
Pelajaran di mulai seperti biasa, tak sekalipun the bad boys membahas masalah antara Dimas dan Dinda saat di sekolah, karena menurut mereka waktu dan tempat tidak pas untuk berfikir jernih dalam mecari solusi.
Waktu berjalan dengan cepat, tak terasa jam pulang sekolah telah tiba, Dimas yang biasanya sangat bersemangat dan langsung bergegas meninggalkan kelas hari ini nampak malas, Dimas malah memilih merebahkan kepalanya kembali di atas meja, ketiga sahabatnya menatap heran ke arahnya.
"Tumben lo gak semangat men?" Tanya Amar.
Dimas hanya menggeleng.
"Lo gak jemput Namira?" Tanya Ardi.
Dimas kembali menggeleng.
"Lo kenapa men?" Noval bertanya dengan mimik wajah serius, Dimas mengangkat wajahnya dan menatap ketiga sahabatnya dengan tatapan sendu.
"Berat kayanya men, kita bicara di markas aja" usul Amar melihat wajah Dimas yang lesu dan tatapan sendu.
"Gas" jawab Noval dan Ardi, sementara Dimas hanya mengangguk lemah.
Setibanya di rumah Amar mereka langsung masuk ke dalam kamar Amar, kemudian duduk di posisi nyaman masing masing, tanpa menunggu lama Noval langsung membuka diskusi.
"Lo kenapa men?" Tanya Noval dengan suara tegas.
"Dinda" jawab Dimas lirih.
Ketiganya langsung membuang nafas berat, hanya dengan menyebut nama Dinda ketiganya langsung tahu masalah apa yang saat ini membebani Dimas.
"Lo udah ada banyangan apa yang lo bakal lakuin ke depannya?" Tanya Noval.
Dimas menggeleng lemah.
"Terus mau lo apa sekarang?" Giliran Ardi bertanya.
"Gue juga gak tahu" jawab Dimas lirih.
"Lo masih mau mempertahankan hubungan lo sama Namira?" Tanya Amar.
Dimas mengangguk.
"Maka dari itu lo harus berjuang men" ucap Amar dengan penuh semangat.
"Menurut kalian lebih sakit mana" Dimas menarik nafas dalam "Diam saja lalu kehilangan atau berjuang tapi ujung ujungnya tetap kehilangan?" Tanya Dimas dengan tatapan penuh rasa putus asa.
"Menurut gue pemikiran lo salah men" Ardi dengan mode serius mulai berbicara, ketiga sahabatnya langsung memperhatikannya dengan seksama.
"Pertama" Ardi mengangkat satu jarinya ke udara "Kalo lo diam aja udah pasti lo bakal kehilangan" Noval dan Amar mengangguk setuju, Dimas hanya memasang wajah datar.
"Tapi" Ardi menatap tajam Dimas "Kalau lo berjuang ada dua kemungkinan, lo keluar sebagai pemenang atau lo kalah dengan terhormat" ucapnya dengan penuh wibawa, Amar dan Noval melihat Ardi dengan tatapan penuh kekaguman, sedangkan Dimas.
"Itu cuma kata kata mutiara, gak berlaku buat gue" sinis Dimas.
Ardi hanya tersenyum kecut melihat sang sahabat yang sudah putus asa dan seakan tidak punya harapan lagi.
Semua terdiam, sepertinya sangat susah kali ini untuk mencari solusi, Amar dengan analisanya tidak bisa menemukan solusi, Noval dengan pemikiran bijak juga tak ada jalan keluar yang terucap, Ardi yang sudah mengerahkan semua kemampuannya dalam dunia penaklukan wanita juga tak bisa memecahkan masalah.
"Coba lo dekati Dinda lagi, ambil hatinya men" usul Noval.
Dimas menggeleng "Udah dua kali gue sia siain kesempatan dari Dinda, susah buat dapat kesempatan ketiga" jawab Dimas.
"Come on men, ada pepatah jalanan yang mengatakan 'Tatap matanya sentuh hatinya maka kau bisa dapatkan mek*nya" ucap Ardi sembari menaik turunkan alisnya berusaha memecahkan ketegangan.
Berhasil, Dimas seketika bisa tersenyum mendengar gurauan dari sahabat laknatnya itu.
"Lo emang benar benar brengs*k" umpat Dimas "Tapi gue suka" lanjutnya seraya tersenyum lebar.
"Gue akan terapkan pepatah itu pada Namira" ketiga orang itu seketika melotot tajam pada Dimas.
"Jangan gila lo mau ambil perawannya Namira" sungut Amar.
"Gak lah bangs*t" ketus Dimas "Gue mau ngeyakinin Namira kalau gue pantas dia pertahankan, gue akan buat Namira biar gak mempermasalahkan masa lalu gue sama Dinda" lanjut Dimas dengan penuh keyakinan.
"Gue suka gaya lo men" Ardi hendak memeluk Dimas.
"Homo bangs*t" Dimas langsung mendorong tubuh Ardi menjauh.
Meskipun tidak mendapat solusi yang bisa memecahkan masalahnya hari itu, setidaknya obrolan Dimas dengan ketiga sahabatnya mampu membuatnya membuka pikiran, jika masih ada kesempatan sebelum kehancuran itu terjadi.