I Am Home

I Am Home
extra part 9



Pov Reni


Aku tengah duduk di atas bangku bersama Anna, tangan ku terus mengusap dengan lembut punggung Anna yang tengah menangis tersedu sedu, meskipun Anna tidak cerita apapun tapi aku yakin semua ini berhubungan dengan Dimas, karena tadi Aku sempat melihat Anna yang tengah mengobrol dengan Dinda yang menurut gosip jika dia adalah pacar Dimas dari kelas satu.


"Emang apa si Ann yang bikin lo bertahan sama manusia model Dimas gitu" Aku bertanya dengan nada cukup tinggi karena merasa kesal.


Anna menghapus sisa air mata di wajahnya, meskipun tadi dia terlihat tegar saat Dinda bercerita mengenai sejauh apa hubungannya dengan Dimas, namun hati Anna sungguh terasa sakit.


"Kamu gak akan tahu sebelum kamu mencintai Dimas Ren" jawab Anna sembari tersenyum manis padaku.


"Cih.. cinta" cibir ku sembari membuang muka.


"Suatu hari kamu bakal tahu saat kamu mencintai Dimas, bahkan kamu akan rela menerima sakit yang akan dia berikan nanti ketika hal itu terjadi"


"Amit amit" Kata yang spontan keluar dari mulut ku sembari aku memukul pelan kepala ku kemudian aku pukul meja di hadapanku.


Ucapan Anna dulu yang hanya aku anggap sebagai omong kosong belaka, ucapan yang aku pikir karena dia sedang tergila gila dengan cinta, hari ini telah aku buktikan sendiri kebenaran ucapan dari Anna, bahkan aku terus tersenyum ketika mengingat Anna sempat berbicara jika suatu hari aku akan mencintai Dimas, hal yang langsung aku tolak mentah mentah saat itu.


Kini aku sangat bahagia dengan keberadaan Dimas di samping ku, Aku telah meyakini semua ucapan Anna, kini aku sangat mencintai dan menyayangi Dimas bahkan aku rela jika saja Dimas memperlakukan ku dengan buruk, aku akan tetap bertahan sesakit apapun itu, namun Tuhan sangat baik pada ku, justru Dimas membalas rasa cinta dan sayang ku dengan lebih besar lagi, tidak pernah sekalipun Dimas tunjukkan keburukannya pada ku, Dimas selalu memperlakukan aku bak seorang Ratu.


"Kamu benar Ann, Dimas memang istimewa, pantas saja kamu tetap bertahan di sisinya dulu sesakit apapun luka yang kamu rasakan" gumam ku saat teringat dengan semua ucapan sahabat terbaik ku itu.


Aku ingat sesabar apa Dimas menghadapi tingkah ku, dulu saat aku sedang mabuk di diskotik bersama teman teman ku, Aku yang dalam keadaan setengah sadar melihat Dimas datang, tak ada gurat kemarahan atau kekecewaan di wajah tampan Dimas saat itu, dia datang dengan tersenyum dan berbicara pada teman ku akan mengajak ku pulang karena aku sudah mabuk, awalnya aku kira dia akan memaki ku di tempat itu saat itu juga.


"Apa kamu begitu cinta dengan alkohol hmm?" tanya Dimas di pagi hari setelah aku tersadar.


"Apa kamu akan memarahiku karena aku mabuk?" Aku tatap tajam mata suamiku itu, aku ingin tahu se sabar apa dirinya.


Aku selalu membantah Dimas, aku sering berbicara ketus pada Dimas di awal awal pernikahan dulu, karena beginilah aku, aku masih belum terbiasa hidup di bawah aturan Dimas, aku masih ingin hidup dengan cara ku sendiri dan melakukan apapun yang aku inginkan.


Dimas hanya tersenyum manis menanggapi tingkah ku saat itu, mungkin jika suami ku bukan Dimas, saat itu juga aku akan merasakan perih di wajah ku akibat ditampar atas sikap kurang ajar ku.


"Aku hanya tidak siap jika harus membedah perut mu untuk mengangkat ginjal mu nanti Ren" Aku langsung membelalakkan mataku, bagaimana bisa manusia ini malah bercanda.


Aku sangat terkejut mendapat respon seperti itu dari Dimas, padahal aku sudah membayangkan Dimas yang akan memaki ku habis habisan, bahkan aku sudah siap jika Dimas akan menampar ku.


"Lebih baik kamu marah padaku, kamu tampar aku, jangan menakut nakuti aku seperti itu heh!" Aku sangat kesal melihat senyum menjengkelkan saat dia bercanda tadi.


Dimas malah terkekeh pelan, dia belai lembut kepala ku sembari mengecup kening ku, hal yang langsung membuat hatiku meleleh karena perlakuan manisnya itu.


"Bagaimana aku akan menyakitimu ketika aku sudah berjanji tidak akan menyakutimu dalam bentuk apapun" ucapnya seraya menatap mata ku dalam dalam "Janji adalah harga diri seorang laki laki wahai gadis nakal ku" jantung ku langsung berdebar saat itu, apa lagi dia mencolek dagu ku, huh gemas sekali aku dengannya.


"Aku bukan gadis" aku menggodanya "Apa kamu lupa hampir setiap malam kamu meniduriku" aku menyidirnya tentang apa yang dia lakukan setiap malam, walau aku pun sangat menyukai itu, hehe.


Begitulah rumah tangga aku dan Dimas, tidak pernah kita berdua menyelesaikan masalah dengan adu mulut atau saling memaki, Dimas selalu bersikap lembut saat aku sedang marah, meskipun dia tidak salah dia tetap mengalah.


Jika Dimas sudah merasa sikap ku sudah keterlaluan, dia akan berbicara dengan formal dan menyebut nama lengkap ku, aku langsung bergidik ngeri jika itu terjadi, sungguh aku paling takut pada tatapan Dimas dengan wajah datarnya.


"Sayang lebih baik kamu membentakku atau memakikku, aku lebih takut dengan mu yang berbicara pelan sembari menatapku tajam" Aku sering protes seperti itu pada Dimas, aku terbiasa menghadapi watak keras ayah ku, aku sudah biasa di bentak dan di caci maki oleh ayah jika aku membuat kesalahan, bahkan pukulan dari ayah sudah sering aku rasakan dulu.


"Aku takut kalau kamu sudah memanggil ku dengan nama lengakapku di tambah wajah datar dan senyum mengerikan mu itu sayang" aku merayu seperti itu ketika Dimas sudah mulai memasang wajah datar dengan tatapan dingin.


Menurut kalian apa yang paling mengerikan saat seseorang sedang marah, bentakannya? makiannya? atau tatapan tajam dengan wajah memerah, mungkin benar, sungguh aku lebih suka dengan hal itu jika Dimas marah, tapi Dimas tidak seperti itu dia akan menatap ku tajam dengan wajah datar dan senyum iblis di wajahnya, sungguh itu sangat mengerikan bagi ku.


Aku sangat bersyukur dengan anugerah yang Tuhan berikan karena telah memberi ku hadiah yang luar biasa dengan menjadikan Dimas sebagai suami ku, mungkin banyak di luar sana wanita yang menjadi pelampiasan suaminya ketika marah, wanita yang tidur dengan rintihan dan air mata setelah menghadapi kemarahan suaminya, namun hal itu tak pernah aku rasakan, aku berani bersumpah, Dimas mempunyai cara tersendiri ketika marah pada ku, caranya mendidikku agar aku menjadi pribadi yang lebih baik membuatku jatuh cinta setiap hari padanya, dia akan meminta ku berdiri di depannya, dia berbicara dengan bahasa formal saat menginterogasi ku, menurut ku itu lebih menakutkan dari pada bentakan ayah, apalagi saat Dimas sudah memanggil diri ku dengan nama lengkap entah kenapa keberanian ku langsung lenyap seketika, bulu kuduk ku langsung meremang saat itu, aku tidak akan berani mendebat dan membantah ucapannya, bahkan tubuh ku seakan otomatis merespon semua perintah Dimas.


Pernah suatu ketika aku coba bertanya pada Dimas untuk mengetahui tingkat kesabarannya.


"Sayang kalau setiap hari aku mabuk kamu marah?" tanya ku dengan senyum jahil.


"Tidak" dia bahkan menjawab seraya tersenyum manis.


"Kalau aku melawan mu, membentak mu atau membuatmu kesal walaupun kamu tidak salah, kamu marah tidak?"


"Mmm berarti kamu tidak akan marah apapun yang aku lakukan?"


Dia mengangguk "Kecuali penghianatan, selain itu sebanyak dan sebesar apapun kesalahan mu aku akan memaafkan mu Ren".


Aku mengulum senyum, aku kira dulu dia hanya berbicara omong kosong untuk sekedar merayu ku saat meminta aku untuk menjadi istrinya, ternyata dia benar benar memegang ucapannya, tak sekalipun dia melanggar janjinya.


"Sayang kalau seumpama nih ya seumpama sayang" aku sungguh berusaha mengumpulkan keberanian untuk bicara, sebenarnya aku sangat takut untuk bertanya "Aku tidak sengaja berselingkuh apa kamu akan memaafkan ku?" aku meremas tangan ku saking takutnya.


Dimas masih tersenyum manis "Tidak ada orang yang berselingkuh tidak sengaja Ren" jawabnya dengan tenang, selembut apa hatimu suamiku?.


"Jadi?"


Sring.... tiba tiba tatapannya berubah menjadi menyeramkan dengan senyum iblis di bibinya, aku benar benar takut melihat wajahnya yang seperti itu, bahkan aku langsung membuang pandanganku agar tidak melihat wajahnya.


"Aku akan memaafkan mu" Eh... aku benar benar terkejut hingga tanpa sadar aku menyunggingkan senyum di bibir ku "Tapi setelah aku membedah tubuh mu dengan pisau bedahku tanpa memberi anestesi padamu".


"Kamu adalah iblis Dimas, walaupun kamu memperlakukan ku seperti malaikat yang baik" geram ku dalam hatiku, apa kamu tidak tahu setakut apa aku, huh! sebal.


Glek..... aku langsung menelan saliva ku dengan susah payah, tangan ku tiba tiba bergetar mendengar ucapannya yang sangat meyakinkan itu, tidak ada keraguan di matanya saat berbicara seperti itu, aku mencoba tersenyum meskipun bibir ku bergetar hebat.


"Aku tidak mungkin melakukan itu sayang" ucap ku untuk mengurangi sedikit ketakutan ketika melihat senyum iblis itu.


"Arrrrggg iblis tetaplah iblis"


Dimas tersenyum hangat, dia dekap tubuh ku yang sedang bergetar karena takut "Aku percaya padamu Ren" seketika hatiku kembali tenang, rasa takut ku hilang begitu saja ketika dia berbisik dengan suara lembut di telinga ku.


Dimas menangkup wajah ku "Jika suatu hari kamu bosan padaku dan ada laki laki lain yang bisa membuatmu bahagia, kamu katakan pada ku langsung, jangan pernah mengkhianati pernikahan kita, aku akan melepaskan mu dengan senyuman meskipun ada tangisan dalam hatiku"


"Tidak akan ada orang sepertimu lagi di luar sana sayang, aku berani bertaruh".


Aku tersenyum lebar, ku cium pipinya berulang kali "Hanya wanita bodoh yang membuang berlian dalam genggamannya sayang, dan aku bukan lah wanita bodoh" jawab ku dengan lantang.


Aku sangat yakin jika Dimas adalah mahluk yang Tuhan ciptakan untuk ku, aku tetap akan bertahan meski dia bersikap seburuk apapun padaku.


"Jika kamu sudah bosan padaku nanti sayang, kamu pergilah dengan wanita yang membuat mu bahagia, tapi kembalilah pada ku setelah itu, aku akan tetap menyambut mu dengan pelukan hangat yang selalu menenangkan mu seperti biasa" aku berbicara dalam keadaan sadar, sumpah.


"Hahaha" Dia tergelak ingin rasanya aku berteriak di depan wajahnya "Hei tidak ada yang lucu", Aku kadang kesal dengannya yang selalu saja bercanda, Huh.


"Kenapa kamu tertawa sayang?' Aku penasaran.


"Kamu hanya akan memeluk foto ku saat aku berselingkuh"


"Apa!!!!"


"Ish... Dimas" Ku acak acak rambutnya karena kesal "apa kamu tidak akan kembali lagi padaku" Sungguh aku teramat takut dia pergi, bahkan dalam bayanganku saja aku tak akan pernah mengizinkan dia pergi meninggalkan ku.


Dimas tersenyum, Eh. Kenapa ada manusia seunik dirimu sayang.


"Noval akan langsung membunuhku dan membuang jasadku di pedalaman hutan jika sampai dia tahu aku berselingkuh" jawabnya yang membuatku melongo seketika.


"Hahaha" Aku terbahak dengan keras, ya aku ingat, dulu si pria dingin itu pernah memberi wejangan saat aku menikah.


"Aku lupa Noval dulu pernah berpesan kalau kamu menyakitiku, aku harus bilang padannya, dia akan memberi pelajaran pada mu".


Aku cium wajahnya berulang kali, aku cubit pipinya itu, hei Dimas kamu tahu seberapa berharga diri mu dalam hidupku, mungkin jika itu laki laki lain dia akan langsung besar kepala dan bertingkah semaunya sendiri ketika tahu aku sangat mencintainya, sama seperti mantan brengs*k ku itu, tapi kamu justru melakukan hal sebaliknya, iya kamu! Dimas yang sangat mejengkelkan, kamu justru membalas berkali kali lipat dengan rasa cinta dan sayang lebih besar dari apa yang aku berikan, aku bisa merasakan itu.


Satu lagi yang membuatku kadang kesal dengan Dimas, dia adalah orang yang tertawa dengan keras setiap aku di tindas oleh ibu ku, aku juga tidak tahu kenapa dia sebahagia itu ketika melihat wajah ku sedang kesal karena di bully oleh orang tuaku sendiri, dasar Dimas menjengkelkan.


Di balik sifat kekanakannya ketika bersama sahabatnya itu, di balik sikap sok berwibawa saat di rumah sakit, tapi kamu adalah orang yang sangat sempurna ketika bersamaku Dimas, Dimas Mahendra aku mencintaimu, titik.