
Hari berganti dengan begitu cepat, tak ada satu moment pun Dimas lalui tanpa Anna, Anna menjelma seperti oksigen yang akan selalu membuat Dimas tetap hidup ketika berada di dekatnya.
Hari ujian kenaikan kelas sudah berada di depan mata, hampir semua murid IPA memfokuskan diri untuk belajar, namun hal tersebut tidak berlaku untuk the bad boys, mereka masih sering bolos di jam pelajaran yang membuat kepala Amar menjadi pusing karena harus mencari ketiga sahabatnya, Dimas yang memiliki kercerdasaan di atas rata rata memang patut untuk bersantai, Noval yang bisa dengan mudah paham jika Dimas yang menjelaskan pun gak kalah santai, Ardi dengan slogannya "Everithing is under control" juga ikut santai selama Anna duduk di sebelahnya pada waktu ujian.
Desas desus hubungan Dimas dan Anna terdengar semakin nyaring, Dimas dengan santainya memajang foto dirinya dan Anna di belakang kelas, hingga membuat Anna tersipu malu karena menjadi bahan ledekan teman temannya.
Hubungan Dimas dengan Anita seakan terkubur dengan lulusnya Anita, tidak ada komunikasi lagi antara Dimas dan Anita, berbeda halnya dengan Dinda, Dinda yang sudah menaruh hati pada Dimas bahkan secara terang terangan menyindir Anna, dia juga tak segan mengumbar aibnya dengan Dimas, namun Anna hanya menanggapi semuanya dengan tersenyum manis seperti biasa.
"Hubungan kita hanya sebatas simbiosis mutualisme jadi gak ada yang di rugikan di sini" ucap Dimas ketus ketika Dinda menghampirinya di kantin dan bertanya perihal kejelasan hubungan mereka.
"Kamu dengan mudahnya bicara seperti itu kak, setelah semuanya aku berikan" Dinda berdecak sembari menggelengkan kepalanya.
"Gue gak minta lo yang ngasih" ucapan yang sangat menohok keluar dengan lancar dari mulut Dimas.
"Aku gak terima, demi kamu aku putusin pacar aku"
"Jangan cari kambing hitam, emang gue gak tau lo main sama siapa aja" ejek Dimas.
"Oh ya satu lagi, kalau lo masih punya harga diri gak usah umbar aib lo sendiri, Anna gak bakal terpengaruh" lanjutnya sembari memberi tatapan tajam pada Dinda.
"Awas kamu kak pokoknya aku gak terima" menunjuk wajah Dimas.
"Gue tunggu ancaman lo"
Dinda bergegas pergi meninggalkan kantin dengan air mata yang sudah membasahi pipinya, Dinda memang sudah menaruh hati pada Dimas, Dinda memang salah, Dimas sudah mewanti wanti sejak hubungan Dimas dan Anna lebih dekat agar Dinda melupakannya dan jangan pernah berharap apapun.
"Men" Ardi menepuk pundak Dimas.
"Seharusnya lo jangan begitu, gimana pun kan lo pernah mendaki puncak kenikmatan sama dia" lanjutnya.
...****************...
Anna tengah duduk di depan kelas bersama Dinda, Dinda langsung menemui Anna setelah bertengkar dengan Dimas di kantin tadi, Anna hanya diam mendengarkan Dinda berbicara, tidak menyela sedikit pun, Dinda tengah menceritakan hubungan dirinya dengan Dimas, sejauh apa perbuatan yang tengah mereka lakukan
"Apa kamu tahu jika baru saja kamu mempermalukan diri mu sendiri?" tanya Anna dengan senyum menghiasi wajah cantiknya.
"Setidaknya aku yang memiliki tubuh kak Dimas pertama kali"
"Ya kamu benar" tukas Anna "Tapi kamu engga akan pernah memiliki hati Dimas" ucap Anna yang membuat Dinda menjadi kesal.
"Ck... ck... ck..." Dinda berdecak "Apa kamu masih mau nerima Dimas dengan semua keburukannya?" Dinda mulai memprovokasi Anna.
"Tentu saja tidak" Dinda tersenyum "Karena Dimas tidak pernah terlihat buruk di mataku" Dinda menatap mata Anna dalam dalam, dia ingin mengetahui seperti apa orang yang sedang di ajak bicara oleh dirinya.
Tidak terlihat ada kemarahan bahkan rasa kecewa pun tidak nampak di mata Anna, entah terbuat dari apa hati Anna yang tidak goyah sedikit pun walaupun mendengar penuturan jika Dimas sering berbagi keringat dengan wanita lain.
"Aku hanya minta kamu melepaskan kak Dimas, bagaimanapun hubungan ku dengan kak Dimas sudah sangat jauh".
Anna mengangguk "Aku memang akan melepaskan Dimas" secercah harapan tiba tiba muncul untuk Dinda "Tapi bukan untuk mu". lenyap sudah, harapan yang baru saja muncul tiba tiba lenyap begitu saja.
"Aku hanya akan melepaskan Dimas untuk wanita yang membuatnya menjadi lebih baik, bukan wanita yang akan menjadikan Dimas menjadi buruk, sepertimu" sarkas Anna seakan akan langsung menginjak harga diri Dinda.
"Kalau memang Dimas nyaman dengan kamu dia pasti akan datang lagi menjemput mu, tapi jangan berharap Dimas datang bahkan melihat mu saja enggan jika tidak ada kenyamanan di hatinya".
"Jangan karena kamu sudah memberikan tubuhmu untuknya hingga kamu merasa kamu layak memiliki dirinya seutuhnya, kamu salah, karena yang punya tubuh bukan hanya kamu, banyak wanita di luar sana yang seperti mu, rela menukar tubuhnya hanya untuk memilki Dimas" Anna tersenyum miring ketika melihat bagaimana ekspresi Dinda.
Dinda mengepalkan tangannya erat, nafasnya memburu, wajahnya memerah dengan bola mata yang menatap tajam Anna, semua yang Anna ucapkan benar, ucapan Anna bagaikan vonis yang membuat Dinda tidak memiliki harapan untuk bersama Dimas.