I Am Home

I Am Home
Membantu sahabat



Dua bulan berlalu


Dimas, Ardi dan Amar tengah duduk di kantin, satu bulan terakhir kehangat pesahabatan the bad boys seakan mulai menguap karena perubahan sikap Noval, sudah satu bulan terkahir Noval tidak pernah ikut nongkrong di rumah Amar ketika mereka pulang sekolah, Noval bahkan selalu menolak ajakan ketiga sahabatnya untuk sekedar pergi ke kantin, Noval selalu menghabiskan waktu istirahatnya di dalam kelas.


"Lo berdua ngerasa ada yang aneh gak sama Noval" kata Dimas membuka diskusi.


"Tau tuh orang udah satu bulan ini sikapnya jadi aneh" timpal Ardi sembari menyeruput minuman favoritnya.


Semenjak musibah yang menimpa ayah Noval dua bulan lalu sedikit banyak berpengaruh terhadap Noval, ayah Noval akhirnya pensiun dini dari kantornya akibat kecelakaan itu.


"Gue tanya gak pernah jawab tuh orang" tambah Amar.


"Tapi gue pernah liat Noval pas pulang sekolah" sambung Amar yang langsung mendapat perhatian kedua sahabatnya.


Amar kemudian menceritakan bahwa pernah melihat Noval tengah bekerja di salah satu rumah makan, Amar yang hendak menegur Noval mengurungkan niatnya karena waktu itu dia sedang bersama kekasihnya dan kekasihnya sudah meminta Amar untuk pergi.


"Bokap dia kan udah gak kerja, kayanya keadaan ekonominya lagi sulit men" Analisa Amar dengan segala pemikiran sok tahunya.


"Tapi kenapa dia gak pernah cerita sama kita? tanya Dimas.


"Lo kaya gak tau aja harga diri b*jingan tengik itu men" jawab Ardi yang seakan mengerti kebingungan Dimas.


Mereka kemudian berdiskusi untuk mencari solusi supaya bisa membantu masalah Noval.


"Gue bisa aja si ngasih kerjaan di resto mama, yang gak akan ganggu waktu dia" Dimas memberi sebuah solusi.


"Orang kaya dia kan gak bisa kita ajak ngomong baik baik kalo masalah beginian" timpal Ardi.


Dimas diam sesaat, dia tengah mencari cara bagaimana supaya Noval mau menerima bantuan mereka.


Tring.... Ide muncul di kepala Dimas.


"Kayanya kita gak bisa ngomong baik baik sama dia, kita harus pakai cara sedikit keras"


Amar dan Ardi kemudian fokus mendengarkan rencana dari Dimas, Dimas akan berbicara pada Noval secara frontal, hal itu pasti akan memancing emosi Noval, Dimas akan berusaha semaksimal mungkin suapaya bisa membuat Noval terpancing lalu mereka berkelahi di kelas.


"Gue setuju" ucap Ardi dan Amar kompak.


"Jangan cuma setuju doang anying" sungut Dimas


Dimas kemudian melakukan pembagian tugas untuk mereka, Ardi bertugas mengamankan situasi di dalam kelas, sedangkan Amar di beri tugas mengamankan situasi di luar kelas dan mengkordinir guru BK, sebelum mereka menjalankan rencana Dimas akan menghubungi mamanya yang akan dia libatkan dalam rencana ini, karena Dimas yakin jika mamanya yang turun tangan Noval tidak akan berkutik.


"Otak lo kadang kadang berguna juga men" celetuk Ardi.


"Emang otak lo yang gak pernah ada gunanya selain mikirin selangkagan doang" balas Dimas.


Dimas kemudian langsung menghubungi mamanya, dia menjelaskan secara rinci kondisi Noval saat ini, mama Dimas terkejut mendengar penuturan sang putra, Dimas kemudian menceritakan rencananya untuk membantu Noval, dia ingin mamanya terlibat supaya Noval tidak akan menolak bantuan dari mereka.


"Oke mama siap siap dulu kalau gitu, mama dandan dulu" ucap mama Dimas dengan penuh semangat.


"Biasa aja ma, inget umur" cibir Dimas yang langsung di balas omelan mamanya.


Setelah menyiapkan rencana dengan matang ketiga sahabat itu langsung menuju ke kelas untuk mengeksekusi rencana mereka.


...****************...


Suasana di dalam kelas terlihat cukup ramai, Amar berheti di depan pintu masuk kelas, dia pun mengangguk ketika mendapat kode dari Dimas, Ardi duduk di meja guru sembari mengamati situasi.


"Dim sini" panggil Anna ketika Dimas lewat di depan mejanya.


"Kenapa cantik?" goda Dimas begitu manis yang membuat pipi Anna merona seketika.


Ardi yang melihat hal itu hanya bisa berdecah kesal, bagaimana Dimas langsung terlihkan fokusnya tiba tiba dengan panggilan Anna.


Anna meminta Dimas untuk mengantarkan dirinya ke suatu tempat nanti pulang sekolah, dengan penuh semangat Dimas menyanggupinya.


"Ehem" Ardi berdehem dengan suara cukup keras.


"Gue ke belakang dulu ya" usap usap kepala Anna.


Noval terlihat tengah menyandarkan kepalanya di atas meja, terlihat jelas gurat kelelahan di wajahnya, Dimas menarik nafas dalam melihat itu, dalam hatinya merasa bersalah karena dia merasa terlambat untuk membantu sang sahabat.


"Men" Noval mengangkat kepalanya, namun dia menyandarkan kembali setelah melihat Dimas lah yang tadi berbicara.


"Lemes banget men" Dimas duduk di bangku sebelah Noval, tidak ada respon sama sekali dari Noval.


Dimas kemudian berbicara banyak hal, dia merasa sedikit kesal karena Noval hanya diam saja.


"Semenjak bokap lo sakit kanynya gak pernah jajan men, bilang aja kalau gak punya duit, duit gue banyak" ucap Dimas memulai provokasi.


Noval seketika mengangkat kepalanya, tatapan tajam langsung dia berikan pada Dimas.


"Maksud lo apa?" Ketus Noval dengan suara berat dan tatapan penuh intimindasi.


Dimas tersenyum samar melihat Noval mulai terprovokasi.


"Gue denger lo kerja di resto men, mending lo kerja sama gue aja gue bayar dua kali lipat men" lanjutnya berusaha memancing emosi Noval.


"Gak usah urusin hidup gue" sengit Noval.


"Ck.. ck.. ck.."


Dimas tidak menyia nyiakan kesempatan, Noval yang sudah memulai terpancing langsung dia provikasi lagi dengan kata kata yang lebih pedas, hingga kemudian.


Barkkkk.....


Semua orang yang ada di kelas langsung melihat ke arah sumber suara yang cukup memekakan telinga, di sana terlihat Noval yang telah mencengkram kerah baju Dimas.


"Adek lo cakep, temen gue punya kelab malam men, gue bisa bantu masukin dia" ucapan terakhir Dimas sebelum.


Bugh.... pukulan telak mendarat di pelipis Dimas.


Akhhhh.... seketika terdengar teriakan dari para murid perempuan di kelas itu karena Dimas dan Noval tengah bergumul saling pukul.


"Dimas" teriak Anna ketika melihat Dimas sedang di pukuli oleh Noval.


Anna hendak berlari untuk memisahkan mereka namun sebuah tangan langsung mencekal lengannya untuk menghentikan aksinya itu.


"Ardi" ketus Anna ketika melihat Ardi yang menahan tubuhnya.


"Udah biarin aja Ann, ntar kalo capek juga berhenti sendiri" ucapnya sembari tersenyum.


"Gila kamu, mereka teman kamu kenapa gak di pisahin" maki Anna.


Anna kemudian menangis saat melihat hidung Dimas mengeluarkan darah segar yang cukup banyak, belum lagi luka robek di bibir dan pelipis Dimas.


"Noval stop Noval, kasihan Dimas aku mohon stop" pinta Anna dengan suara parau.


Dimas terus berusaha menahan serangan Noval, memang dalam segi kekuatan dan keahlian bertarung Dimas masih di bawah Noval, namun dalam segi kelicikan dan memanfaatkan moment Dimas berada jauh di atas Noval.


Suara isak tangis Anna dan jeritan dari siswi yang lain seakan menjadi sebuah alunan yang membuat pertarungan menjadi lebih menarik untuk di jadikan tontonan oleh Ardi.


Akhirnya pada sebuah kesempatan Dimas berhasil menendang telak ulu hati Noval hingga membuat Noval menjerit kesakitan, tanpa menunggu lama Dimas langsung melakukan kuncian pada tubuh Noval, dia kemudian memukuli Noval dengan membabi buta, sampai sebuah pitingan di leher Dimas terpaksa membuatnya bangun dari atas tubuh Noval dan pertarungan pun berakhir.


Kondisi Dimas cukup mengenaskan bajunya sudah banyak robekan sana sini, hidung dan sudut bibirnya terus mengeluarkan darah begitu pula pelipisnya, namun keadaan Noval sebenarnya lebih mengenaskan, Dimas benar benar menyerang titik vital yang ada di tubuh Noval hingga membuat Noval tidak bisa bangun beberapa saat.


"Kalian berdua buat onar terus, keruang BK sekarang panggil orang tua kalian" teriak guru BK sembari menggelandang Dimas.


Noval di bantu Amar untuk berdiri, sementara Ardi harus pasrah menerima amukan dari Anna, rambut Ardi terus di jambaki oleh Anna bahkan aset Ardi di tendang cukup keras oleh Anna yang membuat Ardi tumbang seketika.


"Masa depan gue Ann" rintih Ardi sembari memegang pertigaannya yang terasa ngilu.


Anna bukannya merasa bersalah atau setidaknya sedikit bersimpati malah mencibir Ardi "Rasain" dia lalu berjalan keluar dari kelas bermaksud menyusul Dimas.