tenaga dan baru selesai pagi tadi.
"Kamu sebentar lagi akan jadi seorang ayah sayang" ucap Reni dengan penuh semangat, bola matanya berbinar dalam pikirannya sudah membayangkan ekspresi bahagia yang terpancar dari wajah suaminya.
Dimas pun seketika membuka matanya, dia menautkan alisnya, ekspresi wajahnya datar, tidak menunjukkan kebahagiaan atau rasa suka cita, matanya kosong menatap Reni.
"Oke" jawab Dimas sembari kembali menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang, dalam hitungan detik dia langsung kembali pulas.
"Dimassssss" Reni benar benar kesal dengan suami menjengkelkannya itu.
Reni mendekatkan bibirnya ke telinga Dimas, dia yakin Dimas akan langsung bangun setelah itu.
"Dimas aku hamil, kalau kamu tidak bangun sekarang aku bersumpah tidak akan membiarkan mu tidur nyenyak sampai aku melahirkan".
Alam bawah sadar Dimas langsung merespon, matanya terbuka secara tiba tiba.
"Ulangi lagi!" perintah Dimas sembari menatap mata Reni.
"Aku hamil" Reni tersenyum lebar.
"Ulangi!"
"Aku hamil Dimas! kamu sebentar lagi akan jadi seorang ayah" Teriak Reni sekuat tenaga.
Pintu kamar Reni tiba tiba terbuka, terlihat orang tua Reni masuk dengan wajah panik, mereka yang tengah bersantai di ruang tamu terkejut mendengar teriakan Reni, lalu langsung berlari menuju kamar anak mereka.
"Ada apa Reni? tanya sang ibu dengan penuh rasa khawatir.
Dimas yang tadi dalam posisi duduk, tiba tiba langsung melompat.
"Kamu ngapain lompat tiba tiba? ngagetin tau heh!" omel Reni.
Dimas tidak memperdulikan omelan sang istri, dia langsung menghampiri kedua mertuannya yang sedang berdiri dengan wajah khawatir bercampur bingung.
Dimas langsung memeluk erat tubuh keduanya, sembari air mata keluar dari matanya.
"Kamu kenapa nak tiba tiba menangis?" tanya ibu Reni.
"Kenapa kamu?" ayah Reni pun tidak kalah bingung.
Dimas tatap wajah kedua mertuanya bergantian, dia mengembangkan senyum lebar di balik tangis bahagianya.
"Reni hamil ayah!"
"Reni hamil bu!"
Dimas menggoncang tubuh kedua orang tua Reni karena mereka termenung saja, Reni yang melihat hal itu mengulum senyum.
"Reni hami ayah ibu!!!!" teriak Dimas dengan keras, ketiganya kembali berpelukan dengan erat, kabar bahagia yang sudah sekian lama mereka nantikan, setiap hari mereka panjakan doa pada Tuhan untuk hal itu, hari ini Tuhan mengabulkan permohonan mereka.
Selama 9 bulan Dimas benar benar mencurahkan semua perhatiannya pada Reni, dia bahkan rela begadang setiap hari hanya untuk memastikan keadaan istri dan anaknya baik baik saja, rasa lelah karena bekerja langsung hilang seketika ketika melihat wajah Reni dan perutnya yang kian hari kian membuncit.
"Sayang tidurlah" ucap Reni dengan lembut ketika dia terbangun karena merasakan geli ketika Dimas mengelus perutnya.
"Ssttt jangan berisik, si cantik baru saja tenang" ucap Dimas dengan suara lirih, Reni yang melihat hal itu tersenyum lebar, dia usap lembut kepala sang suami.
Dimas sudah memastikan jika anaknya berjenis kelamin perempuan berdasarkan hasil USG, dia sudah tidak sabar menantikan kelahiran buah hatinya yang hanya tinggal menghitung hari, dia bahkan sudah menyiapkan nama spesial bagi anaknya tentu saja dengan persetujuan Reni.
"Sayang apa kamu sudah menyiapkan nama untuk anak kita?" tanya Reni ketika baru saja tiba di rumah setelah melakukan USG.
Dimas mengangguk mantap.
"Nirvanya Attalia" ucap Dimas tanpa ragu.
Reni tersenyum lebar, dia langsung menyetujui usul Dimas untuk memberi nama anaknya sama dengan nama seseorang yang begitu spesial bagi mereka berdua.
"Semoga semua sifat Anna bisa menurun ke anak kita sayang" ucap Reni dengan tulus, Dimas mengangguk setuju.
Bagi mereka berdua Anna adalah lambang kesempurnaan bagi seorang wanita, semua tingkah lakunya, tutur katanya, kelembutannya, mereka berdua seakan tidak menemukan celah untuk bisa melihat keburukan pada diri Anna.
Kegaduhan terjadi di depan ruang bersalin pada rumah sakit tempat Dimas bekerja, terlihat puluhan orang tengah menunggu di depan ruang persalinan itu, wajah wajah cemas dengan penuh harap sembari terus melantunkan doa untuk kelancaran proses persalinan Reni.
The bas boys dan keluarga kecilnya di tambah keluarga Dimas dan orang tua Reni seketika tersenyum lebar ketika Dimas keluar dengan membawa bayi mungil di tangannya, terlihat derai air mata bahagia mengalir dari mata Dimas, dia tatap satu persatu orang yang ada di sana sembari mengembangkan senyum lebar.
"Terimakasih atas doa tulus yang kalian panjatkan, hari ini telah lahir anak pertama kami Nirvanya Attalia" Ucap Dimas dengan senyum mengembang di wajahnya.
Dimas kemudian menyerahkan bayi mungil itu pada mamanya, dia kembali masuk ke dalam untuk melihat kondisi sang istri yang baru saja berjuang mempertaruhkan hidup dan matinya demi kehidupan baru.
Dimas genggam erat tangan Reni, dia seka keringat yang membasahi wajah cantik istrinya, dia kecup kening sang istri sekian lama.
"Terimakasih telah berjuang sayang"
Reni tersenyum mengembang, untuk pertama kalinya Dimas memanggilnya sayang setelah sekian lama mereka menikah, Dimas memang bukan type orang yang mau memanggil pasangannya dengan panggilan spesial, dari dulu dia seperti itu, saat Reni memintanya menggil dirinya dengan panggilan sayang Dimas hanya menjawab dengan jawaban yang sangat menjengkelkan, lidah ku kelu, jawaban yang membuat Reni merajuk berhari hari.
"Melahirkan anak kita adalah kebahagiaan yang tidak dapat di ganti oleh apapun sayang" Reni mengelus wajah laki laki yang sangat luar biasa itu.
Mereka berpelukan dengan penuh cinta, kehadiran Anna menjadi pelengkap keluarga mereka, secara tidak langsung Tuhan telah menjawab doa Dimas di masa lalu ketika dia baru saja kehilangan Anna.
..."Tuhan kembalikan Anna dalam pelukanku, aku tidak butuh fisik yang sama, aku hanya butuh sifat dan semua kebaikan Anna serta ketulusannya, entah itu di masa depan atau di kehidupan kedua"....
Hari ini Tuhan telah mengembalikan Anna dalam hidup Dimas, malaikat kecil yang Dia kirimkan untuk menggantikan seorang yang telah Dia ambil dari hidup Dimas.
...I AM HOME END...
Filosofi cinta Namira
"Cinta akan menemukan jalannya sendiri untuk pulang, sesulit apapun itu, cinta akan kembali ke rumahnya".
Filosofi hidup Dimas
"Janji adalah harga diri seorang laki laki".
Filosofi buaya Ardi
"Jangan merusak sesuatu yang baik karena yang sudah lo rusak gak akan bisa kembali seperti semula dengan cara apapun".
Filosofi jodoh Noval
"Jangan pernah lagi hancur karena cinta men, kalau dia memang jodohmu sejauh apapun kamu pergi pasti akan kembali bertemu, tapi jika dia bukan jodohmu seerat apapun kamu menggenggamnya pasti akan terlepas".
Filosofi bersyukur Amar
"Kita tidak pernah tahu betapa berharganya apa yang kita miliki saat ini, sampai Tuhan mengambilnya dari kita. Jadi, jika kita tidak bisa memiliki apa yang kita cintai, cobalah untuk mencintai apa yang kita miliki".