I Am Home

I Am Home
Exstra part 4



Dimas tengah berkutat dengan tumpukkan pekerjaan, jabatannya sebagai kepala departemen membuat tanggung jawabnya semakin besar, Dimas kini bukan hanya mengurus pasiennya sendiri namun Dimas juga mengatur pasien dari semua dokter yang ada di bawah departemennya.


Ponsel Dimas berdering, terlihat nama Anggi tertera di layar ponselnya, Dimas sempat mengernyitkan dahi karena hampir tidak pernah Anggi menghubungi dirinya, karena khawatir ada sesuatu dengan keluarga sahabatnya yang berada di luar negeri Dimas segera mengangkat panggilan dari Anggi.


"Hallo Nggi kenapa?"


"Dim lo dimana?" tanya Anggi di ujung sana.


"Di rumah sakit, ada apa?"


"Gue mau minta tolong, lo temuin Namira sekarang"


"Namira, kenapa?"


Anggi kemudian menjelaskan kondisi Namira saat ini tengah terpuruk, Leo ketahuan menjalin hubungan dengan mantan pacarnya dulu, bahkan Leo dengan tega melakukan kekerasan pada Namira.


"Lo hubungi Dinda atau keluarga Namira yang lain Nggi, gue gak bisa kerjaan gue banyak banget".


"Dim please gue minta tolong".


"Sorry Nggi".


Dimas langsung mematikan panggilan dari Anggi, bukannya Dimas tidak mau membantu Namira namun dia sadar posisinya saat ini, bagaimana pun Dimas adalah mantan kekasih Namira, dia takut akan terjadi kesalah pahaman jika Dimas ikut campur dalam urusan rumah tangga Namira.


Pikiran Dimas langsung kembali ke masa lalu, saat dia tengah hancur di tinggal Namira, saat itu Ardi datang bersama Andro ke apartment miliknya.


Flasback on........


"Men" teriakan Ardi sangat mengganggu Dimas yang sedang meratapi nasibnya karena di tinggan Namira, hampir 30 menut suara gedoran pintu dan teriakan Ardi terus terdengar, dengan langkah gontai Dimas akhirnya berjalan untuk membukakan pintu.


Terlihat Ardi berdiri di depan pintu dengan seorang yang Dimas kenali bernama Andro, mereka kemudian di persilahkan masuk.


"Ada apa?" tanya Dimas dengan wajah datar setelah mereka bertiga duduk di ruang tamu.


"Men lo dengeri baik baik apa yang mau di ceritakan Andro" ucap Ardi sembari menatap tajam Dimas dengan mimik wajah serius.


Dimas terdiam sesaat, kemudian dia menganggukan kepala.


"Bro ceritain tentang apa yang lo tahu" ucap Ardi pada Andro.


Andro bercerita tentang kisah masa lalunya bersama Leo dan Namira, mereka bertiga kuliah di kampus yang sama, Leo dan Namira mengambil jurusan yang sama yaitu psikologi sedangkan Andro mengambil jurusan bisnis.


"Bisa langsung ke intinya?" ketus Dimas ketika Andro memulai cerita dengan bertele tele.


Andro mengangguk, sedikit banyak dia sudah tahu bagaimana sifat Dimas dari cerita Ardi saat di perjalanan.


Andro dan Leo adalah sahabat sejak lama, mereka menyukai gadis yang sama yaitu Namira, namun Andro memilih mengalah pada sahabatnya, selain itu Namira terlihat lebih tertari pada Leo.


"Jadi Leo mantan kekasih Namira dulu?" tanya Dimas menginterupsi cerita Andro.


Andro mengangguk.


"****" Dimas seketika mengumpat merasa sudah di bohongi oleh Namira, Ardi memberi kode pada Andro untuk meneruskan ceritanya.


Namira dan Leo akhirnya resmi menjalin hubungan, baru beberapa bulan hubungan mereka terjalin Leo ketahuan selingkuh dengan teman kampusnya yang lain.


Ekspresi wajah Dimas langsung berubah mengetahui Leo berselingkuh di belakang Namira, penghianatan adalah hal yang paling Dimas benci selain menunggu.


Saat Namira terpuruk Andro datang untuk membantunya bangkit, setelah sekian lama akhirnya Andro menyatakan perasaanya pada Namira, tanpa di duga Namira menerima cinta Andro.


"Lalu Namira berselingkuh dengan Leo di belakang lo?" tebak Dimas yang sebelumnya sudah mendengar penuturan Ardi saat di bar.


Andro mengangguk.


"Brengs*k" maki Dimas.


Andro saat itu sangat marah dengan Namira dan Leo, saat itu juga Andro langsung memutuskan hubungannya dengan Namira dan hubungan persahabatan dengan Leo.


"Terus ketika mereka sama sama kembali ke sini apa mereka masih ada hubungan? tanya Dimas.


Andro menggeleng.


Tak lama setelah Leo kembali menjalin hubungan dengan Namira, Andro mendapati Leo kembali berselingkuh dengan orang yang sama, Andro yang masih menyayangi Namira berusaha menyadarkan Namira, hingga akhirnya Namira kembali mengakhiri hubungannya dengan Leo saat itu dan menjalin kedekatan dengan Andro lagi, namun tetap saja Andro tidak bisa memenangkan hati Namira sampai hari ini.


"Terus tujuan lo cerita masa lalu kalian ke gue buat apa?" tanya Dimas setelah Andro selesai bercerita.


"Gue minta bantuan lo menyadarkan Namira jika Leo tidak pantas untuknya" pinta Andro dengan tulus.


"Terlambat, Namira sudah menerima lamaran dari Leo" ketus Dimas.


Huh..... Dimas menghembuskan nafas kasar, mungkin jika Andro datang sebelum Namira menolak ajakan Dimas untuk menikah Dimas masih mau berjuang, tapi sekarang Namira lah yang sudah membuang dirinya untuk kedua kali, tak mungkin Dimas berusaha menggapai langit yang tinggi.


"Sorry gue gak bisa, kalau lo sayang sama Namira lo bantu dia, gue sama sekali gak ada niatan untuk membawa Namira lagi dalam hidup gue" jawab Dimas tegas.


Flasback off.......


Dimas tersadar dari lamunanya karena bunyi dari ponselnya, sekarang terlihat nama Amar terpampang di layar ponselnya.


"Hallo men" sapa Dimas.


"Anggi udah nelfon lo?" tanya Amar.


"Gue gak bisa bantu men, lo tahu posisi gue"


"Men"


"Udah men gue benaran gak mau ikut campur masalah Namira" jawab Dimas tegas.


"Gue bicara sekarang sebagai sahabat lo bukan sebagai suami dari sahabat Namira"


Huh..... Dimas merasa kepalanya tiba tiba pusing, dia tidak akan bisa menolak permintaan Amar jika sudah seperti ini.


"Oke men, gue coba tapi gue gak menjanjikan apapun"


"Thanks men, lo kabari gue secepatnya".


"Oke"


Dimas langsung memutus panggilan itu, dia segera membereskan sisa pekerjaannya, jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, seharusnya dia pulang untuk bertemu dengan permaisurinya namun karena permintaan sahabatnya dia pun terpaksa menunda waktu bertemu dengan Reni.


Dimas segera menghubungi Namira, dia bertanya posisi Namira saat ini, Namira pun berujar akan datang ke rumah sakit saja dari pada harus bertemu di luar, Dimas menyetujui permintaan Namira.


Namira datang membawa sebuah koper besar dengan menggunakan pakain yang hampir menutup seluruh bagian tubuhnya, wajah Namira hanya terlihat bagian matanya saja, meski begitu Dimas langsung bisa mengenali jika itu adalah Namira, Dimas langsung mempersilahkan Namira masuk dan duduk di sofa.


"Gimana keadaan lo Mir?" tanya Dimas.


"Tidak baik baik saja Dim" jawab Namira lemah, ingin rasanya Namira menangis saat ini, namun dalam hatinya malu jika Dimas akan menertawakan kondisinya.


Dimas memeriksa tubuh Namira, hatinya terasa perih ketika melihat luka lebam di wajah cantiknya, bahkan lengan Namira terdapat banyak luka memar, tidak tahu bagaimana bagian tubuh Namira yang lain karena Dimas tidak berani memeriksa lebih jauh saat ini.


"Kenapa bisa seperti ini Mir?"


Namira berusaha tersenyum, meskipun hatinya sangat sakit.


"Mungkin ini karma atas perlakuan aku kamu" jawabnya lirih.


"Mungkin lo benar" ucap Dimas "Tapi gak pernah sedikit pun gue berharap lo mendapat karma itu, lo memilih itu demi kebahagiaan lo"


"Tapi nyatanya aku gak bahagia Dim" jawabnya, ucapan Namira terasa begitu getir meratapi nasib rumah tangganya.


"Terus apa yang bakal lo lakuin?" tanya Dimas


"Aku besok mau ke tempat Anggi, dia udah nyiapin semuanya, aku mau menenangkan diri dulu Dim"


"Lalu malam ini?"


Namira mengedikkan bahunya.


Dimas terdiam, mungkin ini yang di maksud Anggi kenapa dia harus menemui Namira malam ini, Anggi ingin Dimas membantu Namira sebelum keberangkatannya besok.


Dimas tengah berfikir cara membantu Namira, tidak mungkin dia membiarkan Namira sendiri, bisa saja Dimas mengantar Namira ke hotel namun dia tidak tega meninggalkannya sendiri.


"Maaf Dim" lirih Namira dengan air mata yang keluar dari dua bola mata indahnya, air mata yang sedari tadi coba Namira tahan akhirnya luruh juga.


Dimas segera mendekat, dia bawa tubuh Namira ke dalam pelukannya, dia tahu saat ini Namira hanya butuh bahu untuk bersandar dengan harapan bisa meringankan sedikit beban Namira.


"Menangislah Mir, keluarkan semua rasa sakit dalam hatimu, bersandarlah di bahuku jika itu mampu mengurangi sedikit kepedihanmu"


Namir terisak semakin kencang dalam pelukan Dimas, Dimas hanya memberi usapan lembut di punggu wanita yang pernah dia cintai.


"Sayang" tiba tiba suara seorang wanita terpenting dalam hidup Dimas terdengar bersamaan dengan pintu yang terbuka.


"Ren" ucap Dimas yang terkejut dengan kehadiran Reni, Dimas melupakan satu hal, dia tidak mengabari Reni, dia bahkan sampai lupa jika saat ini sudah jam 11 malam, artinya Reni akan menyusul Dimas jika Dimas tidak pulang di jam tersebut.


"Ada yang harus kamu jelaskan Dim?" tanya Reni, Dimas sangat faham jika Reni memanggil dirinya dengan menggunakan nama artinya dia sedang marah.


"Mir lo tunggu di sini, gue bicara dulu sama istri gue" Namira yang masih terisak dalam hanya bisa mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun.