I Am Home

I Am Home
Mos 3



Dimas tengah duduk sendiri di kursi yang ada dalam ruang sekretariat OSIS, dua orang yang tadi mengantarnya langsung berpamitan pergi, mereka bilang akan menjemput anak baru itu, mereka juga meminta agar Dimas menunggu samapai Amar datang.


"Gak cape bikin masalah terus bang?" suara seorang wanita membuyarkan lamunan Dimas, Dimas terdiam sembari berfikir nada suara yang baru dia dengar terasa tidak asing di telinganya.


"Malah bengong bang". Dimas masih terdiam, dia menyelam ke dalam pikirannya, dia masih berusaha mengigat dimana dia pernah mendengar nada suara itu, siapa orang memanggilnya bang, suara itu terasa tidak asing di telinga Dimas.


"Ish nyebelin banget jadi orang" kesal Anita dengan suara manja, dia langsung duduk tepat di depan Dimas.


Dimas menatal lekat lekat wajah gadis yang ada di depannya, dia mengenalinya sebagai ketua OSIS, namun Dimas masih berusaha mengingatnya apakah dia pernah bertemu sebelumnya.


"Kenapa muka mu?" tanya Anita yang melihat Dimas mengerutkan keningnya dengan alis yang saling bertautan.


"Gue lagi mikir sesuatu".


"Apa?" tanya Anita penasaran.


"Coba lo panggil gue bang". pinta Dimas.


"Bang".


"Bukan bukan itu" serga Dimas "Lo panggil gue bang dengan nada suara yang pertama".


"Bang" Anita merubah intonasi suaranya lebih rendah dengan nada manja.


"Gue kaya pernah denger seseorang manggil gue bang persis sama suara lo yang manja itu" ucap Dimas yang di balas tawa renyah oleh Anita.


Anita kemudian menjelaskan dan membantu Dimas untuk mengingatnya, dia bicara jika memang pernah bertemu sebekumnya, tepatnya beberapa bulan yang lalu saat Anita tengah olahraga pagi di taman, dia saat itu melihat Dimas yang masih dengan tubuh gemuk berkulit hitam sedang duduk sembari mengatur nafasnya di bangku taman.


"Hahahaha" Dimas tertawa keras seakan baru saja menemukan harta karun.


"Ya ya gue inget lo, cuma gue gak kenal wajah lo soalnya waktu itu gue gak sempat merhatiin wajah lo" Dimas masih tertawa di sela bicaranya.


"Ya kamu sombong soalnya" Anita berbicara sedikit manja dengan nada yang dia gunakan saat pertama kali bertemu Dimas, padahal dalam kesehariannya di sekolah Anita berbicara dengan tegas dan suara lantang, dia hanya berbicara manja ketika di lingkungan keluarganya saja.


"Gue suka nada bicara lo yang manja dan terdengar Sensual" goda Dimas sembari mengedipkan matanya.


"Ih genit banget jadi orang" Anita membuang mukanya yang terlihat merona karena di goda oleh Dimas.


Mereka kemudian berbincang ringan, Dimas yang sekarang memiliki rasa percaya diri tinggi tidak segan segan untuk menggoda Anita, hal yang menyebabkan wajah Anita langsung merona, Dimas seakan menikmati rona wajah Anita.


"Jangan sering bikin masalah yang gak perlu ya bang, kamu harus bisa mengontrol emosimu ya" lirih Anita sembari memegang tangan Dimas, Dimas yang seakan terlena dengan keadaan hanya diam saja, dia bahkan reflek menganggukan kepala.


Tok..


Tok..


Tok...


Suara ketukan pintu mengakhiri perbincangan kedua orang itu, Anita bergegas berdiri dan kembali duduk di kursi kebesarannya sebagai ketua OSIS.


"Masuk" ucap Anita dengan suara tegasnya, Dimas terkesima, bagaimana bisa Anita langsung menjadi orang lain tiba tiba begitu pikir Dimas.


Amar masuk ke dalam ruang sekretariat setelah di persilahkan masuk, dua orang anggota OSIS terlihat mengikuti Amar di belakang, di tengah mereka ada satu orang anak baru yang tadi terlibat perselisihan dengan Dimas.


Setelah semua orang duduk Anita kemudian membuka diskusi tersebut, dia bertanya pada Dimas bagaimana kronologi kejadian yang sebenarnya, lalu Dimas menjelaskan kronologinya.


"Kenapa kamu bersikap seperti itu?" tanya Anita pada murid baru itu setelah Dimas selesai menceritakannya.


Huh....


Dimas membuang nafas kasar, tatapan teduh dari Anita seakan mampu melenyapkan ego Dimas, melalui gerakan bibir Anita meminta Dimas untuk meminta maaf.


"Sorry bro tadi gue emosi" ucap Dimas dengan gantle sambari mengulurkan tangannya, Rendi menyambut uluran tangan Dimas dengan senyum lebar.


"Gue yang minta maaf udah kurang ajar bang" ucap Rendi tulus seraya menjabat tangan Dimas.


Mereka pun keluar dari ruang sekretariat dengan senyum lebar karena sudah ada perdamaian antara Dimas dan Rendi tanpa perlu memperpanjang masalah.


Hari hari berlalu begitu cepat, tidak terasa MOS selama 3 hari berjalan dengan lancar, tidak ada kendala berarti setelah adanya kejadian ribut antara Dimas dan Rendi seakan menjadi peringatan bagi murid baru lainnya agar tidak membuat masalah, apalagi Disman yang di pimpin oleh Noval sangat tegas dalam menegakkan kedisiplinan para murid baru, sehingga membuat para murid baru tidak bisa berkutik atau membuat banyak masalah.


Acara penutupan MOS berlangsung dengan meriah, di warnai berbagai pertunjukkan juga pemilihan siswa siswi peserta MOS sebagai yang tercantik dan tertampan.


"Untuk siswa tertampan pilihan dari panitia jatuh pada Rendi X3" ucap MC yang di balas suara wuu dari para kaum adam.


"Untuk siswi tercantik jatuh pada Dinda X1"


Prok...


Prok...


Prok..


Suit... Suit....


Siulan dan berbagai macam pujian mengantar Dinda ketika naik ke atas panggung.


Semua mata tertuju pada dua orang di atas panggung yang sedang menerima hadiah berupa bunga, mata kaum adam menatap lekat wajah Dinda yang memang memiliki paras yang hampir sempurna, tak terkecuali Dimas dan Ardi yang tengah menatap dengan tatapan buaya.


"Udah gue tandain tuh men" ucap Ardi dengan membanggakan dirinya yang selama tiga hari sudah cukup dekat dengan Dinda.


"Liat aja nanti siapa yang bisa dapetin Dinda" tantang Dimas.


"Siapa takut".


MC melanjutkan acara setelah dua orang terpilih sudah menerima bunga, MC kemudian meminta dua orang itu untuk memberikan bunga pada panitia yang menjadi favorit mereka.


Rendi dengan cepat menyebut nama Anna, dia beralasan sebagai bentuk permintaan maaf karena pernah melakukan perbuatan yang kurang menyenangkan, Anna dengan malu malu naik ke atas panggung untuk menerima bunga dari Rendi.


"Oke Rendi sudah memilih kak Anna sebagai panitia favorit, sekarang Dinda memilih siapa ya?" ucap MC, "Silahkan Dinda" MC kembali menyerahkan mic pada Dinda.


"Pasti milih gue men" kata Ardi dengan sombongnya.


"Taruhan seminggu makan di kantin" tantang Dimas.


"Deal". Ardi langsung menyambut uluran tangan Dimas.


"Ehem, sebelumnya terimakasih pada kakak kakak panitia semua, dari banyak kakak panitia yang sangat baik pada Dinda, ada satu orang yang menarik perhatian Dinda meskipun tidak pernah berbincang langsung, orang itu.." Dinda mengedarkan pandangannya ke arah penonton "Kak Dimas" lanjutnya dengan suara lantang.


Ardi langsung melongo begitu Dinda menyebut nama Dimas.


"Hahaha, makanya gak usah kepedean" Cibir Dimas "Gue naik dulu bro, mulai besok lo bayarin makan gue dikantin" lanjutnya dengan senyum mengejek.


Ardi mengutuk dan memberikan sumpah serapah kepada sahabatnya, tapi di balik itu semua Ardi merasa sangat bangga akan perubahan Dimas saat ini.