I Am Home

I Am Home
Pahlawan



Satu minggu berlalu, Dimas mengajukan cuti panjang berusaha menata hati setelah kenyataan pahit yang dia alami, Dimas lebih banyak menghabiskan waktunya di apartment, Amar hampir setiap hari menemani Dimas hanya untuk sekedar memastikan dirinya baik baik saja, Noval sudah kembali ke ujung negeri untuk menjalankan kewajibannya, Ardi hanya sesekali datang di tengah tengah kesibukannya menjalankan bisnis.


"Men mending lo ajak jalan jalan keluarga lo mumpung lagi di sini, sepet mata gue lihat muka lo tiap hari men" ucap Dimas ketika mereka tengah bersantai di ruang tamu apartement miliknya.


"Tiap hari gue sama keluarga gue, sekarang gue lagi quality time sama sahabat gue men" jawab Amar sembari tersenyum jenaka.


"Gue bosan liat lo tiap hari nempel mulu men" sungut Dimas, bahkan selama seminggu ini Amar menginap di apartementnya, Anggi dan anak anaknya yang datang ke apartement Dimas.


"Gue gak bosan tapi men" kilah Amar yang membuat Dimas mencibir.


Mereka berdua menghabiskan waktu dengan bermalas malasan dan bermain game, ini adalah hari terkhir Dimas cuti dan hari terakhir pula bagi Amar berada di tanah kelahirannya sebelum besok kembali ke luar negeri.


"Masuk gak di kunci" teriak Amar ketika mendengar suara bell dari luar.


Anggi masuk bersama dua anaknya dan seseorang yang tidak Dimas sangka.


"Dua tuyul lo datang tuh pasti" ucap Dimas dengan mata masih fokus menatap layar ponsel.


"Ponakan lo juga, berarti lo om tuyul dong" balas Amar yang membuatnya menerima timpukan bantal dari Dimas


"Oom Dims" panggil si kembar yang langsung melompat ke atas pangkuan Dimas.


"Hey kenapa kalian tidak menyapa papa dulu wahai anak anak papa" sungut Amar sembari meletakkan ponselnya di atas meja.


"Mereka tahu siapa yang lebih tampan" ledek Dimas "Bukan begitu twins"


"Yes oom" celoteh si kembar yang membuat ayahnya menekuk wajah.


Dimas bercanda dengan keduanya, dia tidak memperhatikan seseorang yang tengah menatapnya dengan intens.


"Duduk sini Mir" ucap Anggi menunjuk bagian yang kosong di sebelah Amar.


Dimas menghentikan aktifitasnya ketika mendengar Anggi mengucapkan sebuah nama, nama seseorang yang beberapa hari terakhir terus mengganggu tidurnya.


"Apa kabar Dim?" tanya Namira setelah duduk di sebelah Amar.


"Baik" jawab Dimas tanpa mengalihkan fokus dari si kembar.


"Lo ambil minum sendiri kalau haus, suami lo udah nyusahin gue seminggu ini" ucap Dimas yang di balas kekehan oleh Anggi.


Dimas masih bermain dengan anak kembar Amar tanpa memperdulikan kehadiran Namira, sedangkan Amar berada di dapur bersama Anggi, mereka seakan sedang berkoalisi untuk memberi waktu bagi Dimas dan Namira berbicara.


"Kamu cuti seminggu Dim?" tanya Namira.


"Ya" jawab Dimas.


Bukannya Dimas belum bisa berdamai dengan keadaan hanya saja ada bagian kecil dalam hatinya yang belum bisa terima dengan apa yang Namira lakukan, meskipun sudah mengikhlaskan tapi rasa sakit dalam hatinya tidak serta merta menghilang begitu saja.


"Hallo bu Inggit" sapa Dimas.


Inggit salah satu dosen muda yang pernah memilki rasa dengan Dimas baru saja menelfon, Namira tentu saja mengenalnya.


"Hallo dokter Dimas" sapanya dengan suara renyah dan menenangkan hati Dimas yang tengah gundah, Dimas memang sengaja men loudspeaker panggilan itu, yang pasti tujuannya agar Namira tahu jika dirinya sedang tidak nyaman akan keberadaannya.


"Dokter Dimas sedang cuti ya minggu ini?"


"Iya bu Inggit, memang ada perlu apa?"


"Saya tadi baru saja ke rumah sakit mengantar surat undangan seminar dok, tapi kata staff di sana dokter sedang cuti" terang Inggit.


"Mungkin bisa kita bertemu di luar saja?" tawar Dimas, Dimas hanya sedang berusaha mencari alasan agar bisa pergi menjauh dari Namira.


"Kalau dokter ada waktu boleh saja, kebetulan saya free hari ini" jawab Inggit.


"Baiklah, saya kirim alamatnya pada bu Inggit, satu jam lagi kita bertemu di sana" ucap Dimas yang di sanggupi oleh Inggit, setelah sedikit berbasa basi Dimas memutuskan sambungan telfon itu.


Namira hanya bisa menahan gejolak dalam hatinya mengetahui Dimas akan bertemu dengan seorang wanita, ada sedikit rasa tidak terima dalam hatinya jika Dimas menjalin hubungan dengan wanita lain, entahlah apa yang Namira pikirkan dia yang melepas Dimas tapi dia juga yang belum siap menerima jika Dimas bahagia dengan wanita lain.


Dimas yang sudah rapi langsung berpamitan dengan Amar dan Anggi, setelah sedikit drama dengan si kembar akhirnya Dimas bisa pergi tanpa embel embel si kembar, Namira hanya Dimas lewati begitu saja, sekedar melirik pun tidak Dimas lakukan, Dimas hanya ingin menunjukkan bahwa saat ini dia kembali menjalani hidup tanpa adanya Namira seperti sebelumnya dan Dimas terlihat baik baik saja.


"Dim" Dimas yang hendak keluar dari rumahnya menghentikan langkah ketika Namira memanggilnya.


"Hmm".


"Hati hati di jalan" ucap Namira membuat Dimas menarik nafasnya.


Ingin rasanya Dimas memaki Namira saat itu juga, bagaimana Namira dengan tidak tahu malunya datang ke tempat Dimas setelah apa yang dia lakukan, bahkan bayangan saat Namira memohon dengan berlutut di depannya saat meminta satu kesempatan masih teringat jelas dalam pikiran Dimas.


"Terimakasih atas perhatian anda, saya harap anda tidak lagi hadir dalam hidup saya karena saya tidak punya rencana hidup dengan menjadikan anda sebagai teman saya, dan satu lagi yang perlu anda ingat saya sudah menjalani hidup saya dengan baik baik saja sebelum anda datang dan meminta saya menjalani hidup saya dengan anda, setelah anda pergi saya kembali menjalani hidup dengan baik baik saja seperti saat anda belum datang, jadi saya minta jalani hidup anda sendiri, mohon di mengerti"


"Tapi bukankah lebih baik kita berteman Dim?


Dimas tersenyum smirk.


"Sisi mana yang menurut anda baik?" sinis Dimas.


"Setidaknya kita pernah memiliki masa lalu yang baik Dim"


"Masa lalu baik untuk mu tapi tidak untuk ku, simpan saja pertemanan itu sialan" Dimas sudah tidak bisa menahan diri lagi.


Dimas langsung berlalu pergi tanpa menunggu respon dari Namira, Namira hanya tertunduk mendengar semua ucapan Dimas, sedangkan Anggi yang melihat hal itu merasa tidak enak hati karena Anggilah yang membawa Namira, dia hanya ingin jika Dimas dan Namira bisa hidup sebagai teman baik, bagaimanapun Namira adalah sahabat baiknya dan Dimas sudah seperti saudara bagi suaminya, namun kini Anggi merasa jika harapan itu tak akan pernah terwujud, dia sudah hafal bagaimana sifat dari sahabat suaminya itu, orang yang selalu menepati janji dan memegang kata katanya, itulah Dimas.