I Am Home

I Am Home
Firasat Ardi



The bad boys tengah berkumpul di rumah Amar, rumah yang mereka jadikan markas hampir tiga tahun ini, rumah penuh kenangan yang akan mereka rindukan ketika sudah berpisah untuk meraih masa depan masing masing.


"Men" panggil Ardi sembari menepuk kaki Dimas.


"Apa?" jawab Dimas malas, matanya masih fokus menatap layar ponsel, dia sedang berkirim pesan dengan Namira.


"Gimana hubungan lo sama Namira?" tanya Ardi.


Dimas melihat kearah Ardi.


"Baik" jawabnya sembari memberikan senyum yang menjengkelkan.


"Dinda?"


Dimas seketika langsung meletakkan ponselnya, dia bangun dari posisi tidurnya dan langsung duduk dengan wajah serius menatap Ardi.


"Kenapa Dinda?" tanya Dimas, walaupun dia sudah tahu kemana arah pembicaraan Ardi.


"Gak usah tanya kenapa, lo pasti udah tau" ucap Ardi dengan wajah yang langsung berubah serius.


Namira adalah kakak kandung Dinda, Dimas tentu saja tahu hal itu, namun Dimas seakan tidak berfikir akan masalah yang mungkin saja bisa timbul karena hubungan masa lalunya dengan Dinda.


"Gue belum bahas masalah ini sama Dinda" lirih Dimas, terlihat jelas ketakutan di matannya.


"Ck... ck.. ck.." Ardi berdecak "Udah gue duga" tandasnya.


Noval yang duduk di sebelah mereka hanya memperhatikan obrolan dua sahabatnya tanpa ikut campur, sedangkan Amar yang baru saja masuk langsung duduk nimbrung obrolan Ardi dan Dimas.


"Bagaimanapun Namira harus tahu men" ucap Amar yang di balas anggukan oleh Ardi.


"Lebih baik Namira tahu dari lo langsung dari pada tahu dari orang lain" Ardi menatap wajah Dimas lekat lekat "Pasti lebih sakit kalau tahu dari orang lain" ucapnya yang membuat wajah Dimas lebih murung.


Dimas kembali tertunduk, perasaan bahagia yang sebelumnya dia rasakan tiba tiba hilang begitu saja terganti dengan rasa takut yang teramat sangat, di pikirannya langsung terbayang wajah Namira yang penuh dengan kekecewaan, ya Namira mungkin tidak akan marah ketika mengetahui hubungan Dimas dengan Dinda tapi Namira akan merasa kecewa, dan itu lebih menyeramkan bagi Dimas.


"Gue harus gimana?" gumam Dimas lirih.


"Lo temuin dulu Dinda sebelum bicara sama Namira" usul Ardi.


"Tapi apa mungkin Dinda terima kalau tahu gue ada hubungan sama kakanya?"


"Setidaknya lo udah nyoba kasih tahu men, masalah gimana respon Dinda kita pikir belakangan" Ardi berusaha menyemangati Dimas.


Dimas terdiam kembali tenggelam dalam lamunannya, bayang bayang kemarahan Dinda langsung menghantui, masih teringat jelas dalam ingatan kepalanya bagaimana tangis Dinda ketika Dimas dengan tanpa perasaan memaki Dinda, bahkan merendahkan harga diri Dinda.


"Santai aja men, kita selalu ada buat dukung lo, kita pasti bantu lo demi kebahagiaan lo" Noval yang dari tadi diam kini berbicara untuk menguatkan Dimas.


"Ketika lo mengambil langkah yang salah kita gak pernah ngejauhin lo men karena kita lihat lo bahagia, apalagi saat lo mau ambil langkah yang benar demi kebahagiaan lo, kita pasti akan selalu ada paling depan untuk bela lo" tutur Amar panjang lebar.


Dimas sedikit bisa tersenyum setelah mendapat semangat dari para sahabatnya, sahabat yang selalu ada dalam suka duka, tidak pernah meninggalkan sedetik pun ketika Dimas dalam masa terpuruknya, bahkan para sahabatnya rela menjadi pelampiasan kekesalan Dimas.


"Jangankan cuma Dinda men, lo gak inget waktu lo nantang Tuhan dulu, kita bahkan dengan bodohnya tetap berdiri di belakang lo" gurau Ardi memecah ketegangan yang tengah terjadi.


Ucapan Ardi berhasil memancing gelak tawa, mereka semua kembali teringat ketika Dimas memaki maki Tuhan karena merasa hidupnya sangat tidak adil setelah kepergian Anna, tanpa takut Dimas bahkan menantang Tuhan saat itu, Dimas yang sudah tidak memiliki harapan hidup setelah di tinggalkan Anna membuat akal sehatnya hilang.


"Lo semua emang sahabat gue yang paling biad*b" ucap Dimas.


"Dan lo" Ardi menunjuk wajah Dimas "Sahabat kita yang paling gak tau diri men".


Akhirnya suara tawa menghiasi kebersamaan mereka hari itu, tidak ada lagi ketakutan yang menghantui Dimas, tidak ada lagi keraguan di hatinya, kini rasa percaya diri Dimas meningkat karena semangat dari para sahabatnya, Dimas tidak takut lagi menghadapi hari esok yang akan menentukkan bagaimana nasib hubungannya dengan Namira.