I Am Home

I Am Home
Extra part 8



Reni terduduk lemas di atas sofa, luka bekas tamparan sang ayah tercetak jelas di pipi putihnya, rasa perih yang tertinggal seakan tak terasa di banding dengan perih di hatinya yang saat ini tengah dia rasakan, Dimas baru saja pergi setelah memarahi dirinya habis habisan di depan kedua orang tuanya sendiri, bahkan Dimas membatalkan rencana pernikahan mereka yang sudah di depan mata.


"Sudah aku bilang tidak ada kata maaf untuk penghianatan, apa kamu tidak bisa mengingat itu hah!" ucap Dimas dengan nada tinggi sembari melempar beberapa lembar foto ke wajah Reni, Reni memungutnya, dia terkejut ketika melihat dirinya dan Aldo sedang berpelukan di dalam foto itu, bahkan ada satu foto yang memperlihatkan Aldo tengah mencium pipinya.


"Aku bisa jelaskan sayang, aku mohon dengar penjelasanku" Air mata mengalir dengan deras membasahi wajah Reni.


"Tutup mulut mu!" Dimas menunjuk wajah Reni "Jangan pernah memanggilku dengan panggilan itu lagi".


Reni menggeleng lemah.


"Maaf, beri aku waktu untuk menjelaskan semuanya" pinta Reni.


Reni memang menemui Aldo, lebih tepatnya Aldo memaksa Reni bertemu, Reni awalnya enggan namun Aldo datang kerumahnya dan langsung mengajak Reni pergi, setelah melihat foto yang di bawa Dimas membuat Reni yakin jika Aldo menjebaknya.


"Aku tidak butuh penjelasan mu" hardik Dimas.


Dimas menatap ke arah ayah Reni yang sedang duduk tanpa bisa membela anaknya sama sekali, karena semua bukti sudah jelas Dimas berikan.


"Ayah maafkan Dimas, Dimas tidak bisa melanjutkan acara pernikahan ini" tegas Dimas dengan suara lantang.


Reni langsung berlutut di depan Dimas sembari memegang erat kaki Dimas, bagaimana mungkin pernikahan yang tinggal menghitung hari tiba tiba batal begitu saja karena sebuah kesalah pahaman.


"Dim aku mohon dengarkan aku, aku mohon tarik ucapan mu, apa kamu lupa dengan janji mu saat kamu meminta ku jadi isterimu Dim?"


"Persetan dengan itu semua" maki Dimas.


"Apa kamu tidak ingat semua pengorbananku Dim, sampai kita berada di titik ini".


"Ck.... ck... ck..." Dimas berdecak kesal.


Reni baru saja melupakan satu hal, jangan pernah mendebat Dimas jika dia sedang marah, apalagi kemarahannya karena kesalahan Reni.


"Aku akan mengganti semua kerugian atas pengorbanan mu itu" ketus Dimas, dia langsung melepaskan cincin pertunangannya, lalu dia lempar ke arah Reni.


Dimas menghempaskan tangan Reni dengan kasar, dia langsung keluar dari rumah itu tanpa menoleh sedikit pun walau Reni terus berteriak memanggil namanya.


Ibu Reni hanya bisa menangis tersedu sedu meratapi nasib anak semata wayangnya, dia tidak tahu harus berbuat apa, karena semua yang Dimas katakan seakan tidak bisa di bantah.


Reni menatap nanar kepergian Dimas, di tangannya dia genggam erat cincin pertunangan mereka yang tadi Dimas lemparkan.


"Bangun kamu" bentak ayah Reni sembari menarik tangan Reni dengan kasar.


"Anak tidak tahu diri!"


Plak..... tubuh Reni langsung terhuyung seketika, wajahnya langsung terasa kebas setelah tangan kekar dari ayahnya menamparnya dengan sangat keras.


"Apa yang ada dalam pikiran mu hah!"


"Dasar anak kurang ajar!"


Plak..... sekali lagi tangan laki laki yang selama ini menjaga dan melindungi Reni dengan segenap jiwa raganya mendarat dengan sempurna di wajah Reni.


Ayah Reni menarik rambut indah sang anak dengan kasar, ingin rasanya dia membenturkan kepala sang anak ke lantai saat itu juga, atau melempar tubuh Reni ke atas meja kaca yang ada di ruang tamu, beruntung sang istri masih menahan perbuatan yang mungkin akan dia sesali nanti.


"Ayah cukup!" bentak Ibu Reni sembari melepas cengkraman tangan suaminya dari kepala Reni.


"Reni bisa jelaskan semuanya ayah ibu" lirih Reni.


"Kamu simpan saja penjelasan mu itu untuk dirimu sendiri" ayah Reni mencengram rahang sang anak "Sekarang ratapi saja nasib buruk karena kebodohan mu sendiri, saya tidak akan sudi mengulurkan tangan untuk membantu mu bangkit" Ayah Reni mendorong tubuh Reni dengan keras sehingga Reni langsung tehempas ke atas sofa, dia langsung pergi meninggalkan Reni.


"Bu..." lirih Reni dengan tatapan memohon pada sang ibu, dalam keadaan apapun sang ibu selalu akan membela dirinya, hanya wanita itu yang selama ini selalu memasang badan ketika Reni sedang di tempa oleh kerasnya kehidupan.


"Ibu tidak tahu harus berbuat apa Ren, ibu kecewa sama kamu, mulai sekarang urus saja hidup mu sendiri" ucapnya seraya pergi meninggalkan Reni yang langsung menangis kencang.


Reni putus asa, seakan tidak ada lagi harapan untuknya, bahkan sang ibu yang sebelumnya tidak pernah meninggalkan dirinya dalam kondisi apapun kini tidak sudi walau hanya sekedar mengusap punggung Reni untuk memberi sedikit rasa tenang.


Reni langsung meraih ponselnya, satu nama tiba tiba terlintas di kepalanya, seseorang yang dia yakini bisa membantu dirinya saat ini, seseorang yang menjadi harapan terakhir Reni untuk bisa mendapatkan kata maaf dari Dimas, orang yang tidak mungkin Dimas usir ketika dia datang, orang yang akan Dimas dengarkan apapun yang dia ucapkan.


"Hallo Ardi" ucap Reni lirih sembari menahan perih di sudut bibirnya.


...****************...


Ardi langsung membatalkan semua jadwalnya hari ini, dia baru saja mendapat berita mengejutkan dari calon istri sahabatnya, dia harus cepat bertindak dan menemui Dimas sebelum semuanya terlambat, dia sudah sangat kenal dengan sifat Dimas, walaupun terasa mustahil dia bisa membuat Dimas menarik ucapannya namun Ardi akan tetap mencoba melawan kemustahilan itu.


Menjelang tengah malam pesawat yang Ardi tumpangi baru saja mendarat di bandara terbesar yang ada di ibu kota, setelah memastikan barang bawaannya tidak ada yang tertinggal dia langsung keluar dari bandara untuk mencari taxi yang akan mengantarnya menuju ke tempat dimana kebahagiaan sang sahabat sebentar lagi akan di pertaruhkan.


Dor.... dor.... dor....


Ardi langsung menggedor pintu apartment Dimas dengan sangat keras begitu dia sampai di sana, tak lama kemudian pintu terbuka, sang sahabat berdiri di sana dengan wajah yang masih menyiratkan kemarahan.


"Siapa yang kasih tahu lo?" tanya Dimas ketika mereka baru saja duduk di ruang tamu.


"Lo pasti tahu tanpa gue jawab" Ardi menatap tajam mata Dimas "Mama udah tahu?" tanyanya dengan mimik wajah serius, dia tahu jika Dimas tidak akan berani banyak bicara jika dia sudah memasang ekspresi wajah serius dengan tatapan tajam.


Dimas menggeleng.


"Kali ini keputusan yang lo ambil salah men"


"Gue tahu, tapi gue gak akan menyesali itu". tegas Dimas.


"Ya lo benar, hati lo udah mengeras makanya tidak akan ada penyesalan" Ardi mengakkan tubuhnya "Tapi selamanya lo akan terbayang bayang dengan kesalahan hari ini" tandasnya dengan suara berat.


"Hahaha" Dimas tertawa dengan keras "Lo lupa selama ini gue hidup dengan semua bayangan sial*n seperti itu" lanjutnya sembari tersenyum kecut.


Ardi mengangguk, dia sudah tahu jika tidak akan mudah berbicara dengan Dimas saat kondisi seperti ini, apalagi logika Dimas pasti mensugestikan jika dirinya berada di posisi yang benar.


"Gue yakin Aldo menjebak Reni, dia ingin pernikahan kalian batal" Ardi berusaha memberi penjelasan pada Dimas berdasarkan cerita dari Reni.


"Perset*n dengan semua itu, tapi gue paling benci pengkhianatan" ketus Dimas.


"Reni gak menghianati lo"


"Tapi dia sudah membukakan pintu saat Aldo datang".


"Aldo yang mendobrak itu bukan Reni yang membukanya"


"Lo benar" Dimas tersenyum smirk "Tapi kesalahan Reni dia tidak langsung mengusir Aldo justru dia memberi waktu Aldo menjelaskan alasannya kenapa dia mendobrak pintu itu".


"Lo tahu apa yang akan terjadi jika saat itu penjelasan Aldo di terima oleh Reni?" Dimas menunggu respon dari sahabatnya.


Ardi mengangguk, dia sangat tahu apa yang akan terjadi seandainya Aldo dapat meyakinkan Reni.


"Sesuai pikiran lo, mereka akan membangun benteng yang tinggi untuk mencegah gue masuk, bahkan sekedar melihat saja gue gak akan mampu" sinis Dimas.


Skak..... Ardi terdiam, dia tidak bisa membalas kata kata Dimas untuk pertama kalinya.


Huh..... Ardi membuang nafasnya kasar, tinggal satu cara terakhir yang dia harap mampu membuat Dimas menarik kata katanya.


"Gue yang akan menikahi Reni kalau lo mundur"


Sring..... kilatan tajam tiba tiba muncul di mata Dimas, tanpa menunggu lama dia langsung menerjang tubuh Ardi, Dimas memukuli wajah Ardi dengan membabi buta sedangkan Ardi hanya diam tanpa melawan ataupun mencoba bertahan.


Dimas tahu jika Ardi sudah berbicara mengenai pernikahan dia tidak akan main main, Dimas bukan takut kehilangan Reni, yang Dimas takutkan adalah Reni akan menderita setelah menikah dengan Ardi.


Dimas menghentikan aksinya karena melihat tidak ada perlawanan dari Ardi, bahkan Ardi hanya diam saja tanpa mencoba menahan serangannya.


"Sudah bisa buat keputusan?" tanya Ardi sembari menyeka darah yang keluar dari hidung dan sudut bibirnya.


Dimas hanya terdiam sembari menatap tajam wajah lebam sahabatnya.


Huh.... Dimas membuang nafas kasar.


"Lo tahu apa keputusan gue"


Ardi langsung tersenyum lebar.


"Itu baru Dimas yang gue kenal" Ardi menepuk bahu Dimas "Gue beresin semua malam ini" ucapnya seraya berdiri.


"Lo bilang ke dia (Reni), jangan pernah menyebut namanya (Aldo) lagi dari mulutnya, menghindar jika tidak sengaja bertemu, langsung pergi jika dia memaksa untuk bicara"


"Siap laksanakan"


Ardi segera pergi dari apartment Dimas, dia akan menuju ke rumah Reni malam ini juga, tidak peduli jika waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari.


"Siapa kamu?" ketus ayah Reni dengan wajah yang terlihat masih mengantuk saat Ardi datang.


"Saya Ardi om" jawab Ardi lirih sembari menahan ngilu di wajahnya.


"Ada keperluan apa?" sinisnya.


"Jangan sampai om cium kaki gue setelah ini" ucapnya dalam hati sembari tersenyum licik.


"Saya sahabat Dimas om" Ayah Reni langsung menatap penuh harap ketika Ardi menyebut nama Dimas.


Ardi tersenyum smirk melihat perubahan ekspresi wajah ayah Reni, dia kemudian langsung bercerita tentang pertemuan dengan Dimas, ayah Reni langsung mengembangkan senyum di wajahnya.


"Om panggilkan Reni dulu" ucapnya dengan penuh semangat.


Reni berjalan gontai menuju ruang tamu, matanya sudah bengkak karena menangis sedari tadi, bahkan Reni belum memejamkan matanya sama sekali, sudut bibirnya terlihat pecah dengan sisa darah yang sudah mengering, Ardi yakin jika ayahnya sendiri yang menyebabkan luka itu.


"Ardi" lirih Reni ketika sampai di ruang tamu.


"Wajah lo kenapa?" tanya Reni seraya duduk di hadapan Ardi.


"Lo dengerin gue baik baik, jangan lo potong ucapan gue" Ardi tidak memperdulikan pertanyaan Reni.


Reni mengangguk.


"Besok pagi lo datang ke apartment Dimas, lo minta maaf meskipun gue tahu lo gak salah, lo ceritain semuanya, jangan membantah atau mendebat apa yang Dimas ucapkan nanti" ucap Ardi dengan tatapan tegas.


"Bisa?"


Reni tersenyum, dia langsung mengangguk dengan cepat, tidak salah dia tadi langsung menghubungi Ardi.


"Terimakasih banyak Ardi, gue akan ingat kebaikan lo sampai kapan pun"


"Basi" cibir Ardi sembari tersenyum, Ardi kemudian berdiri.


"Satu pesan Dimas, jangan pernah lo menyebut nama Aldo lagi, lo harus menghindar kalau gak sengaja ketemu, lo harus langsung pergi kalau Aldo memaksa lo bicara".


"Iya" jawab Reni dengan penuh semangat "Gue obati luka lo dulu" tawar Reni.


"Gak perlu" jawab Ardi singkat seraya berjalan menuju pintu.


"Saran gue lo besok gak usah dandan, jangan obati luka di wajah lo" ucap Ardi seraya tersenyum licik, Reni mengangguk sembari tersenyum lebar.


Pagi hari, Reni telah mengenakan pakaian baru, wajahnya masih terlihat sembab dengan darah yang mengering di sudut bibirnya, dia tidak mandi pagi ini sekedar mencuci muka saja tidak dia lakukan, biarlah dia terlihat bodoh di mata Dimas karena mengikuti saran konyol dari Ardi.


"Kemana?" tanya Ayah Reni saat melihat Reni turun dari lantai dua rumahnya.


"Reni mau ketemu Dimas yah" jawab Reni


Ayah dan ibu Reni yang mendengar itu seketika tersenyum.


"Jangan pernah melakukan kesalahan yang sama jika nak Dimas memaafkan mu Ren" ujar ibu Reni penuh haru.


Reni mengangguk, dia peluk tubuh wanita yang telah melahirkannya dengan erat.


"Doain Reni Ibu, ayah" Reni menatap wajah kedua orang tuanya bergantian "Supaya Dimas mau memaafkan Reni" ucapnya dengan tulus.


"Kami selalu mendoakan mu nak" kata kedua orang tua Reni dengan penuh ketulusan dan harapan di mata mereka.


Ting... tong....


Reni berdiri dengan gelisah setelah menekan bel pintu apartment Dimas.


"Cari siapa?" tanya laki laki yang kemarin menghancurkan harapan Reni dengan ucapannya.


"Calon suami ku" jawab Reni seraya tersenyum manis.


"Masuk" Reni melangkah masuk setelah Dimas memberi jalan.


"Duduk" Dimas menuju ke dapur setelah mempersilahkan Reni duduk.


Dimas datang dengan membawa kotak P3K di tangannya, dia duduk di sebelah Reni.


"Mendekat" Reni menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan Dimas.


Perlahan dan dengan penuh perhatuan Dimas membersihkan luka di wajah Reni, sesekali terdengar rintihan kesakitan dari mulut Reni, Reni tersenyum melihat Dimas sudah memperlakukannya dengan baik, dalam hatinya berkata tidak sia sia dia mengikuti saran konyol dari Ardi.


"Sayang aku minta maaf" lirih Reni setelah Dimas selesai mengobati luka di wajahnya.


"Sstttt" Dimas memberi kode agar Reni tidak melanjutkan ucapannya.


"Setelah ini aku tidak mengizinkanmu terluka! paham?" Reni mengangguk seraya tersenyum lebar.


"Kemarilah" Dimas merentangkan tangannya, Reni segera beringsut masuk ke dalam pelukan Dimas.


"Maaf sudah membuatmu terluka" ucap Dimas sembari mengelus lembut kepala Reni, Reni mengangguk dalam tangisnya.


Reni mengendurkan pelukan, dia mengambil sesuatu dari dalam tas nya.


"Boleh aku memasangkan ini di jarimu lagi?" lirih Reni sembari menunjukkan cincin pertunangan mereka yang kemarin di buang oleh Dimas di hadapannya.


Dimas mengangguk sembari tersenyum, dengan air mata yang menetes Reni memakaikan cincin itu di jari manis Dimas.


"Maafkan aku, aku mencintaimu" ucap Reni, Dimas langsung mendekap tubuh Reni dengan begitu erat.


Setelah beberapa lama berpelukan Reni sudah lebih tenang, tidak ada lagi air mata yang keluar dsri dua bola matanya.


"Sayang aku mau tanya boleh?" ucap Reni setelah mereka melepaskan pelukan.


"Tanyalah" jawab Dimas.


"Semalam Ardi datang dengan wajah lebam"


Dimas langsung tersenyum smirk mendengar penuturan calon isterinya.


"Kok malah tersenyum" rajuk Reni.


"Mungkin Ardi ketahuan mesum di tempat umum, terus di pukulin sama orang orang"


Jawab Dimas yang membuat Reni langsung mengerucutkan bibirnya, sedangkan Dimas tertawa pelan melihat wajah cantik di depannya yang tengah merajuk, dia tarik kembali tubuh Reni kedalam pelukannya, dia dekap erat tubuh wanita yang telah menguasai hatinya saat ini.


"Maafkan aku sudah melanggar janjiku untuk tidak menyakitimu dalam bentuk apapun" ucap Dimas dalam hati dengan penuh penyesalan.