I Am Home

I Am Home
Lo yang gue cari



"Ann lo dulu pernah nanya cita cita gue?" tanya Dimas saat tengah malam, Anna tidak bisa tidur karena seharian itu Anna telah memejamkan matanya.


Anna mengangguk.


"Jadi suami aku kan" ucapnya dengan penuh antusias.


Dimas menggeleng.


"Itu dulu, sekarang cita cita gue jadi dokter".


"Terus kamu gak mau jadi suami aku" rajuk Anna.


"Jadi suami lo itu keharusan, sedangkan jadi dokter itu tujuan, gue mau jadi dokter biar bisa ngobatin lo pas lo sakit Ann" jawab Dimas sembari menatap teduh Anna.


"Lo mau janji gak Ann?"


"Apa?"


"Lo bakal bertahan sampai gue jadi dokter".


Anna mengangguk dengan cepat sembari mengulas senyum manis seperti biasanya.


...****************...


Tittttttt......


Suara nyaring terdengar dari sebuah monitor yang memberi tanda tidak ada lagi kehidupan di tubuh seseorang, tidak ada lagi detak jantung yang membuat wanita itu tersenyum manis, tidak ada lagi aliran darah yang membuat wanita itu menatap teduh.


Air mata serempak tumpah dari orang orang yang berada di sana, orang tua Anna bahkan hanya diam mematung setelah dokter menyatakan Anna telah pergi, ketiga anggota the bad boys langsung terduduk lemah tergugu dalam tangisnya masing masing.


Ardi dan Amar terus mengeluarkan air mata, kepedihan sedang memenuhi hati mereka, Noval hanya menangis dalam diam, tak ada air mata yang keluar, namun hatinya sangatlah hancur, apalagi ketika pandangan matanya menangkap dengan jelas wajah Dimas yang seolah kehilangan jiwanya, pandangan mata Dimas kosong seakan tak ada lagi harapan hidup untuknya.


Dimas, dia masih berdiri mematung menatap wajah cantik Anna, di tatapnya lekat lekat wajah Anna terrdapat senyuman damai di sana.


Hatinya belum bisa menerima apa yang terjadi meskipun logikanya berkata jika Anna telah pergi, tak ada air mata yang keluar dari pelupuk matanya, Dimas masih berharap jika semua ini hanya mimpi, dia sangat berharap teriakan mamanya sembari menggedor pintu kamar membangunkan dirinya dari mimpi buruk ini.


Di pegangnya kain itu, Dimas sedikit meremasnya, matanya masih menatap setiap inci wajah Anna, Dimas sedang merekam sebaik baiknya wajah Anna untuk dia simpan di memori otaknya.


Kepala Dimas menunduk, dia dekatkan kepalanya ke wajah Anna, lalu Dimas menempelkan bibirnya tepat di kening Anna, dingin itulah yang Dimas rasakan ketika bibirnya menempel sempurna di kening Anna, tidak lagi terdengar suara tawa Anna, tidak lagi terlihat senyum manis Anna ketika Dimas mengecup keningnya, tak lagi terlihat rona merah di pipinya.


Perlahan Dimas menarik kain untuk menutup wajah Anna secara sempurna, tidak ada air mata di sana, air mata seakan enggan untuk keluar dari mata Dimas walau hanya untuk sekedar meringkankan beban di pundaknya, sekedar untuk menutup sedikit lubang yang menganga di hatinya, tidak ada air mata untuk melepas kepergian Anna, Dimas hanya tersenyum kecut saat terakhir kali menatap wajah Anna.


Hatinya benar benar hancur saat ini, Anna pergi dengan meninggalkan sejuta luka dalam hatinya, Dimas bahkan tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di hari esok ketika dia harus menjalani sisa harinya tanpa kehadiran Anna.


...****************...


Dimas masih terdiam mematung di samping pusara Anna, 3 jam berlalu semenjak Anna di makamkan namun tak selangkah pun Dimas beranjak, di sana tersisa Dimas dan ketiga sahabatnya saja, keluarga Anna sudah pergi bersama mama Dimas satu jam yang lalu, mereka sudah lelah membujuk Dimas untuk pulang.


"Ann lo pembohong paling handal yang pernah gue kenal" ucapnya sembari bersimpuh di sebelah batu nisan yang bertuliskan nama Nirvanya Attalia.


"Lo udah janji bakal bertahan sampai gue jadi dokter, tapi dengan mudahnya lo ingkari itu Ann"


Tes.....


Akhirnya air mata keluar dari pelupuk mata Dimas, air mata yang telah dia nanti sedari tadi, air mata yang dia harapkan bisa sedikit mengurangi rasa sakitnya.


Ketiga sahabat Dimas hanya diam saja sembari menatap Dimas dengan tatapan yang tidak bisa di lukiskan, mereka ingin memberikan waktu sebanyak banyaknya untuk Dimas menumpahkan semua ganjalan hatinya, semua rasa sakitnya, mereka hanya bisa berharap Dimas akan bisa sedikit menata hatinya untuk melanjutkan hidupnya.


"Ann lo adalah sebuah dongeng bagi gue, sebuah cerita yang hanya bisa gue ingat tanpa bisa gue wujudkan"


"Nirvanya Attalia, gue harap lo bahagia di sana meskipun gue sangat hancur di sini, gue harap ini semua bukan pilihan lo Ann"


"Ann jika ada kehidupan kedua, dan gue harap ada kehidupan kedua, lo yang gue cari"


"Tunggu gue di kehidupan kedua" Dimas mencium batu nisan Anna sembari memejamkan matanya.


Dimas kemudian bangun, dia langsung pergi meninggalkan pusara Anna tanpa berbicara apapun pada ketiga sahabatnya yang sedari tadi setia berdiri di belakangnya.