I Am Home

I Am Home
Setulus cinta Dinda



Di tempat lain, tepatnya di sebuah sudut sekolah dekat dengan toilet kelas 3 sepasang muda mudi terlihat tengah beradu mulut, Dimas yang biasanya memperlakukan Dinda dengan sangat lembut dan manis hari ini terlihat sangat murka, tidak ada senyum di bibir Dimas, hanya ada tatapan dan rahang yang mengeras.


Dinda terus memprovokasi Dimas, dia tak sekali dua kali mencaci Dimas, Dinda sedang mengeluarkan semua kekecewaan yang selama ini dia pendam.


"Kamu jahat Dim kamu jahat" Dinda memukul dada Dimas "Kamu datang lagi setelah membuangku begitu saja, kamu datang dengan segala kekecewaanku yang belum hilang tapi aku tetap menyambut mu dengan pelukan hangat" ucap Dinda di sela sela tangisnya.


"Karena kehangatan tubuh lo makanya gue balik lagi" sarkas Dimas.


"Kamu brengs*k"


Plak..... tangan Dinda mendarat dengan mulus di wajah Dimas.


Kata kata Dimas memang sangat menyakitkan bagi Dinda, Dimas berujar hanya sekedar menjadikan Dinda pelampiasan dan meminta Dinda tidak berharap lebih.


Dimas masih diam mebisu, Dinda masih terus merancau dengan derai air mata yang cukup deras mengalir mambasahi pipi mulusnya, dari jarak yang cukup jauh Ardi memperhatikannya, dia merasa terenyuh melihat keadaan Dinda.


"Dimas Dimas, lo selalu di kelilingi orang yang tulus, sayangnya lo sering sia siain mereka" gumam Ardi dalam hatinya.


"Stop Dinda" ucap Dimas tegas.


Dimas mencengram lengan Dinda dengan sedikit kuat.


"Aduh" rintih Dinda "Kamu kasar sama aku Dimas" lantang suara Dinda.


"Jangan pernah lo datang lagi" Dimas menatap tajam Dinda.


"Apa kamu pikir aku akan diam aja liat kamu bahagia sama j*l*ng itu hah" sungut Dinda.


"Siapa yang lo panggil ******?" Dimas mencengkram rahang Dinda "Siapa!" bentak Dimas.


Dinda beringsut mundur karena ketakutan melihat Dimas yang sedang marah, namun cengkraman kuat Dimas pada lengan dan wajahnya membuat Dinda tidak berkutik.


"Sekali lagi lo sebut Ais j*l*ng gue robek mulut lo" Dimas mendorong tubuh Dinda hingga membentur tembok.


Dinda terduduk lemas setelah tubuhnya membentur tembok dengan cukup keras, dia tidak pernah menyangka jika Dimas yang selalu lembut tiba tiba menjadi sangat kasar hanya karena seorang Daisi, wanita yang baru hadir di hidup Dimas namun bisa merubah segalanya.


Dimas menarik rambut Dinda.


"Aww..." rintih Dinda.


Ardi yang melihat Dimas sudah mulai lepas kontrol segera berlari mendekat.


"Men... men.. men" Ardi langsung mencekal tangan Dimas untuk melepaskan Dinda.


"Gak kaya gini cara lo memperlakukan wanita men" Ardi langsung memiting leher Dimas kemudian menyeretnya manjauh dari Dinda yang masih terkulai lemas.


"Bangun Din" dengan lembut Ardi menarik lengan Dinda untuk membantunya bangun


"Sorry gue udah bikin lo kaya gini" ucapnya dengan dengan penuh rasa penyesalan.


Dinda hanya mengangguk lemah, Ardi kemudian memeluk tubuh Dinda dengan penuh kelembutan.


"Lo lupain Dimas mulai saat ini, lo harus hidup lebih baik, dan lebih baik lo hidup tanpa Dimas" Ardi mengusap kepala Dinda dengan lembut.


"Makasih kak" jawab Dinda dengan nada suara lemah.


"Ingat Din, masih banyak orang yang mau nerima ketulusan lo dan lebih banyak orang yang tahu diri membalas ketulusan lo"


Dinda menggeleng.


"Aku bukan wanita baik baik kak"


"Semua orang baik punya masa lalu dan orang jahat juga punya masa depan" Ardi menatap dalam mata Dinda "Lo bukan orang jahat, lo hanya orang baik yang di manfaatkan oleh keadaan" ucapnya sembari melepaskan pelukan dan menghapus air mata Dinda.


Dinda mengangguk, hatinya sedikit terhibur dengan ucapan Ardi.


"Boleh Dinda peluk kak Ardi" pintanya malu malu, Ardi kemudian merentangkan tangannya dengan tatapan buaya, Ardi telah kembali ke mode mesumnya.


"Kak Ardi" Dinda mendorong tubuh Ardi pelan "Ish modus" kesal Dinda sembari mengelap pipinya yang tadi di kecup oleh Ardi.


"Hehehe" Ardi tersenyum mesum "Sorry khilaf" lanjutnya.


"Ishh dasar" cibir Dinda pura pura marah.


"Aduh aduh jangan marah dong, ntar cantiknya ilang" rayu Ardi.


"Biarin" Dinda menjulurkan lidahnya.


Mereka pun kemudian bercanda gurau, Dinda kembali bisa tertawa seakan melupakan masalah yang baru saja terjadi antara dirinya dan Dimas.


"Lo jangan pernah dendam sama Dimas atau siapapun yang menyakiti lo, yakinlah semua rasa sakit itu akan di balas dengan kebahagiaan yang berlipat Din" ujar ardi yang di balas anggukan kepala oleh Dinda.


Dinda kemudian pamit untuk kembali ke kelasnya, meninggalkan Ardi yang masih terduduk di sana sembari menatapnya nanar.


"Kalau gue jadi Dimas gak akan gue lepas lo Din, akan gue jadiin tujuan hidup gue" ucap Ardi dalam hatinya sembari matanya mengunci punggung Dinda yang mulai menjauh.


Ardi tersenyum kecut, andai saja dia tidak terbayang akan kesalahan yang pernah dia lakukan saat itu mungkin Ardi akan menjadikan Dinda tujuan hidupnya, namun semua tidak mungkin, Ardi saat ini sudah memiliki tujuan hidpunya, tujuan hidup sebagai penebus dosanya di masa lalu.


"Semoga lo bisa menerima dan mencintai gue dengan tulus, setulus cinta Dinda" gumam Ardi sembari membayangkan wajah seorang wanita sang beberapa tahun terakhir sangat mengganggu tidurnya.