I Am Home

I Am Home
Exstra part 2



Setelah menikah Dimas memutuskan untuk tinggal di rumah orang tua Reni, semua atas permintaan orang tua Reni, Dimas langsung menerima tawaran kedua orang tua Reni dengan senang hati, justru Reni lah yang menolak keras keputusan Dimas.


"Kenapa si? kamu gak betah tinggal di rumah mertuaku?" Ledek Dimas setelah Reni menolak keras keputusan Dimas.


"Hey suamiku!" Reni menatap wajah menjengkelkan suaminya yang sangat senang ketika melihatnya terbully di rumahnya sendiri "Yang kamu sebut mertua itu orang tua kandungku" sungutnya.


"Berarti tidak ada masalah dong seharusnya" jawab Dimas sembari memasang senyum mengejek dan menjulurkan lidah pada Reni.


Reni sudah membayangkan hari harinya di rumah nanti, bagaimana Dimas berhasil menarik simpati dan perhatian kedua orang tuanya selama dua bulan terakhir ini, bahkan keberadaan Reni seakan tidak dianggap jika Dimas datang kerumahnya, saat status Dimas masih sebagai calon menantu saja orang tua Reni selalu membela Dimas, apalagi sekarang status Dimas sudah sah menjadi menantu sungguh Reni tidak bisa membayangkan tingkah menjengkelkan Dimas nantinya.


"Sudah jangan protes terus, kalau kamu gak mau ikut aku ya sudah kamu tinggal di apartement ini sendiri" ucap Dimas sembari mengepak barang barangnya ke dalam koper "Tapi kamu akan berbagi tempat dengan orang yang akan menyewa apartement ini nanti" lanjutnya meledek Reni, melihat wajah Reni yang kesal menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Dimas.


"Hei bagaimana bisa seperti itu" protes Reni.


Dimas tidak lagi mengindahkan istrinya yang terus saja protes dan mengomel banyak hal, dalam kepalanya Dimas hanya ada bayangan wajah kesal Reni setiap harinya, wajah Reni yang cemburu ketika kedua orang tuanya justru lebih menyayangi Dimas, moment yang sudah Dimas tunggu tunggu.


...****************...


Pagi hari, Dimas sudah rapi dengan pakaian kerjanya, hari ini dia harus kembali memulai aktifitasnya yang sempat terhenti selama tiga hari karena cuti menikah, selama tiga hari Dimas hanya menghabiskan waktu bersama Reni di apartment milihnya, mereka tidak sempat untuk berbulan madu di luar, alasannya hanya satu yaitu keterbatasan waktu Dimas.


Dimas menyiapkan segala keperluannya sendiri, dia tidak ingin mengganggu tidur pulas sang istri akibat kelelahan karena perbuatannya semalam, setelah semua keperluan sudah masuk ke dalam tas kerjanya Dimas langsung keluar dari kamarnya untuk menuju ke ruang makan.


"Pagi ayah, ibu" Dimas menyapa kedua mertuanya yang sudah duduk manis di atas meja makan, dia kemudian mengambil tangan mertuanya satu persatu lalu mencium punggung tangannya.


"Lho kamu sudah rapi pagi pagi mau kemana?" tanya Ibu Reni.


"Cuti Dimas sudah habis, hari ini sudah mulai masuk kerja bu" jelas Dimas yang di balas anggukan kepala oleh ibu mertuannya.


"Kok cepat sekali?" ayah Reni ikut penasaran, karena biasanya pengantin baru akan mengambil cuti sebanyak mungkin.


"Hanya dapat cuti menikah 3 hari yah, Dimas sudah terlalu banyak cuti tahun ini" terang Dimas.


"Reni mana?" tanya ayah Reni karena tidak melihat putrinya turun dari lantai dua rumahnya.


"Masih tidur yah" jawab Dimas sembari duduk di salah satu kursi.


"Anak itu sudah menikah tapi tidak berubah juga" kesal Ibu Reni.


"Ibu bangunin Reni dulu" pamitnya sembari mengepalkan tangan.


Dimas hanya tersenyum bahagia melihat ibu metuanya yang sedang kesal kepada anak kandungnya sendiri, Beberapa menit kemudian terdengar suara ibu Reni yang terus mengomel, mertua dan menantu yang tengah duduk di meja makan hanya saling tatap dan tersenyum penuh arti.


Moment yang sudah Dimas bayangkan sebelumnya akhirnya dapat terwujud pagi ini, Reni berjalan menuruni tangga dengan wajah bantal, sang ibu berjalan mengekor di belakangnya sembari terus mengomel sepanjang jalan, Dimas tersenyum lebar melihat hal itu, wajah Reni yang baru bangun tidur adalah pemandangan terbaik menurutnya selain wajah kesal Reni.


Reni langsung menghempaskan tubuhnya di atas kursi yang tepat berada di sebelah suaminya, dia mengucek matanya beberapa kali berharap bisa mengusir rasa kantuk yang masih menghinggap di pelupuk matanya.


"Sayang" lirih Reni berbisik di telinga suaminya namun dengan nada penuh penekanan.


"Kamu ngadu apa sama ibu pagi pagi heh!" sungutnya pada Dimas.


"Gak ngadu apa apa" jawab Dimas acuh sembari mengoles selai di atas rotinya.


"Bohong!" Reni menatap tajam sang suami.


"Tanya aja sama ibu kalau gak percaya".


"Dimassss!!"


Gemetar gematar kesal.


"Reni"


Reni langsung mengangkat kepalanya ketika mendengar sang ibu memanggilnya.


"Kamu itu harus jadi istri yang baik, layani suami kamu dengan baik" omelnya sembari meletakkan secangkir kopi di depan suaminya, dan secangkir cokelat hangat di depan anak menantunya.


"Reni sudah jadi istri yang baik bu" tegasnya "Iya kan sayang?" tanya Reni pada Dimas berusaha mencari pembenaran atas apa yang dia ucapkan.


Reni baru saja melakukan kesalahan fatal ketika meminta pembenaran dari Dimas, mana mungkin Dimas membela istrinya ketika ada moment yang membuat istrinya kesal.


Dimas langsung menggelengkan kepalanya.


"Mau alasan apa lagi kamu Ren, suami kamu saja bilang engga gitu kok"


Reni semakin kesal pada Dimas, dia dekatkan bibirnya ke telinga sang suami.


"Awas nanti malam gak ada ya jatah buat kamu, kamu yang bikin aku kelelahan, bukannya belain aku di depan ibu, Dimasss!" ancamnya sembari tersenyum miring.


Tapi Reni memilih lawan yang salah, Dimas adalah manusia terlicik dalam hal menghadapi wanita.


"Oke tidak masalah" balas Dimas berbisik di telinga Reni, dia tatap wajah cantik istrinya kemudian memasang senyum iblis "Tapi lihat aja besok pagi kamu akan lebih menderita karena omelan ibu"


Glek.....


"Senyum itu, senyum iblis argggg"


Reni langsung menelan salivanya ketika melihat senyum iblis di wajah suaminya, dia tahu jika itu bukanlah ancaman semata atau omong kosong dari Dimas, karena posisi Dimas saat ini lebih tinggi dari pada dirinya di rumahnya sendiri.


"Aku hanya bercanda sayang" ucap Reni sembari bergelayut manja di tangan suaminya, lebih baik mencari aman dari pada harus berperkara dengan Dimas.


Dimas mengecup lembut kening Reni, kemudian mereka menikmati sarapan di pagi hari dengan suasana ceria, tidak ada lagi kebisuan dan kekakuan di ruang makan seperti sebelumnya, kehadiran Dimas seakan membawa aura positif pada keluarga sang istri.


Setelah menyelesaikan ritual sarapan bersama, Reni mengantar Dimas ke depan rumah, dia masih bergelayut manja di lengan Dimas tanpa perduli tatapan dari kedua orang tuanya.


Dimas membuka pintu mobil lalu memanaskannya sejenak, Reni masih setia berada di sisi Dimas, posisi Reni sekarang memeluk Dimas dari belakang.


"Sayang pulangnya jangan terlalu malam yahh" ucapnya manja dengan suara yang di buat se sensual mungkin.


Dimas melepas tangan sang istri yang melingkar di perutnya, da kemudian memutar tubuhnya menghadap ke arah Reni lalu menarik tubuh ramping istrinya untuk merapatkan ke tubuhnya.


"Jangan terus menggodaku atau aku tidak jadi bekerja hari ini" ucapnya tepat di telinga Reni sembari menghembuskan nafas yang membuat bulu kuduk Reni berdiri.


"Akh... sayang" Reni menggeliat manja.


"Kamu benar benar menantangku hem"


Reni tertawa, bisa bisa dia berada di bawah kungkungan suaminya seharian kalau benar Dimas tidak jadi berangkat kerja seperti tiga hari terakhir, Dimas benar benar tidak pernah melepaskan Reni sekalipun kecuali jika Reni sudah sangat kelelahan.


"Nanti malam aja ya"


Cup.... Reni mencium pipi Dimas.


Dimas kemudian masuk ke dalam mobilnya setelah memeluk tubuh sang istri dan mencup keninganya, Reni melambaikan tangan mengantar kepergian Dimas.


Setelah mobil Dimas sudah menghilang dari pandangan, Reni kembali masuk ke dalam rumah, dia ingin melanjutkan tidurnya yang sempat di ganggu oleh sang ibu, Reni yang sudah tidak bekerja membuatnya memiliki banyak waktu untuk bermalas malasan.