
The bad boys melanjutkan langkahnya menuju kelas mereka, Rendi sudah pergi entah kemana, mereka berempat bersenda gurau sembari berjalan santai seakan tidak memiliki beban hidup, tak sedikit murid perempuan yang menyapa mereka bahkan ada yang terang terangan meminta nomor telfon Dimas dan Ardi.
"Kak Dimas" langkah the bad boys berhenti ketika ada suara merdu seorang perempuan memanggil nama Dimas.
"Dinda" ucap Dimas dengan mata berbinar ketika mendapati dinda yang memanggilnya.
"Biasa aja anying" kesal Ardi karena melihat senyum mengejek di wajah Dimas.
"Maaf Dinda ganggu kak" ucap Dinda sedikit gugup.
"Oh engga kok Dinda, kakak malah seneng liat bidadari" kedipan mata Dimas membuat Dinda salah tingkah.
"Najis" cibir tiga sahabat dimas melihat tingkah Dimas.
"Dinda cuma mau kasih ini buat kakak" Dinda menyerahkan sebuah paper bag.
"Apa ini Dinda?" tanya Dimas sembari menerima pemberian Dinda.
Dimas membuka paper bag pemberian Dinda untuk melihat isinya, dengan rona wajah merah dan malu malu Dinda berucap jika isi paper bag itu adalah makanan, Dinda kemarin membuat cheese cake untuk Dimas.
"Wah kak Dimas jadi enak nih Din" ucap Dimas sembari menunjukkan wajah tengil pada tiga sahabatnya "Makasih cantik" Dimas mengelus pucuk kepala Dinda, hal itu semakin membuat wajah Dinda merona.
Setelah mengucapkan terimakasih dan sedikit menggoda Dinda, the bad boys melanjutkan perjalanan menuju kelas, tentu saja dengan saling berebut paper bag yang ada di tangan Dimas.
"Nanti gue bagi anying jangan rebutan" kesal Dimas karena Ardi dan Amar berusaha merebut paper bag itu.
"Gak percaya gue, lo manusia paling pelit yang pernah gue kenal" sergah Ardi sambil terus berusaha merebut paper bag dari tangan Dimas.
"Lo aja yang ngelunjak kampret" sungut Dimas.
Noval hanya menggelengkan kepala melihat tingkah ketiga sahabatnya.
"Ck.. ck.. ck.." suara decakan menghentikan aksi rebutan tiga manusia absurd itu.
Terlihat Anita yang tengah berdiri di depan kelas the bad boys sambil menyilangkah tangannya di depan dada.
"Loh Anita" sambut Ardi antusias, Anita salah satu siswi tercantik di sekolah itu, walaupun dia sudah kelas tiga tapi tidak membuat Ardi untuk tidak memasukkan nama Anita ke dalam daftar perempuan incarannya.
"Nyari gue Nit, tinggal lo telfon aja gue pasti samperin ke kelas lo" ucap Ardi dengan percaya diri yang tinggi.
"Dimas" ketus Anita yang membuat Ardi langsung menekuk wajahnya dan langsung mendapat olokan dari ketiga sahabatnya.
"Lo bertiga masuk dulu sana, nih bawa kedalam" Dimas menyerahkan paper bag pada Ardi.
"Giliran ketemu cewe aja sok sokan lo" cibir Amar dan Ardi.
"Ada apa Nit?" tanya Dimas setelah ketiga sahabatnya pergi.
"Pengin ketemu kamu aja bang" jawab Anita dengan suara manjanya.
"Ye ga jelas lo ah" cibir Dimas sembari di warnai suara tawanya.
Mereka pun kemudian berbincang ringan, Anita ternyata membawakan makanan juga untuk Dimas, yang langsung di sambut suka cita oleh Dimas, Anita yang mengajak Dimas ke kantin langsung di tolak oleh Dimas, Dimas justru mengajak Anita masuk saja ke dalam kelas, Anita yang merasa sungkan pun menolak ajakan Dimas, namun bukan Dimas namanya jika langsung menyerah begitu saja, dengan bujuk rayu dan kata kata manis akhirnya Anita mau masuk ke dalam kelas Dimas.
Anita tersentak ketika melihat keadaan ruang kelas Dimas, apalagi ketika dia sampai di bagian belakang ruangan, terdapat sebuah permadani dan dua bantal kecil di sana.
"Kamu mau sekolah apa tidur di kelas Dim? tanya Anita yang hanya di balas kekehan oleh Dimas.
"Geser lo" Dimas menendang paha Ardi dan Amar yang tengah duduk, Dimas kemudian mempersilahkan Anita untuk duduk di sebelahnya.
"Stop" pekik Dimas ketika Ardi hendak memotong cheese cake pemberian Dinda.
"Gue yang potong, ini kan punya gue" ucapnya yang membuat Ardi melemparkan pisau plastik ke arah Dimas.
"Pelit lo" cibir Ardi.
"Bodo am.."
"Udah ah, ribut terus kalian kaya Tom and Jerry" cegah Anita.
"Kenapa, ada yang salah?" tanya Anita yang melihat tiga sahabat Dimas sedang bengong.
"Eh... engga engga" jawab ketiganya kompak seraya tersenyum kikuk.
Acara makan makan the bad boys dan Anita berlangsung dengan suasanya yang meriah dan penuh kegembiraan, terdengar gelak tawa dari mereka ketika Ardi dan Amar mengejek Anita yang bersikap manja pada Dimas.
"Udah udah" tegur Dimas saat melihat wajah Anita merah padam.
Bukannya berhenti justru Ardi dan Amar semakin menjadi dalam mengejek Anita, bahkan mereka tak sungkan menggoda Anita.
"Aku balik ke kelas dulu ya" pamit Anita ketika melihat jam istirahat hanya tersisa lima menit lagi, Dimas pun langsung berdiri dan hendak mengantarkan Anita ke kelasnya.
Dimas dan Anita berjalan beriringan keluar dari kelas.
"Dim"
"Kenapa Ann?" tanya Dimas ketika Anna memanggilnya saat mereka melewati tempat duduk Anna.
"Aku mau bicara" ketus Anna.
"Gue anter Anita dulu ya"
"Sekarang" ucap Anna tegas.
Dimas pun menghela nafas panjang, untung saja Anita bisa mengerti, jadi dia meminta Dimas untuk tidak mengantarkannya ke kelas.
"Aku sendiri aja Dim gak papa"
"Maaf ya Nit" ucap Dimas.
"Iya gak papa Dim, duluan ya" Anita memberi senyum manis pada Dimas ketika mereka berpisah di depan kelas Dimas.
"Mau ngomong apa Ann?" tanya Dimas setelah kembali masuk ke dalam kelas.
"Aku gak suka kamu deket deket sama dia" sinis Anna.
"Dia?" Dimas menautkan alisnya.
"Anita" ketus Anna.
Dimas pun terbahak melihat wajah cemberut Anna, wajah yang membuat semua laki laki menjadi gemas.
"Aduh aduh ada yang cemburu ya" ucap Dimas manja sembari mencubit pipi Anna karena gemas.
"Lepas" ucap Anna tapi tidak berusaha menepis tangan Dimas yang tengah menguyel uyel pipinya.
"Mulut sama badan kok gak sinkron" goda Dimas yang langsung membuahkan cubitan di perutnya.
"Aduh ampun" teriak Dimas pura pura kesakitan.
Di belakang kelas tatapan iri terlihat dari mata Amar dan Ardi yang langsung mengutuki Dimas.
"Pakai pelet apa tuh si kampret, Dinda cewe paling cantik kelas satu nyangkut sama Dia, Anita cewe paling cantik kelas tiga juga nyangkut, di tambah Anna" ucap Ardi sembari menggelengkan kepalanya.
Ketiga nama itu adalah nama yang terpilih sebagai murid tercantik ketika saat MOS dulu.
"Kayanya si kampret main ilmu hitam sekarang" Cibir Amar.
Ardi langsung menatap Amar, mereka kemudian tergelak karena pikirannya masing masing.
Dimas kembali ke tempat duduknya setelah mendengar bunyi bel.
"Tunggu" cegah Anna ketika Dimas sudah berdiri.
"Elus kepalaku dulu" pintanya yang dibalas senyum lebar oleh Dimas, Dimas langsung mengusap kepala Anna dengan lembut, tidak lupa dia juga mencubit pipi Anna sebelum berlalu pergi.