I Am Home

I Am Home
Casing model lama



Dimas telah rapi menggunakan pakaian formal dengan jas lengkap, dia berusaha tampil sesempurna mungkin untuk membantu Reni membuat mantannya menyesal karena telah meninggalkannya.


Dimas duduk di atas kap mobilnya sembari menunggu Reni keluar dari rumahnya, Dimas sudah mengabari Reni jika dia sudah berada di depan, dan Reni memintanya menunggu sejenak.


Dimas yang tengah melamun di kejutkan dengan suara berat seorang laki laki.


"Cari siapa?" tanya laki laki berkumis tebal dengan garis wajah tegas.


Dimas bangun kemudian berjalan mendekati laki laki paruh baya yang baru saja turun dari mobilnya itu.


"Saya sedang menunggu teman om".


"Teman kamu tidak punya nama?" tegasnya.


"Galak bener nih pak tua" cibir Dimas dalam hati.


"Reni om" jawab Dimas.


"Kalau mau ajak anak gadis orang keluar, masuk ke dalam pamit sama orang tuanya" Sindirnya sembari melangkah menuju gerbang rumah.


Huh.... Dimas menghela nafas berat, percuma berdebat dengan orang tua lebih baik mengalah, pikir Dimas.


"Maaf om siapanya Reni ya?" tanya Dimas sopan, laki laki itu berhenti kemudian memutar tubuhnya menghadap ke arah Dimas.


"Perlu apa kamu tanya tanya?"


"Sompret bener nih orang tua" Runtuk Dimas dalam hati.


Dimas berjalan mendekat laki laki paruh baya yang tengah berdiri di depan gerbang rumah Reni, ingin rasanya Dimas ajak duel saat itu juga.


"Mohon maaf sebelumnya kalau saya kurang sopan om, perkenalkan nama saya Dimas, saya kesini ingin menjemput Reni untuk menghadiri acara ulang tahun salah satu teman kami" tutur Dimas lemah lembut dengan penuh sopan santun.


"Saya tidak tanya" ketusnya.


"Bener bener minta di bedah nih pak tua"


"Mundurin mobil kamu, saya tidak bisa masuk" ucapnya.


Dimas menghela nafas, padahal posisi mobilnya tidak menghalangi jalan masuk ke rumah Reni, namun karena tidak mau berdebat Dimas pun memilih mengalah, dia kemudian masuk ke dalam mobilnya, lalu memundurkan mobil miliknya.


"Hei" teriak laki laki paruh baya itu.


Dimas turun dari mobil kemudian bergegas menuju ke arahnya.


"Iya om"


"Bukain pagar" perintahnya.


Dimas mengepalkan tangannya berusaha menahan emosinya yang sebentar lagi akan meledak, padahal posisi laki laki itu berada tepat di depan gerbang rumah.


"Iya om"


Dimas menuju ke arah gerbang dengan langkah cepat lalu perlahan dia mendorong gerbang itu, dia berdiri di samping gerbang saat mobil milik laki laki paruh baya itu masuk kedalam.


Laki laki itu tersenyum simpul ketika melihat wajah kesal Dimas, dia langsung kembali menuju mobilnya.


"Lelet" cibir laki laki itu saat mobilnya melewati Dimas yang tengah berdiri.


"Tua" balas Dimas dalam hatinya.


Dimas kembali menutup gerbang setelah mobil laki laki itu sudah terparkir di dalam.


"Kamu mau kemana?" tanya orang itu ketika melihat Dimas menutup gerbang dari luar.


"Perlu apa kamu tanya tanya?" ledek Dimas dalam hatinya menirukan ucapan orang itu tadi.


"Saya tunggu di luar saja om".


"Masuk" ucapnya tegas.


Dimas kembali mendorong gerbang sedikit untuk memberinya ruang agar bisa masuk ke dalam, dia mengikuti langkah kaki laki laki paruh baya itu.


"Duduk" ucap laki kaki itu menunjuk kursi yang terdapat di teras rumah.


"Nyuruh duduk malah pergi, dasar" gerutu Dimas dalam hati.


Dimas yang di tinggal sendiri di teras pun merasa sedikit bosan, dia mengecek beberapa kali ponselnya tapi belum ada balasan dari Reni atas pesan yang dia kirim, Dimas memang datang lebih cepat dari waktu yang telah di sepakati, karena biasanya jika akhir pekan jalanan lebih ramai, namun ternyata justru jalanan terlihat lenggang hingga membuat Dimas datang lebih cepat.


"Silahkan mas" ucap Seorang wanita muda dengan seragam khas maid menyodorkan secangkir kopi pada Dimas.


"Terimakasih" jawab Dimas yang di balas anggukan oleh maid tersebut.


Tak berselang lama laki laki yang menurut Dimas sangat menjengkelkan keluar dengan pakaian yang sudah berganti, tadi saat datang dia memakai pakaian kerja lengkap.


"Kenapa belum di minum?" tanya orang itu sembari duduk di kursi yang kosong.


"Gue gak suka kopi" ucapnya dalam hati.


"Belum di persilahkan sama tuan rumah om" jawab Dimas sopan.


"Minum"


"Terimakasih om" Dimas menyesap sedikit kopi dari cangkir itu.


"Kamu siapa?"


"Dimas om"


"Saya tidak tanya nama kamu, yang saya tanya kamu siapanya anak saya?"


"Anak?"


"Maaf om, anak om siapa ya?" pertanyaan Dimas yang terdengar bodoh.


"Kamu ini bodoh atau pura pura bodoh" cibirnya.


"Om ayah Reni?"


"Masih tanya" sungutnya.


Dimas tersenyum kikuk menyadari kebodohannya.


"Kamu siapanya Reni?"


Dimas terdiam sesaat, jika dia mengaku sebagai pacar rasanya akan lebih mendapat perlakuan sinis dari ayah Reni, kalau mengaku sebagai teman sia sia dia sudah di kerjai oleh orang tua menyebalkan itu, lalu Dimas terpikir satu hal.


"Bukan" ucap Dimas dalam hati "Calon menantu om" jawabnya mantap.


"Bu.. Ibu..." teriak ayah Reni seketika.


"Waduh bau bau gak beres nih" panik Dimas dalam hati seakan mendapat firasat buruk setelah ayah Reni memanggil ibu Reni.


"Kenapa ayah teriak teriak?" omel Wanita paruh baya yang baru saja keluar dari rumah, Dimas terkesiap ketika melihat wajahnya yang benar benar persis dengan Reni hanya saja dengan casing model lama.


"Ada orang yang ngaku ngaku calon menantu kita bu" ucapnya sembari menunjuk Dimas menggunakan ekor mata.


Ibu Reni langsung menatap tajam ke arah yang di maksud oleh suaminya, terlihat Dimas yang tengah duduk sembari mengetukkan jari tangannya di atas senderan lengan yang ada di kuris itu, Dimas yang merasa dirinya di perhatikan bukannya salah tingkah atau berusaha menghindari kontak mata justru melakukan hal sebaliknya, Dimas tatap mata wanita paruh baya yang sangat identik dengan Reni sembari memberi senyum semanis mungkin.


"Syukur, akhirnya ada yang gak lari pas ketemu ayah" ucapnya heboh sembari berjalan ke arah Dimas.


"Eh..." Dimas tekejut dengan respon ibu Reni.


"Emang segalak apa si pak tua ini, yang pasti si menyebalkan"


"Nama kamu siapa nak?" tanya ibu Reni sembari duduk di sebelah sang suami.


"Dimas om.. eh tante" ucapnya karena masih merasa terkejut.


"Hahaha" ibu Reni pun terkekeh "Tenang aja jangan grogi, ayah Reni memang galak" ucapnya sembari tersenyum "dan menyebalkan" tambahnya tanpa mengeluarkan suara.


Dimas tertawa pelan mendengar hal itu, bagaimana sang istri yang bisa menebak dengan apa yang sedang Dimas pikirkan tentang suaminya.


Mereka kemudian berbincang banyak hal, Dimas berasa seperti di introgasi oleh pertanyaan pertanyaan tajam dari ayah dan ibu Reni.


"Kamu kerja dimana nak?"


"Saya hanya tukang potong daging tante"


"Motong daging pasien di ruang operasi"


"Wah kamu pandai pakai pisau dong ya?"


"Iya tanten".


"Pisau bedah"


Dimas terus menjawab asal asalan pertanyaan dari kedua orang tua Reni, hingga Dimas dapat menarik kesimpulan jika kedua orang tua Reni bukanlah type orang yang melihat seseorang berdasarkan kedudukan saja, di balik sifat angkuh ayah Reni, justru Dimas mampu melihat ketulusan di matanya ketika sedang berbincang serius terkait dengan Reni.


"Om itu selalu mengusir laki laki yang main ke sini" ucapnya lirih namun dengan ekspresi wajah galak.


"Muka gila"


"Mungkin karena itu sampai sekarang Reni belum menikah" lanjutnya tersirat rasa penyesalan di matanya.


Dimas seketika bingung, bisa gawat kalau tiba tiba pak tua galak yang sedang menyesal itu menyuruhnya menikahi Reni saat itu juga.


"Mungkin belum jodohnya om" ucap Dimas berusaha se diplomatis mungkin.


"Ehem" suara deheman menarik atensi ketiga orang yang tengah berbincang itu, Dimas seketika melotot ketika melihat orang yang tengah berdiri di depan pintu masuk.


"Wow" ucapnya tanpa sadar setelah memperhatikan penampilan Reni, tubuh tinggi semampai dengan wajah ayu ber make up tipis di balut gaun pesta yang terlihat sangat pas, membuat aura kecantikan Reni semakin keluar dan seakan mampu menghipnotis Dimas.


"Biasa aja kali ngeliatnya Dim" tegur Reni karena melihat Dimas yang tengah memperhatikan dirinya tanpa berkedip.


Reni segera mengajak Dimas pergi karena melihat waktu yang sudah meped, setelah Dimas sedikit berbasa basi dengan kedua orang tua Reni kemudian dia berpamitan untuk mengajak Reni pergi.


"Om tante Dimas pamit dulu ya"


"Hati hati di jalan nak" balas ibu Reni.


"Kamu bawa Reni dalam keadaan utuh, kamu harus kembalikan seperti semula"


"Buset nih pak tua bener bener minta di sleding lehernya".


"Iya om pasti" Dimas kemudian menyalami kedua orang tua Reni.


"Ren" bisik Dimas saat dia tengah berjalan beriringan dengan Reni keluar dari halaman rumahnya.


"Apa?"


"Gue kira tadi itu lo" ujar Dimas.


"Siapa?"


"Tuh" Dimas menunjuk ibu Reni yang tengah berdiri di teras menggunakan ekor matanya.


"Ibu?" Dimas mengangguk "Mirip banget kan sama gue" ucap Reni.


"Iya, cuma beda casing doang"


"Maksudnya?"


"Yang di situ casing model lama" ucapnya yang langsung di balas kekehan oleh Reni.


"Gue aduin lo ntar, ngledek ibu gue" sungut Reni tapi masih dengan suara tawa yang belum berhenti.


"Lah lo juga ketawa".


Mereka berjalan menuju mobil Dimas yang berada di luar sembari terus tertawa bersama, dari jauh kedua orang tua Reni yang memperhatikan hal tersebut mengulum senyum bahagia, pasalnya beberapa bulan terakhir Reni selalu murung, baru kali ini mereka melihat Reni kembali bisa tertawa bahagia.