
Waktu terus berjalan, setelah perenungan panjang Dimas merasa yakin jika hatinya sudah tertambat kepada Namira, Namun tak bisa di pungkiri jika Dimas juga tertarik dengan pesona Daisi, seorang yang kepribadiannya sangat mirip dengan Anna, Dimas menemukan sosok Anna pada Daisi walau hati kecilnya terus menyangkal, di sisi lain Dimas juga tak bisa lepas dari kenikmatan duniawi yang terus di berikan Dinda.
"Ais ku" goda Dimas setelah meletakkan tas di atas mejanya.
"Dimas jangan panggil Ais" Daisi pura pura merajuk dengan wajah yang di tekuk.
"Persis, sama persis seperti Anna namun dengan rupa yang berbeda"
"Itu kan panggilan spesial dari gue" kedipan mata langsung membuat pipi Daisi merona.
"Yaudah terserah kamu" ucapnya dengan nada manja.
Dimas kemudian duduk di atas meja tepat di depan Daisi.
"Ntar pulang ada acara?" Daisi memutar bola mata seakan sedang berfikir.
"Ada?" tanya Dimas.
Daisi menggeleng.
"Engga" jawabnya singkat.
Sungguh Dimas sudah tak tahan dengan tingkah Daisi yang sangat menggemaskan, tangannya seperti tertarik untuk mencubit pipi Daisi, pucuk di cinta ulampun tiba, tidak ada penolakan dari Daisi, Dimas lebih berani dia elus elus kepala Daisi.
"Ntar jalan yuk?" sembari masih memainkan pipi Daisi, sesekali Dimas belai lembut sesekali Dimas mencubitnya.
"Kemana?" tanya Daisi.
"Rahasia" jawab Dimas cepat yang langsung mendapat cubitan mesra dari Daisi.
Bell berbunyi nyaring, dengan terpaksa Dimas harus kengakhiri kemesraannya dengan Daisi, tiga anggota the bad boys pun baru masuk ketika guru akan menutup pintu kelas.
****************
Pulang sekolah tiba, Dimas bergegas keluar kelas bersama Daisi, the bad boys yang memanggilnya hanya di jawab dengan lambaian tangan.
"Pulang dulu ya aku mau ganti baju" pinta Daisi setelah Dimas melajukan mobilnya menunggalkan sekolah mereka.
"Dengan senang hati tuan putri" jawab Dimas sembari mengulum senyum manis.
Setelah beberapa menit mobil pun berhenti tepat di depan rumah Daisi, Dimas ikut turun karena dia ingin mengganti baju juga, Dimas memang selalu membawa baju ganti di dalam mobilnya.
"Are you ready?" tanya Dimas setelah Daisi sudah terlihat cantik dengan bajunya.
"Ready, go" teriak Daisi sembari merentangkan tangannya, Dimas yang melihat hal itu pun hanya bisa tertawa.
Dimas mengajak Daisi untuk makan siang di sebuah cafe, cafe favorit Dimas dan mendiang Anna, Dimas benar benar memperlakukan Daisi seperti Anna.
Dimas menarik kursi kemudian mempersilahkan Daisi untuk duduk, Daisi merasa tersanjung dengan semua perlakuan manis Dimas.
Tanpa Dimas sadari ada dua pasang telinga yang tengah mendengarkan percakapannya dengan Daisi, ada dua pasang mata yang sedang menatap ke arahnya.
"Aku ke toilet dulu ya Dim" pamit Daisi, Dimas pun mengangguk, dia tatap punggung Daisi yang perlahan menjauh, hingga tiba tiba.
"Dimas" pekik suara wanita yang bercampur dengan aura kemarahan di dalam ucapannya.
Dimas menoleh karena merasa namanya di panggil.
"Waduh" mata Dimas langsung melotot, wajahnya mendadak pucat, seperti baru saja ketahuan selingkuh, terlihat Anggi dengan wajah marah berdiri di sana sembari berkacak pinggang, Amar yang tengah berdiri di samping Dimas hanya menggelengkan kepalanya sembari tersentum tipis ketika mendapat kode melalui mata Dimas, seakan berkata.
"Gue gak ikut ikut men"
"Eh nyonya Amar" ucap Dimas sembari tersenyum kecut.
"Lo ya bener bener" Anggi menunjuk wajah Dimas, dia kemudian langsung membrondong Dimas dengan berbagai macam sumpah serapah serta caci maki.
"Gue bisa jelasin Nggi" sanggah Dimas atas segala tuduhan Anggi.
"Berarti bener lo ngakuin kalau lo cuma mau mainin Namira" tuduh Anggi.
"Engga, gue gak bilang gitu"
"Dengan lo bilang mau jelasin itu udah cukup buat gue kalau lo emang cuma mau mainin Namira" sungut Anggi.
Kepala Dimas berdenyut seketika, dia seakan sudah kehabisan kata kata untuk membela diri di hadapan Anggi.
"Men" Dimas menatap Amar dengan tatapan memohon, Amar yang mendapati hal itu langsung gelagapan apa lagi Anggi ikut menatapnya tajam.
"Lo mau belain teman lo" Anggi menunjuk Amar, Amar langsung menggeleng.
"Jawab yang benar jangan cuma geleng geleng aja" ketus Anggi.
"Engga yank" ucap Amar dengan nada putus asa.
"Lo berdua sama aja, dasar twin bastards"
"Lah kok jadi bawa bawa gue yank" protes Amar.
"Udah lah, males gue sama lo berdua" Anggi langsung pergi meninggalkan Dimas dan Amar yang masih terdiam melongo.
"Oh ya gue lupa" Anggi kembali berdiri di depan Dimas.
Bugh.....
Tas yang di gunakan Anggi mendarat sempurna di wajah Dimas.
"Buat lo yang udah mainin sahabat gue" Dimas mengelus wajahnya yang terasa panas karena pukulan telak yang di berikan Anggi, Amar hanya menatap Dimas dengan tagapan iba tanpa bisa berbuat apapun karena ancaman Anggi, setelah memberi tepukan semangat di bahu Dimas Amar langsung pergi mengejar Anggi.