I Am Home

I Am Home
Kesempatan Emas



Satu bulan berlalu semenjak perkelahian antara Dimas dan Aldo, hubungan Anna dan Dimas masih seperti biasa, tidak ada komunikasi satu sama lain, hanya hanya saling memperhatikan dari jauh.


Semua murid kini tengah fokus menghadapi ujian kenaikan kelas, Ardi berusaha belajar mati matian di bawah bimbingan Dimas, bahkan selama 2 minggu sebelum ujian berlangsung Ardi menginap di rumah Dimas, hal itu dia lakukan bukan karna ingin memperoleh nilai baik atau naik kelas dengan nilai tinggi, Ardi belajar mati matian karena alasan tidak bisa mencontek, tempat duduk yang di atur sesuai urutan absen membuat Ardi dan Dimas duduk berjauhan walau masih dalam satu ruang kelas.


"Apes banget gue duduk di depan" gerutu Ardi ketika mendapati nomor ujiannya tertempel di meja paling depan.


"Semangat men" Dimas menepuk bahu Ardi sembari memberikan senyum mengejek, Ardi membalas hal tersebut dengan cibiran.


Mereka kemudian fokus mengerjakan lembar jawaban yang baru saja di bagikan oleh guru, selama 90 menit tidak ada kegaduhan yang berarti di ruang itu, karena satu orang biang onar tidak berada di situ, Noval terpisah ruang ujian dengan ketiga sahabatnya itu.


Tettt......


Suara bell menghentikan aktifitas para murid dalam mengerjakan soal, pengawas meminta mereka untuk mengumpulkan kembar jawaban ke depan.


Dimas, Ardi dan Amar meninggalkan kelas bersama mereka kemudian melangkah menuju kantin, dari kejauhan terlihat Noval sudah duduk nyaman sembari menikmati makanannya.


"Beg* lo bertiga" Noval memberi tatapan meremehkan "Lama bener ngerjain soal gitu doang" cibirnya saat ketiga sahabatnya duduk di tempatnya masing masing.


"Sok pintar lo" Ardi duduk, tangan kanannya langsung menyambar gelas minuman milik Noval "Ntar gak naik kelas nagis nangis" ucapnya setelah menenggak minuman itu hingga tandas.


"Minuman gue tuh" protes Noval saat Ardi meletakkan gelas kosong kembali pada tempatnya.


"Dikit" ucap Ardi di balas toyoran kepala oleh Noval "Dikit lo satu gelas langsung kering"


"Hehehe" Ardi nyengir kuda "Gue pesenin lagi, santai men".


Ardi berdiri "Bunda" teriaknya "Biasa 4 gelas" sambubgnya setelah mendapat perhatian dari ibu pemilik kantin.


"Men, ntar kelas dua penjurusan, kita masuk jurusan apa ya?" ucap Amar membuka diskusi.


"IPA aja lah" usul Dimas yang langsung di protes Ardi.


"IPS aja men, anak IPA cupu"


"Bilang aja lo beg* gak mau masuk IPA" sindir Noval tanpa melihat ke arah Ardi.


"Bac*t lo" ketus Ardi.


Perdebatan di mulai, Dimas dan Amar ingin mereka berempat masuk IPA, sedangkan Ardi kekeh mereka masuk IPS saja.


"Bahasa aja lah dari pada pusing" usul Noval yang menghasilkan toyoran kepala serta cibiran dari ketiga sahabatnya.


"Diam!, lo gak diajak" sarkas Ardi.


Perdebatan kemudian berlanjut.


"Gini gini men" Dimas bicara dengan mimik wajah serius dan menatap mata Ardi dalam dalam.


"Kalau IPA kan cowonya dikit tuh di kelas karena mayoritas cewe, dengan kita masuk IPA lo bisa ngembangin bakat lo men"


Amar tersenyum penuh arti mendengar ucapan Dimas yang sedang mencoba untuk membujuk Ardi.


"Bakat apa?" tanya Ardi bingung.


"K*mpret" cibir Ardi yang di balas gelak tawa oleh ketiga sahabatnya.


Setelah berdebat panjang akhirnya mereka memutuskan akan masuk jurusan IPA, dengan iming iming Amar yang tetap akan jadi ketua kelas nantinya, Noval memberi sugesti jika Ardi akan selalu mendapat contekan dari Dimas, selain itu juga rayuan Dimas yang bilang Ardi akan dapat banyak kesempatan untuk memperoleh mangsa tanpa susah payah mereka pun memperoleh kata sepakat.


...****************...


Dua minggu berlalu dengan cepat, ujian kenaikan kelas sukses mereka lewati, saat ini minggu tenang sebelum pembagian raport hasil belajar mereka selama setahun, yang akan menentukan nasib mereka, harus tinggal di kelas lama atau melangkah lebih dekat dengan masa depan.


Suara protes dan usul terdengan saling berdahutan dsri dalam kelas, saat ini kelas X1 sedang terjadi diskusi yang di pimpin oleh Amar sebagai ketua kelas, mereka tengah berdiskusi mengenai apa yang mereka tampilkan di acara pentas seni nanti, setiap kelas wajib mengirimkan satu wakilnya untuk tampil di acara pentas seni.


"Semua di mohon tenang" Amar meninggikan suaranya.


Brak... brak... brak....


Amar menggedor papan tulis karena suasana diskusi semakin tidak kondusif.


Huh........ Amar menghembuskan nafas dalam, kemudian dia mengambil oksigen sebanyak mungking.


"Kalau gak tenang gue keluar dari kelas, Noval yang lanjut mimpin diskusi ini sial*n!"


Hening.....


Suasana yang tadi gaduh seketika hening tanpa ada suara, kecuali suara tawa dari ketiga sahabat Amar yang tengah tertawa lirih karena melihat Amar yang tengah emosi.


"Ada usul tentang apa yang akan kita tampilkan nanti" ucap Amar setelah keadaan sudah bisa di kendalikan.


"Nyanyi aja solo si Eva"


"Duet aja sama Ardi" Noval.


"Eva gamparin Ardi aja di atas panggung" Dimas.


Diskusi kembali berjalan dengan tidak semestinya membuat Amar kesal, akhirnya dengan hak prerogatif ketua kelas Amar memutuskan Dimas akan tampil bernyanyi mewakili kelas.


"Lah kenapa jadi gue men!" protes Dimas.


"Tenang aja nanti Ardi jadi penari latar pas lo nyanyi" jawab Amar.


"Lo aja sendiri" sergah Ardi.


Penolakan dari Dimas tidak berarti apapun, keputusan yang di ambil oleh Amar bersifat final, akhirnya Amar memutuskan untuk membentuk band yang beranggotakan 4 biang onar di kelas, dengan Dimas yang di dapuk sebagai vokalis.


"Lo kan lagi butuh panggung buat nunjukin pesona lo men, ini kesempatan emas" rayu Amar melihat Dimas masih terlihat kesal.


"Gue setuju men, kalo lo gak nunjukkin diri ketampanan lo gak ada yang ngelirik" tambah Ardi.


"Deal" ucap Noval.


Akhirnya Dimas menyetujui usul sahabatnya, Dimas pikir manfaat yang akan di peroleh cukup besar, namanya akan terangkat dan bisa saja sejajar dengan murid tampan yang sudah terkenal seperti Ardi dan Aldo.