I Am Home

I Am Home
Exstra part 7



Dimas terpaksa menginap di rumah sakit malam ini, selain pekerjaan yang menumpuk dia juga ada operasi darurat yang akan berlangsung sebentar lagi, operasi yang akan memakan waktu semalaman ini membuat dirinya tidak bisa pulang ke rumah.


Dimas sudah mengirim pesan pada Reni jika dia tidak bisa pulang malam ini karena banyak pekerjaan, Reni langsung mengiyakan hal itu, tidak lupa dia memberi semangat pada suaminya.


Tepat pukul empat pagi Dimas menyelesaikan operasi yang melelahkan, dia langsung membersihkan diri untuk kemudian beristirahat sejenak.


Dimas menyenderkan tubuhnya di sofa, ingin rasanya Dimas tidur namun dia tidak akan bisa memejamkan mata jika belum bertemu sang istri, Dimas ingin pulang tapi masih terlalu pagi, dia tidak ingin mengganggu waktu istirahat penghuni rumah.


Dimas merasa bosan dengan kesendirian itu, dia lalu membuka ponselnya yang sejak tadi dia acuhkan, mata Dimas langsung membelalak ketika membaca pesan masuk dari Rendi, ada juga sebuah foto yang Rendi kirimkan.


"Bang Dimas gak ikut ke pesta?" pesan Rendi pukul 01.00 WIB.


"Kak Reni datang sendiri nih bang, duh suaminya malah gak ikut" pesan berikutnya pukul 01.30 beserta sebuah foto, terlihat Reni tengah meminum satu sloki minuman keras.


Rendi adalah junior Dimas dulu saat SMA, sampai hari ini mereka masih menjalin komunikasi yang baik, baru saja Dimas membaca pesan yang membuat dia marah, namun hati Dimas sedikit tenang, dia yakin Rendi menjaga Reni selama pesta berlangsung tanpa Dimas minta sekalipun, Rendi sampai hari ini masih memegang janjinya untuk menjaga orang orang yang Dimas sayangi.


Tangan Dimas seketika terkepal erat mendapati fakta jika istrinya keluar tanpa memberi tahu dirinya, Dimas segera menyambar jas yang berada di atas kursi kerjanya, dia langsung bergegas untuk pulang kerumah.


Dimas sampai di rumah tepat pukul lima pagi, belum ada penghuni rumah utama yang bangun, hanya security dan beberapa maid yang telah memulai aktifitasnya.


Dimas langsung naik ke lantai dua menuju kamarnya, terlihat Reni yang tengah tertidur nyenyak di atas ranjang dengan selimut tebal yang menutupi dirinya.


"Ren" Dimas mengguncang tubuh Reni pelan.


"Reni" ucapnya dengan sedikit meninggikan intonasi suara karena tidak ada respon dari tadi, Reni menggeliat, dia yang baru saja tidur beberapa jam membuat matanya sangat berat untuk terbuka.


"Kamu sudah pulang sayang?" ucapnya dengan suara serak dan mata yang setengah terbuka.


"Buka mata mu Ren" ucap Dimas dengan suara dingin, Reni membuka matanya perlahan setelah indra pendengarannya menangkap suara berat nan dingin suaminya, kantuknya seketika hilang, mata yang tadi susah payah dia buka kini tiba tiba menjadi susah untuk dia pejamkan setelah melihat tatapan tajam dan wajah Dimas yang terlihat sedang marah dengan rahang mengeras.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Reni, seketika rasa gelisah mucul dalam hatinya.


"Kamu ingin memberi pembelaan atau aku akan jatuhkan vonis langsung?"


Mendengar suara Dimas dan melihat ekspresi wajahnya Reni langsung faham jika saat ini sang suami sedang dalam mode marah, jantung Reni langsung berdetak dua kali lebih cepat, nafasnya seketika memburu, ketakutan langsung hinggap di dalam hati dan fikirannya.


"Maafkan aku" ucap Reni sembari menunduk dalam, dia langsung menyadari kesalahannya.


"Bersihkan dirimu" Dimas menunjuk ke arah kamar mandi "Saya tunggu penjelasan mu" ucap Dimas tak terbantahkan, Reni segera bangkit dia langsung menuju ke kamar mandi.


Reni keluar dari kamar mandi dengan kondisi lebih segar, namun dinginnya air tidak bisa menyegarkan pikirannya yang sedang kalut, dia berjalan perlahan menghampiri Dimas yang sedang duduk di atas sofa, kakinya menyilang dengan tatapan tajam menatap lurus ke depan.


"Berdiri di hadapanku"


Reni langsung berdiri tegap dengan kepala menunduk.


"Jelaskan".


Reni pun kemudian menjelaskan jika dirinya semalam datang ke pesta ulang tahun salah satu temannya dulu saat SMA, dia awalnya berniat tidak datang di acara itu, tapi ketika Dimas mengabari jika malam ini tidak pulang membuat Reni memutuskan untuk datang apalagi ada temannya yang akan menjemputnya, ketika akan pergi Reni beralasan akan menyusul Dimas ke rumah sakit kepada kedua orang tuanya.


"Kenapa tidak izin?" lirih Dimas.


"Aku takut kamu tidak mengizinkan".


"Kenapa tidak mencoba minta izin dulu"


"Kalau aku izin pasti kamu tidak akan mengizinkan".


"Mengapa tidak mencoba untuk meminta izin dahulu pada saya Khayraeni Amalia"


Deg.....


Reni langsung mundur satu langkah, jika Dimas sudah berbicara formal dengan menyebut nama lengkapnya berarti Dimas sedang berada di titik tertinggi emosinya, walaupun Dimas berbicara dengan nada suara lirih namun hal itu sudah lebih cukup untuk membuat Reni bungkam seribu bahasa dan menunduk lebih dalam.


"Saya tunggu di meja makan, renungkan kesalahanmu, turun lima menit lagi" perintah Dimas sembari berdiri dari duduknya.


"Telingamu masih berfungsi" sentak Dimas karena tidak mendapati jawaban dari Reni.


"Iya" lirih Reni.


Dimas melangkah keluar, Reni langsung luruh terduduk lemas seketika, sudah pasti Dimas akan menyuruh Reni membuat pengakuan dosa di depan orang tuannya, sungguh saat ini Reni sangat takut dengan kemarahan Dimas, Reni langsung terbayang bentakan dan makian yang akan keluar dari mulut sang ayah, namun bukan itu yang Reni takutkan, Reni lebih takut menghadapi Dimas, walau semarah apapun Dimas, dia tidak akan berbicara keras atau membentak dirinya, tapi dengan tatapan tajam dan senyum iblis sang suami sudah cukup membuatnya bungkam, jika dengan sang ayah Reni masih berani mendebat, tapi jika berhadapan dengan kemarahan Dimas jangankan mendebat sekedar mengangkat kepala untuk menatap matanya saja Reni tidak berani.


Kedua orang tua Reni saling menatap satu sama lain ketika Dimas datang kemeja makan dengan wajah yang menunjukkan kemarahan, tidak ada senyum ramah dari bibir Dimas pagi ini, rasa penasaran seketika memenuhi hati kedua orang tua Reni, namun semua terjawab ketika Reni turun sembari menyeret langkahnya dengan kepala menunduk, mereka seakan tahu Reni baru saja membuat kesalahan yang menyebabkan Dimas marah.


"Tidak ada yang menyuruhmu duduk" sarkas Dimas tanpa melihat ke arah Reni yang baru saja duduk di sebelah Dimas.


Reni segera bangkit, dia langsung berdiri di sebelah kursi, kepalanya masih setia tertunduk, jika bisa memilih Reni lebih baik di marahi langsung oleh kedua orang tuanya, Reni pernah merasakan langsung amukan sang ayah saat Dimas ingin membatalkan pernikahan mereka dulu karena kesalahan dirinya, saat itu dia masih berani mengangkat kepalanya.


"Reni semalam izin keluar bu?" tanya Dimas.


"Iya nak" jawab ibu Reni dengan perasaan yang mulai tidak tenang.


"Kemana dia izin?"


"Menyusulmu ke rumah sakit" lirih ibu Reni.


Dimas melirik ke arah sang istri yang masih terlihat tertunduk dengan gurat ketakutan dan kesedihan di wajahnya, namun tidak ada air mata yang keluar dari matanya karena Dimas pernah memberi ultimatum yang melarang Reni menangis jika membuat kesalahan sebelum penghakiman selesai.


"Benar Ren?"


Reni menggeleng.


"Lalu?"


"Maaf" lirih Reni.


"Khayreani Amalia" lirih Dimas namun dengan suara penuh penekanan.


Reni seketika mengangkat kepalanya dan menatap sang ibu dengan tatapan memohon, seakan dia sedang mencari pembelaan, sang ibu hanya sedikit menggelengkan kepalanya, pupus sudah harapan Reni, jika ibunya tidak membela dirinya apalagi sang ayah.


"Reni pergi ke pesta teman Reni".


"Kenapa kamu berbohong pada ibu nak" lirih ibu Reni "Kamu tidak izin pada suamimu?"


Reni menggeleng.


"Reni" gelegar suara sang ayah membuat Reni seketika memegang lengan Dimas, hanya Dimas yang mampu melindungi Reni dari amukan ayahnya pagi ini.


"Kapan kamu rubah sifat buruk mu itu? Hah!" bantakan sang ayah membuat Reni semakin erat mencengkram lengan suaminya, dia sedang memohon supaya Dimas membelanya saat ini.


"Minta maaf pada ayah dan ibu"


"Maafkan Reni ayah" Reni melihat ke arah sang ayah namun langsung membuang muka ketika mendapati tatapan tajam ayahnya " Ibu Reni minta maaf semalam mebohongi kalian" lirih Reni.


Ayah Reni hanya berdecak kesal mendengar pengakuan sang anak, sedangkan ibu Reni tidak berkomentar apapun.


"Habiskan sarapan mu setelah itu masuk kamar, jangan keluar sebelum aku pulang" tegas Dimas.


"Baik" patuh Reni, dia langsung duduk dan memakan sarapannya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Dimas segera berpamitan pada kedua mertuanya, padahal Dimas memiliki waktu hingga siang untuk beristirahat, namun dia memilih beristirahat di rumah sakit, dia takut melakukan hal yang tidak di inginkan pada Reni karena rasa kesalnya belum hilang.


"Dimas minta tolong antarkan makan siang dan malam Reni ke kamar bu" ucapnya sembari berpamitan pada ibu mertuanya.


"Iya nak, maafkan Reni ya" Dimas hanya mengangguk.


Ayah Reni hanya menepuk pundak Dimas saat dia berpamitan, dalam hatinya dia sangat bersyukur Reni memiliki suami seperti Dimas, yang lebih mementingkan logika dan hatinya saat marah dari pada ego nya.


"Tidak usah mengantar ku, habiskan sarapan mu" titah Dimas saat melihat Reni sudah berdiri.


Reni kembali duduk, dia menghabiskan sarapannya di bawah tatapan intimindasi dari sang ayah dan omelan panjang ibunya.


"Jika bukan nak Dimas suami mu mungkin kamu sudah jadi janda sejak lama" kesal sang ibu ketika mengingat tingkah laku anak semata wayangnya.


Reni hanya diam tertunduk, hati kecilnya membenarkan ucapan ibunya, karena bukan kali ini saja dia membuat Dimas marah karena perilakunya.


"Rubah sikap mu Ren!"


Brak...... Ibu Reni menggebrak meja cukup keras, membuat Reni mengangkat kepalanya.


"Kesabaran manusia ada batasnya" kali ini ibu Reni sudah tidak dapat menahan sesak di dadanya, dia berbicara dengan lantang sembari menunjuk wajah Reni.


Ayah Reni hanya diam, dia merasa tanggung jawab mendidik Reni saat ini berada di tangan Dimas, dia tidak ingin ikut campur jika bukan Dimas yang memintanya, Ayah Reni sangat paham bagaimana sifat sang anak, Reni adalah type pembangkang, dulu sering kali dia adu mulut dengan ayahnya ketika Reni meminta izin keluar bersama Aldo, namun sekarang dia bahkan tidak berani mendebat Dimas padahal semarah apapun Dimas tetap akan berbicara pelan pada Reni, hal yang sangat di syukuri oleh ayah Reni karena sedikit banyak Reni sudah mulai berubah.


...****************...


Reni duduk dengan cemas seakan sedang menunggu vonis hukuman dari hakim, dia terus meremas tangannya, Dimas baru saja pulang, saat ini Dimas tengah membersihkan diri di kamar mandi, seharian ini Reni hanya menghabiskan waktu di dalam kamar, puluhan pesan yang dia kirimkan pada Dimas tidak satupun yang mendapat balasan, membuat Reni semakin gelisah.


Reni langsung berdiri ketika melihat Dimas melangkah keluar dari kamar mandi, biasanya Reni akan membantu Dimas mengeringkan rambutnya, namun saat ini sekedar mengeluarkan suara nafas saja Reni tidak berani.


Dimas duduk di sofa, dia melihat ke arah istrinya sesaat sebelum membuang nafas dengan kasar.


"Mau berdiri atau duduk?" tawar Dimas.


"Berdiri saja" pilihan terbaik menurut Reni dari pada dia harus duduk di sebelah Dimas.


Reni lebih memilih berdiri dari pada harus duduk bersebelahan dengan Dimas yang membuat dirinya semakin takut ketika mendengar dengusan nafas Dimas yang sedang kesal.


"Sepertinya aku terlalu baik memperlakukan mu selama kita menikah" Reni seketika mengangkat kepalanya mendengar penuturan Dimas.


"Maafkan aku" lirih Reni dengan tatapan mata penuh rasa penyesalah, dia bahkan tidak berani menyebut nama Dimas.


"Apa aku terlalu mengekang mu sehingga kamu menjadi pembangkang?"


Reni menggelengkan kepalanya.


"Aku yang memang tidak tahu diri dan terlalu memanfaatkan kebaikan mu". tutur Reni.


Selama ini Dimas tidak pernah melarang Reni kemana pun, yang penting tujuan Reni jelas dan meminta izin pada Dimas, Dimas selalu mengizinkan Reni pergi jika mempunyai alasan yang jelas.


"Apa mau mu sekarang Ren?"


"Maaf" lirih Reni.


"Apa kamu merasa tidak bebas jika pergi kemana pun harus izin dulu padaku"


Reni menggeleng.


"Apa perhatianku membuat mu tidak bebas dan merasa terikat hem"


Reni menggeleng.


"Apa kamu ingin aku mengacuhkan mu dan tidak perduli dengan apa yang istriku lakukan di luar sana" lirih Dimas namun terdengar begitu menyakitkan bagi Reni.


Reni langsung luruh terduduk dengan posisi memohon di depan Dimas, kepalanya bahkan Reni tenggelamkan di kaki sang suami.


"Aku mohon jangan seperti itu, hukum aku dengan tangan mu, aku lebih rela menerima pukulan mu dari pada kamu mengacuhkan ku"


Dimas diam.


"Pukul aku, pukul aku semau mu, pukul aku sekerasnya hingga rasa marah mu hilang, tapi jangan pernah mengacuhkan aku Dim, luka di tubuhku akan cepat sembuh tapi luka di hatiku tidak akan sembuh jika kamu mengacuhkan ku" Reni menangis, dia tidak bisa membayangkan jika Dimas benar benar mengacukannya.


"Bangun!" Dimas memegang bahu Reni "Jangan seperti ini, aku terlihat jahat jika kamu seperti itu, duduk di sebelah ku"


Reni menggelengkan kepala, dia masih dengan posisinya semula, Dimas bahkan bisa merasakan hangatnya air mata Reni yang membasahi kakinya.


"Apakah rasa cinta dan sayang ku menyiksa mu?"


"Maafkan aku, aku berjanji ini yang terakhir kali aku seperti ini, aku mohon jangan berubah, maafkan aku yang sangat tidak tahu diri, aku mohon Dim"


"Jangan pernah berjanji jika kamu akan mengingkari".


"Kamu boleh mengacuhkan ku jika aku mengingkarinya" jawab Reni dengan yakin, hari itu Reni berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi melakukan kesalahan yang membuat Dimas marah karena tingkah lakunya.


Dimas menghela nafas berat, dia kemudian berdiri, dia tarik pelan lengan Reni agar berdiri, Dimas langsung memeluk tubuh Reni.


"Maafkan aku jika cintaku membuat mu tak nyaman, maaf jika aku belum bisa membahagiakan mu, maafkan semua egoku yang membuatmu merasa terkekang selama ini" ucap Dimas tulus.


Reni langsung menangis dengan kencang, dia baru saja menyadari kebodohannya, bagaiman dia dengan tidak tahu diri menyia-nyiakan kepercayaan Dimas selama ini, bagaiman dia tidak bisa merasakan cinta dan sayang Dimas yang teramat besar untuknya.


Reni menampar wajahnya sendiri untuk menyadarkan dirinya atas kebodohannya, Dimas segera memegang tangan Reni, dia ciumi wajah Reni dan tangan Reni.


"Jangan pernah menyakiti dirimu sendiri, aku tidak akan mengizinkan kamu terluka"


Reni memeluk erat tubuh Dimas, entah kebaikan apa yang Reni perbuat di masa lalu sehingga Tuhan mengirimkan malaikat untuk menjadi suaminya.