I Am Home

I Am Home
Lihat aku



Hari berlanjut dengan hubungan Dimas dan Daisi yang semakin terlihat masih romantis dan harmonis, terbungkus dengan perlakuan manis Dimas kepada Daisi membuat siapa saja yang melihatnya sangat mendamba seperti sepasang kekasih tersebut, namun ada yang tidak mereka ketahui, isi hati Dimas dan Daisi.


Dimas yang selalu memperlakukan Daisi seperti Anna dan Daisi yang mati matian menyembunyikan perasaanya, Daisi terus berusaha untuk membuat Dimas melihatnya sebagai Daisi bukan Anna lagi.


Sepeti hari ini, Daisi ingin mengajak Dimas untuk menciptakan kenangannya sendiri tanpa bayang bayang Anna di belakangnya.


"Kenapa kita kesini si Ais" protes Dimas setelah dia sampai di taman kota "Kan lebih enak di taman yang biasa Ais" sambungnya.


Daisi mengajak Dimas ke taman yang berbeda dengan taman yang biasa mereka sambangi, Daisi berharap Dimas perlahan mampu melupakan bayangan Anna.


"Aku mau nunjukkin tempat yang bagus Dim, kamu pasti belum pernah lihat" ujar Daisi dengan antusias, dia pun langsung menarik tangan Dimas masuk ke dalam taman.


Hamparan bunga yang begitu indah menyambut ke datangan Daisi dan Dimas, air mancur yang mengalir begitu syahdu menambah nuansa romantis dan keindahan taman itu.


"Bagus kan" ucap Daisi sembari bergelayut manja di lengan Dimas.


"Biasa aja, bagusan taman yang di sana" ketus Dimas.


Daisi tersenyum berusaha bersabar atas tingkah Dimas.


"Beli es cream yuk" ajak Daisi sembari menunjuk sebuah grobak es cream yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri, dengan langkah malas Dimas pun mengikuti Daisi yang menarik tangannya.


Setelah mendapatkan dua cup es cream Daisi mengajak Dimas untuk duduk di salah satu bangku yang ada di tengah taman, mereka kemudian menikmati es cream itu, Daisi terlihat bahagia menikmatinmomen kebersamaannya dengan Dimas, berbeda dengan Dimas yang merasa tak nyaman.


"Suasananya enak yah Dim" Daisi membuka obrolan.


"Hem" jawab Dimas malas.


Daisi terus berceloteh banyak hal walau Dimas terlihat malas untuk menanggapinya, Daisi mengulum senyum manis, dia harus banyak bersabar untuk bisa membuat Dimas melihatnya.


"Ye aku menang" senang Daisi sembari menunjukkan cup es creamnya yang tengah tanda tanpa sisa, Dimas hanya melirik kemudian kembali fokus menatap ke depan.


"Dim ke cafe blue yuk" ajak Daisi.


"Kenapa gak ke cafe biasa aja?" protes Dimas yang lebih ingin mereka ke cafe favoritnya bersama Anna dulu.


"Yah, aku lagi pengin makan seafood di sana" rajuk Daisi.


"Di cafe biasa kan juga ada seafoodnya" sanggah Dimas


"Tapi aku penginnya cafe blue, titik" Daisi memasang wajah cemberut, Dimas lalu menghela nafas panjang, akhirnya dia mengiyakan permintaan Daisi, Daisi langsung tersenyum lebar.


Sepanjang perjalanan menuju cafe Dimas lebih banyak diam sedangkan Daisi tetap berceloteh seperti biasa, Dimas yang biasanya selalu bersemangat dan sangat antusias jika jalan dengan Daisi namun hari ini Dimas terlihat malas malasan tidak seperti biasanya.


"Sampai" teriak Daisi senang setelah mobil yang dia tumpangi berhenti di depan cafe blue, Daisi langsung turun dari mobil kemudian menggandeng tangan Dimas masuk ke dalam.


Mereka kemudian duduk di salah satu meja yang kosong lalu memesan beberapa menu, Daisi dengan antusias berbicara menu favoritnya di cafe itu.


"Ini enak loh Dim" ucap Daisi sembari menunjuk gambar yang terdapat di buku menu.


Dimas menggeleng.


"Anna alergi udang" ucapnya yang tanpa sadar membuat Daisi langsung membuang muka.


"Ya sudah kamu pesan sendiri aja kalau gitu" ketus Daisi, sepertinya kesabaran Daisi sudah berada di puncaknya, seperti bom waktu yang hanya tinggal menunggu meledak saja.


Setelah selesai memesan mereka hanya menunggu pesanan datang dengan sibuk memainkan ponsel masing masing, tidak ada celotehan dari Daisi lagi.


"Kenapa?" tanya Daisi bingung karena Dimas tak melanjutkan memakan makanannya.


"Gak sesuai selera gue" jawab Dimas acuh.


Daisi kemudian mencoba makanan tersebut.


"Enak kok" ucapnya setelah menelan makanan Dimas tadi "Coab lagi deh" Daisi mendekatkan piring itu ke arah Dimas.


"Gue bilang gak sesuai selera" ketus Dimas yang membuat Daisi sedikit terkejut.


"Kenapa kamu jadi ketus gitu?"


"Udah lo makan aja terus kita pergi ke cafe biasa, gue gak selera makan di sini"


Daisi meremas tangannya kuat, kesabarannya sudah benar benar habis menghadapi Dimas.


"Dim bisa gak si sekali aja kamu nyenengin aku?"


Dimas menoleh ke arah Daisi yang tengah menatapnya tajam.


"Emang kurang seneng apa lo sama gue, gue selalu memperlakukan lo dengan baik" ujar Dimas tidak mau kalah.


"Kamu itu memperlakukan aku seolah olah aku Anna bukan Daisi, aku lelah Dim selalu memendam perasaan dan memaksa diri ku walau aku tak nyaman" tumpah sudah air mata yang sedari tadi Daisi tahan.


Dimas yang melihat Daisi menangis bukannya merasa bersalah justru menjadi geram.


"Lo yang banyak mau, lo yang bayak ngatur, sadar diri!"


"Kamu bilang aku banyak mau?" Daisi mengatur nafasnya "Emang aku pernah minta apa sama kamu? gak pernah sekalipun aku meminta sesuatu sama kamu Dim, aku cuma minta kamu buat lihat aku sebagai Daisi bukan Anna!" bentak Daisi yang membuat Dimas terkejut.


"Anna gak pernah bicara keras sama gue"


"Aku bukan Anna!" pekik Daisi "Lihat aku, buka mata kamu, aku Daisi bukan Anna" lanjutnya dengan suara tinggi.


Deg.... Dimas tersadar, ya dia sadar jika yang di depannya bukan Anna.


"Gue minta maaf" lirih Dimas "Maaf Ais" sambungnya, Dimas berusaha memegang tangan Daisi namun segera Daisi tepis.


"Aku mau nenangin diri, aku mohon kamu pergi Dim"


"Tapi Ais.."


"Please, kali ini aja aku mohon ngertiin aku, kali ini aja Dim" pinta Daisi dengan tatapan memohon, Dimas dengan berat hati mengiyakan permintaan Daisi, tanpa berbicara apapun Dimas langsung beranjak dari duduknya kemudian meninggalkan Daisi yang masih terisak.


"Bisa kita ketemu, aku mau cerita please" isi pesan Daisi untuk seseorang.


"Lo dimana?" balas orang itu.


"Cafe blue"


"Oke, gue kesitu"


Daisi kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas setelah mendapat balasan dari orang yang dia minta datang, Daisi kembali tertunduk air matanya terus mengalir membasahi wajah cantiknya, rasa sakit yang sudah dia pendam selama ini akhirnya sampai pada puncaknya hari ini, ingin rasanya Daisi menyerah detik ini juga.