I Am Home

I Am Home
The Bar Bar Namira



"Cemen" Cibir Namira saat Dimas tengah terengah engah mengatur nafasnnya.


"Nafas dikit Mir, engap gue" jawab Dimas.


Huh... huh... huh....


Deru nafas terdengar jelas dan cukup kencang keluar dari indra penciuman Dimas.


"Baru juga dua putaran Dim, ah payah lo" tatapan merendahkan "Benar benar payah" Namira tertawa cekikikan melihat Dimas yang tak berdaya membalas ejekannya.


Minggu pagi ini, Dimas awalnya mengajak Namira keluar untuk sekedar menikmati udara segar, namun Namira malah mengajaknya untuk berolahraga lari keliling taman, Dimas yang memang jarang berolahraga tentu saja langsung kelelahan hanya dengan dua kali putaran saja.


"Lo tunggu di sana" Namira menunjuk sebuah bangku panjang berada tak jauh dari tempat mereka berada "Gue beli minum dulu".


Tanpa menunggu jawaban dari Dimas, Namira segera melangkahkan kakinya menuju ke sebuah kios yang menjual berbagai macam minuman kemasan.


"Bang air mineral dua" ucap Namira sembari menyerahkan selembar uang berwarna hijau.


"Apa lagi?" Tanya sang penjual.


Namira menunjuk beberapa cemilan yang terdapat di etalase, ada makanan ringan dan beberapa roti.


"Cantik cantik makannya banyak banget" celetuk seorang laki laki yang datang bersamaan dengan Namira tadi, Namira hanya melirik malas kemudian kembali fokus ke penjual yang tengah memasukkan pesanannya ke dalam kantong.


"Pas ya neng" ucap sang penjual ketika menerima selembar uang berwarna hijau.


Namira mengangguk "Makasih bang". Namira memutar tubuhnya namun tak bisa melangkah karena ada seorang laki laki yang berdiri di depannya.


"Minggir" ketus Namira.


"Sendirian aja?" Ucapnya sembari menggeser tubuhnya mengikuti Namira yang juga bergeser berusaha mencari jalan.


"Lo ganggu banget tau gak" ketus Namira sembari memberikan tatapan tajam.


"Wow galak banget, tapi gue suka" laki laki itu semakin berani dengan lebih merapatkan tubuhnya.


Namira meremas tangannya dengan kesal.


"Sangat suka" jawab laki laki itu sembari mengedipkan matanya, Namira maju selangkah lebih dekat dengan laki laki itu.


"Gue lebih menyeramkan loh" kata Namira setengah berbisik, kemudian.


Bugh......


"Awww.... sshhh..." lelaki itu langsung jatuh berguling guling sembari memegang asetnya, Namira baru saja memberi sebuah kecupan hangat melalui lututnya tepat di pertigaan lelaki tersebut.


"Selamat menikmati" ucap Namira sembari menepuk pundak laki laki yang masih meringkuk sembari berteriak kesakitan, Namira terus melangkah menjauh tak peduli dengan umpatan laki laki itu.


Dimas awalnya ingin mendekat ketika melihat dari jauh Namira yang tengah kesal dengan seseorang yang terlihat mengganggunya, namun langkah Dimas terhenti ketika Namira memberi kode agar Dimas tidak ikut campur, Dimas pun menurut, dia hanya memperhatikan interaksi kedua orang itu dari jarak yang tak terlalu jauh.


"Yok ke sana lagi" ucap Namira ketika sudah berada di posisi Dimas berdiri, Dimas sedang memegang bagian asetnya, seakan dia ikut merasakan kesakitan yang di derita oleh laki laki tadi.


"Bar bar banget lo"


"Makanya jangan macem macem, kalau lo macem macem gue potong kecil kecil aset lo, gue buang ke danau buat makanan ikan" ujar Namira sembari tertawa cekikikan.


Dimas bergidik ngeri, membayangkan Namira yang tengah memotong asetnya dengan senyum iblis yang baru saja dia tampilkan.


"Dasar psikopat" umpat Dimas langsung berlari menuju ke bangku taman tadi, Namira yang melihat tingkah Dimas tertawa keras sembari berjalan mengikuti Dimas yang sudah cukup jauh di depannya.


Namira langsung duduk di sebelah Dimas yang lebih dulu sampai, Dimas menggeser posisi duduknya seakan menjaga jarak dari Namira sembari tangannya masih berusaha melindungi asetnya.


"Lo kalau gak balik kesini!" Namira menunjuk posisi duduk Dimas sebelumnya "Nasib lo bakal sama kaya dia" kemudian menunjuk ke arah laki laki yang masih merintih kesakitan di ujung sana.


Glek.....


Dengan perlahan Dimas kembali menggeser posisi duduknya ke tampat semula, wajah Dimas sedikit memucat dengan keringat yang mengucur deras dari keningnya, melihat hal itu Namira tersenyum jahat.


"Ingat kalau lo macam macam" Namira memperagakan gerakan seperti memotong sesuatu melalui tangannya, tangan kanananya dia posisikan sebagai pisau yang sedang memotong, jari telunjuk kirinya yang dia analogikan sebagai aset Dimas.


Dimas segera mengangguk cepat.


"Dasar bar bar" ucap Dimas dalam hatinya, Namira tertawa keras melihat Dimas yang ketakutan.