I Am Home

I Am Home
Tak ada peluang (Ulang tahun)



Setelah menghabis waktu di rumah Anna selama lebih dari empat jam Dimas kemudian mengajak Noval untuk pulang, karena waktu pun sudah sangat sore bahkan menjelang petang, di perjalanan mereka berdua lebih banyak diam bergelut dengan pikirannya masing masing, hanya sesekali mereka berbincang, Dimas sudah merasa tenang setelah mengetahui jika Anna baik baik saja, Anna bilang besok akan mulai masuk sekolah dengan gerakan secepat kilat Dimas langsung menawarkan diri untuk menjemput sang ratu.


"Men" panggil Dimas.


"Kenapa?" jawab Noval singkat padat seperti biasanya.


"Lo kenapa si pulang dari rumah Anna aneh banget, dari tadi diam mulu"


"Gue kan gini orangnya"


"Oh iya ya" Dimas pun tersenyum walaupun dalam benaknya ada rasa curiga tentang tingkah Noval yang terlihat lain dari biasanya, Noval memang selalu diam dan irit berbicara tapi Noval tidak pandai menyembunyikan rasa gelisanya, Dimas yang merasa Noval sangat gelisah setelah kembali dari rumah Anna ingin bertanya tentang penyebabnya, namun karena respon Noval yang terkesan enggan untuk membahas apa yang dia rasakan membuat terpaksa bungkam.


...****************...


Hari hari Dimas pun kembali berjalan normal setelah Anna kembali masuk sekolah, ritual wajib bermesraan dengan Anna ketika waktu istirahat pun dia lakukan seperti biasa, hal yang dia sangat rindukan ketika Anna tidak ada di sisinya.


Dimas sedang berada di kantin bersama the bad boys, saat tengah menikmati makanan tiba tiba ekspresinya berubah ketika bola matanya menangkap sosok yang beberapa hari belakangan sedang dia hindari.


"Kak Dimas" sapa Dinda dengan manja, dia langsung duduk di sebelah Dimas tanpa basa basi Dinda langsung menyedot minuman milik Dimas.


"Akh seger" ucapnya sembari meletakkan gelas di tempatnya semula, Dimas yang melihat hal itu pun menatap Dinda dengan tatapan jengah.


"Kak Dimas kok gak pernah balas pesan Dinda, telfon Dinda juga gak pernah diangkat" rajuk Dinda sembari bertingkah manja, namun terlihat memuakkan di mata Dimas.


"Ng.. itu...." Dimas langsung berfikir untuk mencari alasan agar tidak membuat Dinda curiga jika dirinya tengah berusaha menjaga jarak dengan Dinda.


"Kenapa?" Dinda menopang dagu sembari memiringkan kepalanya dan mempertajam pendengaran untuk mendengar alasan Dimas.


"Ardi mati" puk... secuil nasi langsung mendarat sempurna di dahi Dimas "Maksud gue kucing Ardi mati, Ardi shock dan sedih jadi gue menghibur Ardi beberapa hari ini"


"B*ngsat" beo Ardi tanpa megeluarkan suara sembari menatap Dimas tajam.


"Ih kasian" Dinda menatap Ardi "Dinda turut berduka ya kak Ardi" Dimas tertawa mengejek ke arah Ardi.


"Eh... iya iya makasih, udah ikhlas kok" jawab Ardi gugup.


Akhirnya mereka terus membahas masalah kucing Ardi, Dimas melebih lebihkan cerita yang membuat Ardi lesal bahkan ingin sekali Ardi meremas mulut Dimas ketika Dimas berkata Ardi menangis semalaman sembari memanggil manggil nama kucingnya.


"Kak Dimas nanti malam jangan lupa ya".


"Lupa?" ucap Dimas berusah mengingat ingat sesuatu hal.


"Ih tuh kan kak Dimas lupa" sungut Dinda.


"Eh, maaf Din gara gara kucing Ardi mati jadi ikut blank gue"


"Balik lagi b*ngsat" maki Ardi dalam hati.


"Ya sudah Dinda maafin" Dinda menggeser posisi duduknya menghadap Dimas "Nanti antar Dinda ke acara ulang tahun" lanjutnya.


"Ulang tahun?"


Cubitan seketika mendarat di perut Dimas, Dinda mencubit Dimas karena merasa kesal dengan respon Dimas, akhirnya Dinda kembali mengingatkan jika minggu lalu Dimas sudah berjanji akan datang ke acara ulang tahun bersama Dinda.


"Ya sudah nanti jam tujuh gue jemput kerumah". Dinda pun mengangguk kemudian,


Cup.....


"Kalau kak Dimas datang sebelum jam tujun nanti Dinda kasih yang spesial" Bisik Dinda di telinga Dimas sembari meniup ceruk leher Dimas.


Dimas langsung bergidik.


"Lihat aja nanti" jawab Dimas.


Dimas harus bisa menahan godaan dari Dinda, jika dia masih terus melakukan hubungan dengan Dinda akan lebih sulit dirinya terlepas dari Dinda.


Dinda tersenyum, sekali lagi dia mengecup pipi Dimas, kemudain dia pergi sembari melambaikan tangan dan memberi senyum manis pada Dimas.


"Hahahaha, bego bego gitu masih gigit men" terang Dimas.


"T*ek" sungut Ardi dan Amar.


...****************...


Dinda terlihat sangat cantik mengenakan dress berwana ungu menjadikan dirinya terlihat sangat dewasa, serasi dengan itu Dimas mengenakan pakain formal yang menjadikannya terlihat sangat sempurna, Dimas datang tepat jam tujuh, walau otaknya meminta Dimas datang lebih cepat agar mendapat pelayanan sesuai janji Dinda namun hati Dimas memenangkan perdebatan itu.


"Berangkat sekarang kita?" tanya Dimas yang di balas anggukan kepala oleh Dinda.


Dimas segera membukakan pintu mobil untuk Dinda, dia kemudian menutupnya perlahan setelah Dinda masuk, Dimas sedikit berlari memutari mobil, lalu melaju perlahan menjauh dari rumah Dinda untuk menuju ke tempat acara ulang tahun yang di gelar di salah satu hotel.


Mobil berhenti tepat di depan lobby salah satu hotel mewah di kota itu, dengan penuh perhatian Dimas membukakan pintu mobil untuk Dinda, kemudian memberikan tangannya dan langsung disambut oleh Dinda, mereka berdua masuk ke dalam, dan langsung menuju ke ballroom tempat pesta.


"Hmm sweet seventeen" gumam Dimas dalam hati ketika melihat angka 17 yang terdapat di pintu masuk ballroom, beberapa teman Dinda langsung menyambutnya ketika Dimas dan Dinda baru melangkah memasuki ballroom, terjadi kehebohan yang membuat Dimas merasa tidak nyaman.


"Din gue nunggu di sana ya" tunjuk Dimas ke salah satu sudut ruangan yang terdapat sebuah meja dan aneka minuman dengan berbagai macam warna, Dinda hanya mengangguk tanpa menjawab apapun, dia kembali heboh dengan teman temannya.


"Lho men" ucap Dimas dan Amar bersamaan ketika mereka tidak sengaja bertemu.


"Lo ngapain di sini?" tanya mereka bersamaan kembali.


"Lo dulu".


"Lo dulu"


Untuk ketiga kalinya mereka berbicara sama membuat Dimas langsung mengumpat.


"Gue sama Anggi kesini" jelas Amar "Lo?"


"Gue sama Dinda" jawab Dimas.


"Kok bisa lo sama Anggi di sini?" tanya Dimas penasaran.


"Kan ini ulang tahunya Namira" Dimas langsung berfikir tentang siapa Namira.


"Namira?" gumam Dimas pelan, dia ingin memastikan jika Namira yang Amar maksud adalah Namira yang sama dengan yang bertemu mereka tempo hari di caffe bersama Anggi.


"Yang ketemu kita di caffe, sahabat Anggi emang ada Namira yang lain" jelas Amar.


"Terus apa hubungannya Namira sama Dinda?"


" Ya mana gue tau" acuh Amar.


Mereka kemudian duduk di salah satu meja yang terdapat di sana, tak lama kemudian Anggi datang setelah di panggil oleh Amar, Anggi sedikit terkejut melihat Dimas di situ.


"Gue gak di undang, nemenin Dinda doang" jawab Dimas atas pertanyaan Anggi.


"Dinda adiknya Namira".


Dimas langsung melotot mendengar penuturan Anggi.


"****" umpat Dimas.


"Kenapa men?" tanya Amar karena Dimas tiba tiba mengumpat.


"Gak papa men tadi ada nyamuk"


Namira?, Namira bagaimana bisa jadi kakanya Dinda, bisa kacau dunia persilatan, tertutup sudah peluang Dimas untuk mendekati Namira apalagi Dimas berkeinginan untuk menjauhi Dinda, jika pun mereka nanti dekat Dinda pasti akan menentang hubungan sang kakak dengan dirinya.


"Iklasin aja lah' pasrah Dimas dalam hati.


Dinda pun kemudian datang menghampiri Dimas, dia mengajak Dimas untuk memberi ucapan selamat pada Namira yang tak lain adalah kakaknya, Dimas yang masih tegang berpura pura sakit dan meminta Dinda untuk menghampiri Namira sendiri sedangkan Dimas menunggu di situ, Dinda yang panik langsung menyentuh dahi Dimas, terdapat banyak keringat di sana dengan penuh perhatian Dinda menyeka keringat Dimas, tanpa Dimas sadari ada seseorang yang tengah merekam aktifitasnya sembari menyeringai jahat.


"Send" ucap Aldo setelah mengirim video kemesraan Dimas dan Dinda pada Anna.