I Am Home

I Am Home
Extra part 3



Setiap akhir pekan Dimas selalu menghabiskan waktunya di rumah bersama Reni, Dimas harus rela menghabiskan hari kerja di rumah sakit bahkan tak jarang dia menginap di rumah sakit, semua Dimas lakukan demi memiliki waktu akhir pekannya bersama Reni, tak jarang bahkan Reni harus rela ikut menginap di ruang kerja Dimas.


Reni sangat mengerti kesibukan sang suami, tak sekalipun dia mengeluhkan keterbatasan waktu yang di miliki oleh Dimas, jika Dimas tidak pulang karena pekerjaan yang menumpuk maka Reni akan menyusul ke rumah sakit untuk menemani Dimas, di ruang kerja Dimas terdapat sebuah kamar tidur membuat Reni dengan senang hati menginap di sana ketika pekerjaan Dimas sangat menuntut waktunya.


Pagi ini Dimas sedang bermalas malasan di ruang tamu bersama Reni, waktu libur yang selalu dia manfaatkan sebaik mungkin bersama Reni, kedua orang tua Reni akan selalu menghabiskan waktu akhir pekan mereka di luar, seakan mereka tahu jika pengantin baru harus di beri kebebasan.


Ponsel Dimas terus berdering lebih dari tiga kali, namun tak ada keinginan Dimas untuk menjawab panggilan tersebut.


"Sayang angkat dulu telfonnya siapa tahu penting" ucap Reni sembari mengelus lembut kepala Dimas.


"Paling Ardi" jawab Dimas acuh.


"Ish sayang" Reni mencubit pipi Dimas "Sudah lebih dari tiga kali berdering, pasti penting" rengeknya.


Jika Reni sudah merengek seperti itu Dimas tak akan memiliki kesempatan untuk membantah keinginan dari permaisurinya.


Dimas mengambil ponsel yang tergeletak diatas meja, benar saja nama Ardi tertera di layar ponselnya.


"Ganggu banget lo pagi pagi" omel Dimas ketika panggilannya terhubung.


"Men lo dimana si, udah dari tadi gue gedor gedor pintu apartement lo" sungut Ardi di ujung sana.


"Kan ada bell ngapain lo gedor!" kesal Dimas, Ardi selalu menggedor pintu ketika datang ke apartement Dimas padahal terdapat bell di sana, aneh memang, namun itu terlihat biasa saja karena Ardi yang melakukannya.


"Gak penting omongan lo!" sungut Ardi "Cepat lo bukain!" pintanya.


"Ngapain lo ke apartement gue?"


"Kan gue udah bilang dari sebulan yang lalu kalau akhir pekan ini gue ke ibu kota" jawab Ardi.


"Gue juga udah bilang dari bulan kemarin gue udah gak tinggal di apartement".


"Oh ya lupa gue" terdengar suara Ardi yang tengah tertawa.


"Beg* lo" cibir Dimas.


"Bodo amat yang penting gue tampan".


Reni yang mendengar percakapan dua manusia absurd itu pun hanya bisa tertawa lirih, Dimas yang selalu terlihat berwibawa jika di rumah sakit, terlihat dewasa dan sangat mengayomi ketika di rumah bersama Reni akan langsung berubah menjadi Dimas yang kekanakan jika sudah berhubungan dengan Ardi, hal yang sangat menghibur dan selalu Reni nantikan pertemuan keduanya.


"Percuma tampan kalau belum laku" cibir Dimas.


"Gak usah selalu bawa bawa status woy!" teriak Ardi.


"Bilang aja ngiri lo" ketus Dimas.


"Gue malas berdebat di telfon, kita lanjut di rumah lo, gue kesitu".


"Gue tunggu".


Tut.... Ardi langsung memutus panggilan secara sepihak.


Reni yang sedari tadi berusaha menahan tawanya langsung meledak setelah obrolan duo bastards itu berakhir.


"Hahahaha" Reni tidak bisa menghentikan tawanya "Kamu kenapa si sayang kalau sama Ardi berantem terus".


"Gara gara kamu Ren".


"Kok aku?" Reni menunjuk dirinya sendiri.


"Gara gara kamu di cium Ardi waktu itu jadi dia selalu merasa di atas aku" gerutu Dimas.


"Hahaha" Reni kembali terbahak, Ardi selalu menggunakan kejadian itu untuk selalu mengejek Dimas, meskipun otak Dimas licik dan bermulut manis namun dia masih kalah dengan mulut beracun milik Ardi jika dalam hal mengejek satu sama lainnya.


"Ish kamu yang bikin perjanjian gak masuk akal" ledek Reni.


"Tapi karena perjanjian itu kamu menjadi orang paling beruntung di dunia"


"Kok bisa?"


"Hanya wanita beruntung yang memiliki suami seperti Dimas Mahendra" ucap Dimas penuh dengan percaya diri.


Reni selalu merasa gemas jika Dimas sudah menunjukkan rasa percaya dirinya yang sangat tinggi itu.


"Iya iya suami tampanku"


Mereka berdua bergumul di atas sofa, Dimas yang menggelitiki tubuh Reni sedangkan Reni yang selalu memberontak, meskipun umur keduanya hampir menginjak kepala tiga tapi perilaku mereka seperti anak muda yang tengah kasmaran.


"Lo berdua kalau mau mesum jangan di tempat umum woy" teriak Ardi yang baru saja masuk ke dalam rumah.


Dimas dan Reni langsung menghentikan aktifitasnya.


"Tamu gak tahu diri" cibir Dimas.


"Istri gue woy" protes Dimas.


"Bodo amat" Ardi malah menggenggam tangan Reni lalu mengelus punggung tangannya, Reni justru hanya tertawa melihat sifat kekanakan kedua lelaki dewasa itu.


"Harusnya waktu itu gue tolak waktu lo cuma kasih taruhan cium pipi Reni, harusnya gue minta.. mmm... mmm.. mmm..." Dimas langsung membekap mulut Ardi kemudian dia langsung menindih tubuh Ardi.


Reni bangkit dari duduknya berjalan menuju dapur, dia tahu jika kedua lelaki itu sudah bergumul tidak akan bisa di pisahkan kecuali mereka yang merasa kelelahan.


Reni datang sembari membawa nampan yang berisi tiga gelas orange juice di atasnya, terlihat kedua sahabat itu tengah terengah engah mengatur nafasnya.


"Udah lelah?" tanya Reni sembari meletakkan gelas di atas meja.


Mereka mengangguk kompak, kemudian meraih gelas itu dan langsung menenggaknya hingga tandas.


"Tambah lagi Ren" ucap keduanya bersamaan.


Reni kembali ke dapur untuk mengambil minuman lagi, dia keluar sembari membawa satu pitcher orange juice, setelah dahaga keduanya hilang mereka duduk dengan rapi di posisi masing masing.


"Men!, gue mau ngomong serius" ucap Ardi dengan wajah serius, dia melirik ke arah Reni yang duduk di sebelah Dimas.


"Reni gak bakal berisik tenang aja" jawab Dimas yang mengerti maksud dari lirikan Ardi, Reni langsung mencubit perut Dimas, dikira dia anak kecil apa, pikir Reni.


"Dia ngajak gue nikah men"


"Yaudah tinggal nikah, apa susahnya, lo secara ekonomi dan umur udah siap men, mau nunggu apa lagi?"


Dimas sudah paham dengan dia yang di maksud oleh Ardi.


Huh..... Ardi membuang nafas kasar.


"Gue belum pernah ada bayangan sama sekali tentang pernikahan men" Ardi merasa dirinya belum siap terkekang dalam sebuah ikatan pernikahan.


"Apa yang membuat lo gak siap?"


Ardi mengedikkan bahu.


"Lo akan siap dengan sendirinya nanti men, gak ada orang yang belajar nikah untuk mempersiapkan diri, yang ada adalah orang yang menikah untuk memperbaiki diri"


Kalimat berisi nasihat dan sindiran Dimas lontarkan, dia sangat tahu jika Ardi masih ingin menikmati kebebasan dan belum mau terikat dengan pernikahan.


"Tapi gue takut men" lirih Ardi.


Huh.... kini giliran Dimas yang membuang nafas kasar.


Dimas sangat paham dengan ketakutan Ardi, dia takut nasib pernikahannya nanti seperti kedua orang tuanya dulu, yang mana Ardi lah yang menjadi korban karena keegoisan sang ayah yang masih ingin bebas, sehingga saat ibu Ardi hamil harus menjalani semuanya sendiri dan pada akhirnya sang ibu harus menghembuskan nafas terakhirnya saat melahirkan Ardi.


Dimas melepas genggaman tangan Reni, dia kemudian menggeser posisi duduknya untuk lebih dekat dengan Ardi, dia cengkram pundak Ardi dengan keras.


"Men gue udah kenal lo dari kita masih bocah ingusan yang labil, sampai hari ini kita sudah mampu berdiri dengan kaki kita sendiri, gue tahu lo gak bakal melakukan kesalahan yang sama dengan apa yang bokap lo lakukan dulu"


Ardi hanya mununduk.


"Gue janji sama lo, akan terus mengawasi lo supaya lo gak melakukan kesalahan yang sama seperti yang bokap lo lakukan di masa lalu, tangan gue akan meluruskan lo ketika lo udah mulai salah jalan men"


Ardi mengangkat kepalanya, dia tatap dalam dalam mata sahabatnya, hanya Dimas yang bisa mengerti dan mampu mengatasi segala keresahan Ardi.


"Thanks men, lo emang sahabat gue yanga paling biad*b dan paling brengs*k untuk mengerti apa yang menjadi beban gue"


Dimas tersenyum lebar.


"So?"


"Tunggu undangan dari gue sebentar lagi" jawab Ardi mantap.


keduanya kemudian terbahak bersama, Reni hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah absurd suami dan sahabatnya itu, bagaimana baru beberapa saat lalu mereka berbicara serius dan emosional, namun tiba tiba mereka kembali ke mode asli mereka.


"Kalian bisa gak sih hidup kaya orang normal?" cibir Reni melihat kelakuan dua orang itu.


"Lo salah Ren, kalau kita normal lo gak mungkin jadi istri Dimas hari ini"


Dimas langsung mengangkat tangannya tinggi tinggi untuk melakukan tos dengan Ardi.


Huh.... Reni menghelas nafas ,dia baru menyadari satu hal, sifat normal mereka ialah yang saat ini sedang Reni lihat, justru ketika kedua orang itu tengah serius dalam bekerja atau berbicara mereka sedang dalam mode tidak normalnya.


"Terserah" ucap Reni seraya beranjak dari duduknya, Dimas yang melihat hal itu justru semakin terbahak karena sang istri merasa kalah telak dengan jawaban Ardi.


"Gitu tuh kalau udah kalah pasti kabur" sindir Dimas.


Reni menghentikan langkahnya kemudian menatap tajam sang suami sembari mengepalkan tangan, bukannya takut Dimas jutru semakin keras tertawa.