I Am Home

I Am Home
Mengikhlaskan



Setelah beberapa hari di rawat Dimas kembali sehat seperti sebelumnya, keceriaan Dimas kembali seperti semula, tidak ada lagi beban yang menempel di hatinya, kini dia sudah benar benar bisa mengikhlaskan kepergian Anna.


"Kemana men?" tanya Amar "Buru buru banget" lanjutnya ketika melihat Dimas membereskan perlengkapan sekolahnya dengan sedikit tergesa gesa.


"Tugas negara" jawab Dimas sembari memasukkan buku ke dalam tas.


"Pacaran mulu lo" cibir Amar.


"Syirik mulu lo" sungut Dimas.


Setelah semuanya masuk ke dalam tas Dimas berpamitan kepada para sahabatnya, dia juga berpamitan pada Daisi, mereka tidak pernah lagi membahas masalah yang telah lalu, dan saling memaafkan satu sama lain.


"Val buruan lo iket Daisi, sebelum entar nyesal di ambil orang" ledek Dimas sembari berlari meninggalkan kelas.


Hubungan Noval dan Daisi terlihat hanya sebatas teman saja, Noval tidak pernah menunjukkan kedekatannya dengan Daisi ketika di sekolah, mungkin hanya Tuhan yang tahu bagaimana akhir dari hubungan itu, walaupun Noval sadar jika dia sudah jatuh hati pada Daisi tapi Noval tidak pernah berusaha lebih untuk mendapatkan Daisi.


Dimas baru sampai di sekolah Namira, dia menunggu di depan sekolah karena Namira bilang masih ada beberapa urusan di sekolah.


Beberapa saat kemudian telihat Namira keluar dari sekolah, Dimas melambaikan tangannya seraya tersenyum lebar menyambut kedatangan Namira.


"Silahkan masuk princess" Dimas membukakan pintu mobil untuk Namira, selepas pulang sekolah Dimas langsung menjeput Namira di sekolahnya, dia ingin mengajak Namira ke suatu tempat.


"Terimakasih" ucap Namira.


Dimas kemudian berlari mengitari mobil lalu masuk ke dalamnya.


"Kita mau kemana Dim? tanya Namira setelah Dimas melajukkan mobilnya.


"Nanti lo juga tahu" jawab Dimas penuh teka teki, mobil terus melaju dengan kecepatan sedang, hingga beberapa menit kemudian mobil membawa mereka sampai di tempat yang di tuju.


"Makam?" tanya Namira yang melihat hamparan makam di depannya berjejer dengan rapi.


"Kenapa kita kesini Dim?" Namira terus bertanya tapi Dimas hanya diam saja, setelah mereka turun dari mobil Dimas menarik Namira untuk mengikutinya.


Dimas terkesima beberapa saat, biasanya Dimas rutin mengunjungi makam Anna, bahkan hampir setiap hari ketika dalam keterpurukannya setelah kepergian Anna, tapi setelah dia menjalin hubungan dengan Daisi membuatnya seakan lupa untuk mengunjungi makam Anna, namun Dimas yakin jika ketiga sahabatnya lah yang rutin membersihkan makam Anna bahkan menanam berbagai macam bunga di sana.


"Nirvanya Attalia" gumam Namira membaca sebuah nama yang tertulis di batu nisan, Namira baru ingat jika ini adalah makam Anna karena dia dulu sempat mengantar kepergian Anna bersama Anggi.


"Kenapa kamu mengajakku ke sini Dim? tanya Namira setengah berbisik


"Sstt." Dimas menempelkan telunjuknya di bibir Namira.


"Anna" ucap Dimas lirih, tangan kirinya memegang erat tangan Namira sedangkan tangan kanannya memegang batu nisan.


"Kenalkan ini Namira, gue udah bahagia Ann setelah bertemu Namira, gue harap lo juga bahagia di sana" Dimas menyeka air matanya yang menetes, walaupun Dimas sudah ikhlas namun masih tersisa sedikit rasa sakit dalam hatinya, Namira mengeratkan genggaman tangannya berusaha memberi semangat untuk Dimas.


"Walau lo gak pernah bilang tapi gue tahu lo bertahan cuma untuk memastikan gue bahagia sebelum lo pergi Ann, walaupun akhirnya lo tetap pergi meninggalkan luka di hati gue"


"Hari ini gue datang Ann, walau gue gak tahu lo bisa ngelihat gue atau gak, tapi gue yakin lo bisa merasakan kalau gue udah bahagia sekarang, gue udah nemuin tujuan hidup gue Ann" Dimas melihat ke arah Namira dengan tatapan penuh kasih sayang, Namira tersenyum manis, dia kemudian mengusap punggung Dimas.


"Ann walau kita belum pernah ketemu tapi aku yakin kamu orang yang sangat baik, terimakasih sudah menjaga Dimas selama ini, selanjutnya aku janji akan menjaga Dimas kedepannya dan memastikan tidak ada lagi kesedihan dalam hidup Dimas". Namira berbicara dengan tulus.


Mereka terdiam beberapa saat, Dimas memejamkan matanya terlihat sedang berdoa dengan khusyu, Anna adalah nama yang akan selalu ada dalam hati Dimas dan menempati bagian di hati Dimas sebagai seseorang yang istimewa.


"Ayo" ajak Dimas setelah selesai memanjatkan doa.


Namira mengangguk kemudian dia bangkit lalu melangkah mengukuti Dimas yang berjalan di depannya, tidak ada lagi raut kesedihan di wajah Dimas, tidak terlihat sorot kekecewaan di matanya, Dimas yakin sudah menemukan kebahagiaannya kini.


"Gue janji akan jaga lo selamanya Namira" ucapnya sembari mengecup punggung tangan Namira.


"Semoga hanya maut yang memisahkan kita" jawab Namira sembari mengulum senyuman manis.


Keduan berjalan beriringan sembari menggenggam tangan satu sama lain dengan erat, walupun Dimas sudah merasa sedikit lega setelah bisa mengikhlaskan Anna, tetapi pikirannya masih di bebani dengan Dinda.