
Amar terlihat gelisah, dia mermas ponsel yang berada di tangan kanannya, sudah beberapa kali menghubungi Namira namun nomornya tidak aktif, dia pun sempat menghubungi Anggi namun justru cibiran dan suara ketus Anggi yang Amar dapat.
"Dah nyerah gue" ucapnya dalam hati kemudian mengetik sesuatu di ponselnya.
"Yaudah besok kita pikirin bareng bareng" balas Noval, Amar memberitahu Noval jika dia tidak berhasil menghubungi Namira dan mendapat cibiran dari sang kekasih.
...****************...
Keesokan harinya.
Dimas datang ke sekolah sedikit terlambat, dia masuk ke dalam kelas ketika guru sudah memulai proses belajar, setelah mendapat izin dari guru Dimas langsung duduk di bangkunya.
Dimas yang biasanya selalu menyapa Daisi dan memberinya senyum manis pagi ini melewati Daisi begitu saja, bahkan sekedar melirik pun tidak Dimas lakukan.
"Men" ucap Ardi dengan suara lirih sembari menggelengkan kepalanya ketika Noval hendak menepuk punggung Dimas, Noval yang paham langsung menarik kembali tangannya yang hampir menyentuh punggung Dimas.
Waktu pelajaran pun habis di barengi dengan suara bell yang terdengar nyaring, Dimas yang biasanya akan langsung menarik Daisi ke belakang hari ini tidak dia lakukan, Dimas justru bergegas keluar dari kelas.
"Lo ikutin Dimas men" pinta Noval pada Ardi.
Ardi langsung bangkit kemudian berlari mengejar Dimas yang sudah keluar dari kelas.
"Namira gimana men?" tanya Noval pada Amar.
"Gak bisa di hubungi sama sekali" ucapnya pasrah.
"Anggi?" tanya Noval.
"Lo tau sendiri gimana Anggi, gue baru nyebut nama Dimas aja langsung mencak mencak tuh orang" sungut Amar yang masih kesal pada kekasihnya karena memarahinya kemarin.
Huh.... Noval menghela nafas panjang sembari meminit keningnya.
"Val" panggil Daisi yang berdiri di sebelahnya, terlihat wajah bersalah itu dengan tagapan nanar.
"Kenapa Dais?" tanya Noval dengan lembut, membuat Amar membelalakan matanya.
"Sejak kapan si beruang kutub lembut sama cewe" ucap Amar dalam hati, memang tidak ada yang tahu kedekatan Daisi dan Noval sebelumnya.
"Aku minta maaf" ucap Daisi tulus.
"Lo gak salah tenang aja" jawab Noval santai "Justru dengan adanya kejadian ini kita bisa nyadarin Dimas atas kesalahannya sama lo" lanjutnya.
Daisi masih menunduk, terlukis jelas kesedihan di wajahnya.
"Tenang aja Dais Everithing is under control" ucap Noval menirukan gaya bicara Ardi, hal tersebut sukses membuat Daisi tersenyum.
"Kamu gak ke kantin?" tanya Daisi, kantin adalah salah satu hal yang Daisi rindukan, karena selama bersama Dimas hampir tidak pernah Daisi ke kantin karena selalu di tahan Dimas di kelas.
"Lanjut aja, masih ada yang mau gue omongin sama Amar" tolak Noval dengan halus, Daisi mengangguk kemudian meninggalkan Noval dan Amar yang masih melongo melihat interaksi kedua orang di depannya.
"Sejak kapan lo deket sama dia" sambungnya.
Noval kemudian menceritakan awal mula kedekatannya dengan Daisi, Amar mendengarkan hal itu dengan seksama, mula mula Noval malas menanggapi Daisi mamun lama kelamaan entah bagaimana semuanya mengalir begitu saja.
"Hahaha" Amar terbahak setelah Noval selesai bercerita.
"Kenapa lo ketawa?" sungut Noval.
"Gue kira selama ini lo belok, ternyata orang model kaya lo bisa jatuh cinta juga"
"Jatuh cinta?" gumam Noval lirih, namun Amar masih bisa mendengarnya.
"Iya, tanpa lo sadari lo jatuh cinta sama pacar sahabat lo sendir" Amar tersenyum penuh arti "Mantan pacar tepatnya" ucapnya di iringi suara tawa yang kembali menggema.
Noval termenung mendengar penuturan Amar, apa benar dia jatuh cinta pada Daisi, jika pun benar dia akan menjadi orang yang jahat telah mencintai pacar sahabatnya sendiri walaupun sekarang sudah jadi mantan.
"Kenapa lo ngelamun, lagi mikir lo jatuh cinta apa engga" cibir Amar.
"Sotoy lu" ucap Noval sembari melempar sebuah buku ke arah Amar, bukannya berhenti justru Amar terus mengejek Noval, sialnya Noval terlihat salah tingkah.
"Udah men, kita fokus ke Namira lagi" ujar Noval berusaha mengalihkan perhatian Amar.
"Mau ngeles lo"
Noval segera menghampiri Amar kemudian langsung menjitak kepala sahabatnya yang sangat menjengkelkan itu.
"Ampun men ampun" teriak Amar karena merasa rambutnya hampir habis karena di jitaki dan di jenggut oleh Noval.
"Serius men" ucap Noval setelah melepaskan kepala Amar dari pitingannya.
"Iya iya" Jawab Amar sembari merapikan rambutnya.
Amar kemudian bercerita tentang rencananya untuk bertemu Namira, karena selama ini mereka tidak tahu di mana rumah Namira, jika mereka ke sekolah Namira akan membuat Anggi langsung mengamuk saat itu juga.
"Terus apa rencana lo?" tanya Noval.
"Kita buat Namira yang menemukan kita bukan kita menemukan Namira" jawab Amar penuh dengan keyakinan.
"Caranya?"
Bukannya menjawab Amar justru menaik turunkan alisnya mengejek Noval.
"Lo serius bisa gak?" kesal Noval melihat tingkah Amar.
"Caranya biar gue yang ngatur semua, lo fokus aja ngejar cinta Daisi, intinya terima beres" ucapnya yang membuat Noval kembali memiting kepala Amar dan memberi banyak jitakan serta jenggutan di sana.
Amar mendukung Noval bersama Daisi bukan karena dia ingin menusuk Dimas juga, alasannya karena Amar juga menyadari jika Dimas tidak benar benar cinta pada Daisi, Dimas hanya terobsesi dengan Daisi yang memiliki mata serta senyuman yang sangat identik dengan mendiang Anna, itulah sebabnya Amar mendukung Noval dan Daisi, selain itu Amar juga yakin pada dasarnya Dimas telah menaruh hati pada Namira hanya saja logika dan obsesinya mengalahkan kata hati Dimas, selain itu Noval tidak pernah dekat dengan wanita selama SMA dan baru pertama kali dekat dengan Daisi.