I Am Home

I Am Home
Akal bulus buaya



The bad boys dan Rendi berjalan meninggalkan halaman belakang sekolah, destinasi yang mereka tuju adalah kantin bunda, Dimas dan Ardi masih sesekali berbincang, Ardi terus menerus mengingatkan Dimas terkait prinsip buaya mereka.


"Iya gue paham men" ucap Dimas sebal karena Ardi berbicara hal yang sama dari tadi.


"Biar omongan gue masuk kesini" Ardi menunjuk kepala Dimas "Makanya gue ngomong terus"


Mereka mengambil posisi masing masing saat tiba di kantin, kantin tidak terlihat begitu ramai karena kebanyakan murid sudah pulang sedari tadi.


"Hallo" ucap Dimas saat menerima panggilan telfon.


"Kamu udah pulang?" tanya seorang wanita di sebrang sana.


"Belum Nit, kenapa?"


Anita hendak meminta Dimas untuk mengantarkannya membeli suatu keperluan OSIS tanpa pikir panjang Dimas menyanggupinya, Anita bilang dia masih akan ada kegiatan dan akan pulang satu jam lagi.


"Oke cantik, jangankan satu jam satu abad pun gue tunggu buat lo" kata kata manis keluar dari mulut Dimas sebelum mematikan panggilan tersebut.


Mereka kembali bersenda gurau kebanyakan membahas tentang siswi cantik dari kelas satu, Rendi seakan menjadi sumber informan bagi Ardi.


"Mampus gue" Dimas menepuk jidatnya ketika melihat nama Anna terpampang di layar ponselnya.


"Iy.." belum selesai Dimas berbicara tiba tiba.


"Kamu lama banget Dimas, aku udah karatan nih nunggu kamu"


Dimas langsung menjauhkan ponsel dari telinga, suara cempreng Anna ketika marah cukup memekakan teling.


"Iya iya ini gue kesitu".


Tut... Dimas langsung mematikan panggilan tersebut.


"Men gue cabut dulu, lo tunggu di rumah Amar nanti gue kesitu".


"Mau kemana lo?" tanya Ardi yang melihat wajah panik Dimas.


"Gue lupa Anna nunggu di mobil". ucapnya seraya berlari meninggalkan kantin.


"Mampus" teriak the bad boys melihat Dimas yang panik.


Dimas segera menghampiri Anna yang terlihat sudah menekuk wajahnya sembari bersender di pintu sebelah kiri mobil.


"Sorry Ann tadi nemenin Ardi dulu" ucapnya ketika sudah sampai di tempat Anna berdiri.


"Kamu kalau udah sama mereka lupain aku, aku nunggu udah lama loh, kamu malah..."


Cup...


Dimas mengecup pipi Anna, Anna yang terkejut langsung diam dengan pipinya yang merona.


"Yuk masuk" Dimas membukakan pintu mobil, tanpa protes Anna langsung masuk ke dalam.


"Yes" pekik Dimas girang dengan seringai liciknya sembari berlari memutari mobil.


Sepanjang jalan Dimas terus menerus menggoda Anna untuk menghilangkan kesal di dalam diri Anna, Anna yang memang mudah di perdaya atau memang dimas yang sangat ahli dalam meluluhkan hati wanita.


"Mampir beli es cream dulu ya Dim" pinta Anna sembari mengulum senyum manisnya.


Dimas seketika panik, jika dia harus menuruti keinginan Anna tentu saja dia akan terlambat menjemput Anita, namun jika dia tidak menuruti keinginan Anna bukan tidak mungkin Anna akan kembali merajuk.


Tring... Ide licik kembali muncul di kepala Dimas


"Oke" jawab Dimas dengan seringai licik seperti biasa.


Dimas menginjak pedal gas lebih dalam, mobil melaju kencang, hal itu membuat Anna takut.


"Dim jangan ngebut aku takut" Anna bergelanyut manja di lengan Dimas.


"Gue lupa mau anter mama ke butik kalau gak ngebut nanti gak keburu waktunya buat lo beli es cream"


Anna terenyuh seketika, dia merasa menjadi wanita spesial bagi Dimas, bagaimana Dimas lebih mementingkan untuk menuruti keinginananya dan lebih memilih menunda janjinya dengan sang mama.


"Masuk perangkap"


"Gak papa Ann, gue antar lo beli es cream aja dulu"


"Beli es cream bisa besok besok"


"Bener?" Dimas tersenyum simpul "Gak ngambek?" ucapnya Dimas dengan nada dan mimik wajah bersalah.


"Iya gak papa beneran"


"Baiklah"


Akal bulus buaya mampu membuat Anna bertekuk lutut seketika.


...****************...


Tatapan sinis di tunjukkan oleh Amar dan Ardi ketika melihat Dimas dengan wajah tengilnya sedang berjalan ke arah mereka sembari menggandeng tangan Anita.


The bad boys masih setia menunggu di kantin, awalnya mereka hendak menunggu Dimas di rumah Amar, namun seketika rencana mereka pupus karena kunci rumah Amar berada di dalam tas, sedangkan tas Amar terbawa oleh Dimas.


"B*jingan" maki Ardi.


"Biad*b" Amar mengutuki Dimas.


Mereka langsung menyerang Dimas ketika Dimas sudah sampai di hadapan mereka, Amar langsung menjitaki kepala Dimas sedangkan Ardi menjengguti rambut Dimas, Noval hanya melirik sekilas melihat kelakuan ketiga sahabatnya sebelum dia kembali fokus menatap layar ponselnya.


"Temen gak punya akhlak" Amar.


"Temen gak punya adab" Ardi.


Amar dan Ardi terus menyiksa Dimas hingga akhirnya.


"Udah udah kalian kaya anak kecil aja" ucap Anita menengahi.


Amar dan Ardi langsung mencibir seketika ketika Dimas tersenyum penuh dengan kemenangan karena di bela oleh Anita.


"Mau pesan apa Dim?" tanya Anita yang hendak masuk ke dalam kantin.


"Cokelat hangat Nit"


"Tunggu ya aku pesan dulu ke dalam" Anita melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantin.


"Lo gak jadi nganter Anna?" tanya Ardi ketika Dimas baru saja duduk.


"Ssttt jangan kenceng kenceng kambing" Dimas melihat ke arah Anita untuk memastikan jika gadis itu tidak mendengar ucapan Ardi.


"Gue anter tadi tapi.."


Dimas menceritakan kejadian di jalan tadi, mulai dari Anna yang ngambek gara gara menunggu Dimas terlalu lama, hingga cara Dimas meluluhkan hati Anna, lalu Anna merasa tersanjung karena seakan akan Dimas lebih mementingkan dirinya ketimbang urusan dimas dengan mamanya, sumpah serapah keluar dari ketiga mulut sahabatnya, Noval yang sedari tadi nampak acuh langsung ikut menyumpahi Dimas setelah mendengar kelicikan sang buaya.


Aksi anarkis the bad boys berhenti ketika Anita datang, Anita membawa dua gelas berisi minuman, satu untuknya, satu minuman kesukaan Dimas.


"Minum Dim" Anita menyerahkan satu gelas berisi cokelat hangat.


Dimas tersenyum "Makasih cantik".


Mereka berlima pun berbincang banyak hal, walau lebih banyak suara Amar dan Ardi yang mendominasi dengan terus mengejek Anita dan Dimas, Dimas hanya tersenyum sedangkan Anita malu malu membalas ejekan Amar dan Ardi.


"Yuk Dim" ajak Anita karena waktu sudah beranjak sore.


"Ayok" sambut Dimas seraya berdiri.


"Kemana men?" tanya Ardi.


"Mau tau aja lo"


Dimas pergi meninggalkan Ardi yang tengah mengumpatnya kesal, tidak lupa dia bilang jika tas milik mereka bertiga sudah Dimas taruh di pos satpam.