I Am Home

I Am Home
Extra part 5



Dimas menarik tangan Reni masuk ke dalam kamar tidur yang ada di ruangannya, Reni hanya diam mengikuti Dimas, Reni bukan lah type orang yang akan langsung meledak ledak saat itu juga, dia adalah type orang yang memendam segala sesuatu.


"Duduk di sini" pinta Dimas agar Reni duduk di atas pangkuannya.


"Aku duduk di sana saja" Reni menunjuk sebuah kursi kecil yang ada di dalam kamar tidur.


"Kamu ingin bertanya atau aku jelaskan semuanya?"


"Kenapa ponsel mu tidak aktif?"


Dimas mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya, dia coba nyalakan ponselnya namun tidak berhasil.


"Baterai ponselku habis" jawab Dimas seraya menunjukkan layar ponselnya pada Reni.


"Lalu kenapa Namira ada di sini?"


"Amar yang meminta aku menemuinya".


"Amar?"


Dimas mengangguk, dia kemudian menceritakan semuanya pada Reni, mulai dari Anggi menghubunginya meminta tolong agar Dimas mau menemui Namira namun Dimas menolak mentah mentah permintaan Anggi, hingga akhirnya Amar memohon pada Dimas, tentu saja Dimas tidak akan bisa menolak permintaan Amar.


"Amar menghubungimu untuk meminta mu menemui Namira?" tanya Reni tidak percaya.


"Aku bisa menelfon Amar jika kamu tidak percaya" ucap Dimas.


"Ponsel mu saja mati" ketus Reni.


Huh.....


Sudah saatnya Dimas mengeluarkan kelebihan yang sudah beberapa waktu ini tidak dia pakai, otak licik Dimas dalam menaklukan hati wanita terpaksa harus dia kerahkan saat ini.


"Kemarilah" Dimas memberi gestur melalui tangannya agar Reni mendekat.


Reni tetap bergeming.


"Khayreani Amalia" ucapnya tegas.


Reni segera beringsut setelah Dimas menyebut nama lengkapnya, Reni tahu jika Dimas sudah memanggilnya dengan nama lengkapnya dan suara tegas Reni tidak bisa membantah apapun artinya dia harus menurut dan mendengarkan Dimas, bahkan sekedar menatap mata Dimas saja Reni tidak akan berani jika sudah seperti itu.


Reni duduk di atas pangkuan Dimas, Dimas mendekap tubuh istrinya dari belakang, dia menyadarkan kepalanya diatas bahu Reni.


"Dengarkan baik baik apa yang akan aku ceritakan".


Dimas awalnya enggan menceritakan perihal kondisi rumah tangga Namira, dia merasa sedang membicarakan keburukan orang lain, tapi tidak ada cara lain untuk membuat istrinya mengerti dan tidak salah paham.


Setelah Reni mengangguk Dimas mulai bercerita, di mulai saat Namira baru meninggalkannya lalu Ardi datang bersama Andro,lalu Dimas menceritakan kondisi Namira saat ini, tak ada yang Dimas tutupi sama sekali, dia ceritakan semuanya se detail mungkin.


"Apakah kamu akan membantu Namira berpisah dari suaminya?" tanya Reni dengan sedikit rasa khawatir.


Dimas tersenyum, dia kecup pipi Reni.


"Apa kamu takut suami tampan mu ini berpaling hem?"


"Dimasss" kesal Reni "Jangan bercanda".


"Kalau sekali lagi kamu memanggilku dengan nama ku aku akan menghukum mu selama satu minggu" bisik Dimas di telinga sang istri.


"Maaf" lirih Reni, dia langsung membayangkan bagaimana selama satu minggu dia akan sulit berjalan karena hukuman dari Dimas.


"Lalu bagaimana dengan Namira?"


"Besok dia akan pergi dari sini, dia ingin menenangkan diri di tempat Anggi".


Reni mengangguk.


"Lalu malam ini Namira akan menginap di mana?" tanya Reni sembari memutar kepalanya "Kalau di sini aku takut suaminya akan mencarinya kesini sayang"


"Menurutmu dimana yang baik?"


"Kita bawa Namira kerumah saja" usul Reni.


"Kamu yakin?" Reni mengangguk "Bagaimana jika Leo kerumah?"


"Wah wah kamu sudah berani meledek ayah hem" unyel unyel gemas pipi Reni.


"Kamu lebih parah kalau meledek" Reni menujurkan lidahnya, Dimas langsung menciumi seluruh wajah istrinya.


"Sudah sayang" Reni mendorong tubuh Dimas.


"Ayo kita pulang sekarang" ajak Reni.


"Baiklah"


Mereka pun kemudian mengajak Namira ke rumahnya, walau awalnya ada penolakan dari Namira tapi setelah di bujuk oleh Reni akhirnya Namira mau menerima tawaran mereka.


...****************...


Pagi hari, Dimas dan Reni sudah mengenakan pakain rapi dan duduk manis di ruang tamu, Reni yang biasanya bangun siang hari ini bangun lebih pagi karena ingin mengantar Namira ke bandara, Anggi mengatur penerbangan pertama untuk Namira, dia tidak ingin Leo menemukan Namira.


Namira datang sembari menyeret sebuah koper.


"Lo udah siap?" tanya Dimas.


Namira mengangguk.


"Ayo Mir" Reni menggandeng tangan Namira keluar dari rumah, semalam Reni tidur satu kamar dengan Namira, mereka bercerita banyak hal, walaupun sebelumnya mereka tidak begitu dekat tapi sebagai sesama wanita Reni bisa merasakan kepedihan Namira.


Dimas hanya menjadi pendengar sepanjang perjalanan, Reni terus mengajak bicara Namira, mereka berbicara banyak hal tapi tak sekalipun menyinggung masalah rumah tangga Namira.


Dimas tersenyum tipis mendengar Reni yang terus berceloteh, dia sungguh bersyukur memiliki istri seperti Reni, orang yang pandai menempatkan diri dalam hal apapun, Reni juga orang yang sangat penurut dan pengertian, selama beberapa bulan Dimas manjalani bidak rumah tangga bersama Reni tak sekali pun Reni membantah ucapanya, bahkan dalam kondisi marah pun Reni tidak pernah meninggikan suara di depan Dimas, Reni sungguh mengerti bagaimana cara menghormati suami, keharmonisa rumah tangga mereka sekarang adalah hasil kesabaran mereka atas ujian saat awal awal pernikahan dulu.


"Kamu kenapa senyum senyum sendiri sayang?" tanya Reni melihat Dimas dari tadi tersenyum sendiri.


"Hanya sedang membayangkan hal lucu saja"


"Apa?" tanya Reni penasaran.


"Membayangkan kalian bisa rukun dan akur hidup dalam satu rumah".


"Dimasssss!!" Reni segera menyarangkan cubitan beruntun di tubuh Dimas, Namira yang melihat hal itu sangat terhibur, bahkan dia tertawa dengan cukup keras.


Mobil pun berhenti di parkiran bandara, Dimas segera menurunkan koper milik Namira dari bagasi mobilnya, Reni berjalan beriringan dengan Namira, Dimas mengikuti dari belakang sembari menarik koper Namira, Reni menolak keras ketika Dimas meminta mereka berjalan beriringan.


"Maunya, biar di kira raja minyak gitu? punya dua istri cantik!! dasar dokter mesyum" ucapan Reni yang membuat Dimas tertawa.


"Dim terimakasih atas bantuan mu, semoga kamu terus bahagia bersama Reni" ucap Namira tulus ketika mereka sudah sampai di depan gate penerbangan Namira, Dimas menerima uluran tangan dari Namira.


"Ren terimakasih, Dimas sangat beruntung memilki istri seperi mu" Reni memeluk erat tubuh Namira.


"Aku yang beruntung memiliki suami seperti Dimas" jawab Reni.


"Semoga Tuhan selalu memberi kebahagiaan untuk mu Mir". ucap Reni dan Dimas tulus.


Lambaian tangan Dimas dan Reni melepas kepergian Namira, dalam hati mereka berdoa segala kebaikan untuk Namira di setiap langkahnya.


Dimas berjalan menuju parkiran dengan menggandeng tangan istrinya sepanjang jalan, sesekali dia tersenyum ketika banyak gadis gadis muda melihat ke arahnya.


"Heh dokter mesyum!" sungut Reni sembari membetot hidung Dimas.


"Apasi Ren" kesal Dimas mengusap hidungnya.


"Kamu lagi jalan sama istri aja sempat sempatnya tebar pesona" sungut Reni.


"Kalau aku jalan sendiri tidak mungkin tebar pesona".


"Masa?"


"Aku akan langsung ajak kenalan mereka" ucapnya sembari menunjuk gerombolan gadis muda di depannya.


"Dimasss!!!!"


Dimas segera berlari untuk menghindari amukan dari Reni, dia terus berlari sembari tertawa ketika mendengar Reni terus mengomel di belakangnya.