
Hubungan Dimas dan Daisi pun semakin hari terlihat semakin harmonis, kemesraan dan perhatian yang di berikan oleh Dimas seakan membuai Daisi, namun ada satu hal yang tidak Daisi sadari, bahwa semua perlakuan Dimas padanya semata mata karena Dimas melihatnya sebagai Anna, Dimas merasa seakan Anna kembali hidup dengan rupa yang berbeda.
Seperti saat ini Dimas yang sedang membaringkan tubuhnya di atas permadani dengan kepala yang di topang menggunakan paha Daisi, tangan lembut Daisi terus mengelus kepala Dimas.
"Elus lagi jagan berhenti" rajuk Dimas saat Daisi menghentikan aktifitasnya, Daisi tanpa berkomentar kembali mengelus kepala Dimas dengan penuh kasih sayang.
Di sisi lain ketiga sahabat Dimas menatap lekat aktifitas kedua insan itu, tidak ada raut bahagia di wajah ketiga orang itu, mereka justru menunjukkan tatapan iba pada Daisi, ya ketiganya menyadari jika Dimas memperlakukan Daisi semata mata hanya karena obsesinya pada Anna.
Beberapa kali ketiganya berusaha mengingatkan Dimas namun selalu berakhir dengan pertengkaran, bahkan sering kali Dimas berbicara sarkas pada mereka bertiga.
"Lo bertiga gak usah ikut campur hidup gue, gue lebih tau mana yang baik buat g**ue"
Tanpa Dimas sadari dia lah yang sudah terlalu ikut campur pada kehidupan ketiga sahabatnya, Dimas cenderung selalu mengatur apa yang harus di lakukan oleh ketiga orang itu, meskipun ketiga sahabatnya tidak pernah keberatan karena memang semua yang Dimas lakukan semata mata karena Dimas ingin memberikan yang terbaik bagi sahabatnya.
"Men sampai kapan kita cuma diam kaya gini?" Amar menghela nfas "Gue ngerasa jadi orang gak guna men" ucap Amar pada kedua orang yang tengah menatap intens pada Dimas dan Daisi.
"Lo gak inget setiap kali kita ngomong masalah ini sama Dimas gimana responya" ucap Ardi sembari menatap jauh.
"Mau lo pada apa si, gue murung salah sekarang gue bahagia sama Daisi salah, anjing lah".
Ucapan sarkas Dimas seketika melintas dalam benak mereja bertiga.
Amar pun mengangguk.
"Kita cuma berharap keajaiban atau Daisi segera menyadari apa yang Dimas lakukan ke dia" lanjut Ardi pasrah.
"Kalau Daisi gak sadar sadar juga?"
Pertanyaan dari Amar yang bukan hanya di tunjukkan untuk kedua sahabatnya tapi juga untuk dirinya sendiri.
"Kita yang bakal nyadarin Daisi atas semua kekeliruan ini" ujar Noval dengan mantap dan di balas anggukan oleh kedua sahabatnya tanda menyetujui usulnya.
Dimas merasa tengah menjalani kehidupan kedua bersama Anna, Dimas bahkan tidak memperdulikan apapun yang terjadi di sekitarnya, hanya ada dia dan Daisi yang terlihat seperti Anna di mata Dimas.
Ketiga sahabat Dimas bukannya tidak bahagia mendapati hal itu, hanya saja mereka takut jika Dimas saat ini hanya hidup dalam bayangan semu yang dia ciptakan sendiri.
Saat ketiga orang tersebut masih terdiam dalam lamunannya masing masing, tiba tiba terdengar pertengaran kecil antara Dimas dan Daisi.
Kekesalan yang berawal dari hal sepele, Dimas meminta Daisi untuk merubah gaya rambutnya, Dimas ingin rambut panjang Daisi yang sebelumnya dia biarakan tergerai begitu saja di rubah menjadi gaya rambut kuncir ekor kuda.
"Bukan masalah Anna Daisiku cantik, gue cuma ngeliat lo lebih cocok pakai gaya rambut ekor kuda, kelihatan lebih keluar aura kecantikan mu" jelas Dimas yang berusaha meredam amarah Daisi.
"Iya aku paham, tapi bisa gak kamu ngomong gak usah bawa bawa nama Anna" sungut Daisi "Anna juga terlihat lebih cantik dengan gaya rambut ekor kuda Ais" lanjutnya meniru ucapan Dimas tadi.
"Iya iya, gue minta maaf, udah jangan marah" Dimas mencubut pipi Daisi dengan gemas.
"Bodo" Daisi membuang muka.
Bukan Dimas namanya jika menyerah begitu saja dalam menaklukkan hati wanita yang sedang marah, Dimas kemudian mengambil ponsel dari dalam sakunya, dia langsung memotret wajah Daisi.
"Sini" ujar Dimas sembari menarik lembut lengan Daisi, dengan terpaksa Daisi mendekat ke arah Dimas.
"Coba liat ya" Dimas kemudian membenahi rambut Daisi, di tatanya dengan rapi kemudian Dimas kuncir rambut Daisi khas seperti gaya rambut Anna, setelah selesai Dimas kembali memotret wajah Daisi.
"Coba lo lihat cantikan mana" Dimas menyerahkan ponselnya, Daisi hanya melirik malas, Dimas kemudian menunjukkan foto Daisi sebelum dan sesudah di kuncir.
"Cantik ini kan" Dimas menunjuk ke arah layar ponsel yang tengah menampilkan foto wajah Daisi setelah di kuncir, Daisi mengangguk pelan.
"Tapi aku gak biasa" protes Daisi.
"Ntar lama lama juga biasa kok" Dimas membelai wajah Daisi dengan lembut, Daisi perlahan kembali tersenyum mendapat perlakuan manis dari Dimas.
Tiga orang yang dari tadi memperhatikan langsung mencibir ketika Daisi dengan mudahnya luluh hanya karena perlakuan Dimas.
"Kirain ilmu buayanya udah ilang, eh malah makin menjadi" cibir Ardi.
"Emang si kampret itu gak ada berubahnya" sungut Amar.
"Kita harus secepatnya nyadarin Daisi" ucap Noval yang langsung mebuat kedua sahabatnya menatapnya tajam.
"Jangan kencang kencang kalau ngomong kampret" hardik Amar dan Ardi bersamaan yang membuat Noval langsung melengos membuang wajahnya.
The bad boys akan melaksanakan misi mulia, misi yang berkaitan dengan keberlangsungan umat manusia kedepannya, hususnya bagi Dimas dan keturunanya nanti.