
Dimas dan Noval langsung menuju ke rumah Anna setelah mengantar Ardi dan Amar ke markas besar mereka, markas besar tapi kecil alias kamar Amar.
"Men menurut lo gimana caranya gue jauhin Dinda?" tanya Dimas, memang Noval tidak pernah dekat dengan wanita namun selama ini nasihat dari Noval selalu terbukti ampuh untuk mengatasi masalah Ardi dan Dimas ketika berurusan dengan selir mereka.
Noval adalah kartu As bagi Dimas dan Ardi, ketika mereka tengah buntu menghadapi permasalahan dengan para selirnya, nasihat Noval akan sangat membantu dan selalu terbukti ampun dalam menyelesaikan masalah mereka.
"Ada satu cara paling ampuh men".
"Ampuh" Dimas menyeringai.
"Apa men?" tanya Dinas dengan semangat 69.
Noval memutar kepalanya menghadap ke arah Dimas, dia tatap lekat lekat mata Dimas, Dimas membalas tatapan itu dengan wajah berbinar sembari tersenyum penuh harap sesekali dia mengangguk anggukan kepala.
"Potong burung lo".
"B*ajingan" sambut Dimas dengan begitu sopan setelah mendengar saran Noval.
Tanpa rasa bersalah telah membuat Dimas kecewa, Noval kembali mengarahkan pandangannya kedepan, wajahnya kembali ke mode tanpa ekspresi apapun walaupun orang di sebelehanya tengah mengutuki dirinya seraya memberikan sumpah serapah.
"Lo jauhi pelan pelan mulai dari hal kecil dulu" Dimas mengerutkan dahinya mendengar Noval mulai bicara serius.
"Jangan sering bales chat dia atau angkat telfon dari dia, tolak keinginan dia pelan pelan, tapi jangan terlalu mencolok" entah karena sudah muak mendengar sumpah serapah Dimas atau mungkin kasihan melihat sang sahabat, akhirnya Noval memberikan saran dengan bijak.
Dimas kembali manggut manggut setelah mendapat pencerahan dari Noval.
Beberapa menit kemudian.
Ting tong.....
Bunyi bel seketika terdengar dari dalam setelah Dimas memencet sebuah tombol yang berada di gerbang rumah Anna.
"Eh nak Dimas" terlihat raut wajah terkejut ketika wanita yang masih terlihat cantik di usia senja itu membuka pintu pagar.
"Mama" sapa Dimas ramah sembari memberikan senyum terbaik, Dimas dan Noval pun bergantian mencium punggung mama Anna.
Dimas memang sudah akrab dengan keluarga Anna, Dimas sering kali berlama lama di rumah Anna setelah dia mengantar Anna pulang.
"Mari masuk nak" Mama Anna mempersilahkan Dimas masuk setelah membuka pintu pagar rumahnya.
"Anna ada Ma?" tanya Dimas setelah berdiri di teras rumah Anna.
"Ada di dalam" Mama Anna kemudian mengantarkan Dimas ke dalam, dia memberitahu Dimas jika Anna sedang berada di taman belakang rumahnya.
Dimas berjalan ke arah yang di tunjuk oleh mama Anna, Noval mengekorinya dari belakang, dengan wajah datar tanpa ekspresi dia melihat sekeliling rumah Anna, tatapannya terhenti ketika melihat tumpukan obat yang berada di atas nakas ruang tamu.
Huh.......
Noval langsung membuang nafasnya kasar.
"Ann" lirih Dimas ketika melihat punggung gadis yang beberapa hari terakhir dia rindukan.
"Dimas" kejut Anna, Anna langsung beranjak dari duduknya untuk menghampiri Dimas, tidak ada yang berubah dari Anna wajahnya masih cantik seperti biasa hanya saja pipinya terlihat lebih tirus.
"Kamu kesini gak bilang bilang si?" tanya Anna setelah mempersilahkan Dimas dan Noval duduk.
"Gimana mau bilang, gue telfon gak diangkat kirim pesan gak di bales huh...." kesal Dimas yang membuat Anna terkekeh pelan.
"Maaf maaf, aku terlalu menikmati liburan hehe" senyum Anna terlihat sangat manis namun ada kegetiran di balik senyum manis itu, hanya Noval yang menyadari.
"Ishh lo itu ya" Dimas kemudian membrondong Anna dengan berbagai pertanyaan, Anna hanya senyum senyum melihat Dimas yang tengah kesal.
"Kamu ganteng deh" goda Anna.
"Iya tapi malah bikin kamu tambah ganteng" Anna mengedipkan matanya hingga membuat Dimas tersenyum lebar, siapa yang bisa menahan diri ketika melihat tingkah Anna yang sangat menggemaskan, Dimas langsung mengelus pucuk kepala Anna sembari mencubit pipi Anna.
"Lo kurusan Ann?" ucapnya dengan tangan masih memegang pipi tirus Anna.
"Engga kok, masih chubby gini" jawabnya sembari ikut memegang pipinya sendiri, sesekali dia tarik untuk membuktikan bahwa dia tidak kurus.
"Ehem" Noval berdehem karena merasa menjadi obat nyamuk dari tadi.
"Loh men, dari tadi di sini?" ledek Dimas yang membuat Noval langsung melotot.
"Kalian berdua lucu ya kalau dekat kaya Tom and Jerry kalau jauh kangen kangenan" ucap Anna sembari tertawa lepas.
Dimas pun kembali mengelus kepala Anna.
"Ann" Dimas terkejut ketika mendapati rambut Anna yang ikut menempel di tangannya.
"Rontok?" tanya Dimas.
"Iya kemarin salah sampo waktu di pulau" kilah Anna yang membuat Noval langsung menatapnya dengan tatapan penuh curiga, Anna yang mendapati Noval tengah menatapnya langsung menggelengkan kepalanya sembari memberi kode melalui matanya.
"Dim aku lagi pengin kopi di caffe biasa" Pinta Anna dengan nada manja.
"Ya sudah ayo kita kesana" jawab dimas dengan penuh semangat.
"Tapi aku maunya minum di sini, kamu yang beliin ya, ya, ya"
Dimas langsung mengiyakan permintaan Anna, namun dia seketika langsung protes ketika Anna melarang Dimas untuk mengajak Noval, Anna beralasan ingin berbincang dengan Noval, dengan sedikit rayuan dan ekspresi menggemaskan akhirnya membuat Dimas luluh.
"Sampai kapan Ann?" tanya Noval setelah kepergian Dimas.
Anna hanya diam, dia terisak lirih mendapati pertanyaan dari Noval, dia sesekali menyeka air mata yang keluar dari sudut mata indahnya.
"Sampai kapan lo bakal nyembunyiin ini dari Dimas?" tanya Noval dengan nada yang lebih tegas.
Huh.... Noval menghela nafas panjang.
"Lo gak bisa gini terus Ann, lebih baik lo kasih tau Dimas dari sekarang, dia akan hancur ketika terlambat tau rahasia lo itu Ann" ucap Noval dengan nada lirih.
"Aku belum siap, aku takut jika Dimas menjauh setelah tahu semuanya" rintihan yang sangat menyayat hati terdengar begitu pilu keluar dari mulut mungil Anna.
"Gue bakal nyeret dia kalau sampai menjauh setelah tahu semuanya Ann" ucap Noval dengan tatapan tegas dia berikan pada Anna.
Anna hanya menggeleng.
"Gue yang bakal ngomong kalau lo gak sanggup" ketegasan terlihat sangat nyata di mata Noval.
"Aku mohon jangan, kasih aku waktu buat kuatin mental dan kumpulin keberanian aku Val" mohon Anna.
"Gue kasih waktu sampe kenaikan kelas kalo lo gak ngomong juga gue yang bakal ngomong ke Dimas rahasia kita" ucapnya sembari menatap langit dengan tatapan nanar, ada rasa sesal yang terlihat dari bola mata Noval.
Keheningan tercipta diantara mereka berdua, posisi Noval saat ini serba salah, jika dia diam maka dia akan menjadi orang yang merasa paling bersalah apabila terus menyembunyikan hal penting ini pada Dimas, namun jika dia bicara saat ini dia juga takut hal buruk akan terjadi pada Anna, karena mental Anna yang masih lemah.
"Aku mohon tetap simpan rahasia kita sampai nanti aku siap buat bicara sama Dimas" Noval hanya sedikit mengangguk mendengar permintaan tulus dari Anna.
Rahasia besar yang telah Noval sembunyikan dari Dimas terkait dengan Anna, sudah berbulan bulan di kubur dalam dalam rahasia itu, namun Noval pun tidak tahu sampai kapan rahasia itu terkubur.
"Tapi lo harus tetap ngomong sam Dimas Ann, rahasia ini bisa jadi boomerang jika Dimas terlambat mengetahuinya" lirih Noval tapi tetap terdengar ketegasan di balik suaranya.
Anna mengangguk pelan, dia pun menyadari cepat atau lambat Dimas harus tahu semuanya, Anna tidak ingin melihat Dimas hancur ketika terlambat mengetahuinya nanti.
"Semoga aku masih bisa melihat senyum di wajah mu setelah kamu tahu semua ini Dim" ucap Anna dalam hatinya sembari menghapus sisa air mata di wajahnya.