I Am Home

I Am Home
Teman



Dimas menjalani hari dengan bahagia setelah pertemuannya dengan Namira, Dimas masih ingat bagaimana pertemuan nya kembali dengan Namira, ingin rasanya Dimas menanyakan tentang sesuatu yang selama ini mengganggu pikirannya, namun saat itu rasanya terlalu terburu buru jika Dimas bertanya.


Hari ini Dimas sudah mengatur waktu untuk kembali bertemu dengan Namira, karena setelah pertemuan waktu itu hanya sesekali saja Dimas mengantar jemput Namira karena kesibukannya, sisanya mereka hanya saling berkomunikasi melalui ponsel.


Walau lebih sering berkomunikasi melalui ponsel namun semua perhatian yang Namira berikan seakan memberi Dimas sebuah harapan, harapan yang selama ini Dimas impikan, harapan yang dalam benaknya akan menjadi kenyataan, Namira sering kali memberi kode pada Dimas memgingatkan tentang masa lalu mereka, bahkan tak jarang Namira memanggil Dimas dengan panggilan sayang, hal yang membuat hati Dimas berbunga bunga.


Setelah selesai jam prakteknya dan memastikan tidak ada operasi hari ini Dimas segera membereskan barang barangnya, dia ingin pulang terlebih dahulu untuk sekedar membersihkan diri dan berganti pakaian.


Pagi tadi memang Dimas mengantar Namira ke kampus dan berjanji akan menjemputnya, sekalian kencan nanti, begitulah yang Dimas katakan dan di sambut dengan anggukan kepala oleh Namira.


Tanpa banyak membuang waktu Dimas langsung membersihkan diri begitu sampai di rumah, setelah memilih pakaian yang cocok, dia pun langsung mengenakannya kemudian bergegas menuju kampus tempat Namira mengajar.


Dimas menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang kampus, penampilannya sudah rapi dan terlihat tampan, sangat menunjukkan wibawanya tapi tak terkesan kaku seperti pertemuan sebelumnya.


"Sepertinya mereka sangat dekat" gumam Dimas ketika melihat dari jauh Namira sedang bercengkrama dengan seorang laki laki, terlihat beberapa kali mereka bercanda bahkan tak segan melakukan kontak fisik satu sama lain, hal yang membuat Dimas yakin jika mereka dekat karena Namira tidak akan bersikap seperti itu jika dengan orang lain, hanya dengan orang orang terdekat saja.


Dimas mengambil ponsel dari sakunya bermaksud untuk menghubungi Namira, setelah beberapa lama panggilan Dimas tidak kunjung di jawab oleh Namira, padahal matanya dengan jelas melihat jika Namira tadi sempat mengeluarkan ponsel dari dalam tas nya.


"Ck... ck... ck... " Dimas berdecah kesal, dia bahkan beberapa kali memukul stir mobilnya.


Bunyi ponsel Dimas menarik atensinya, terlihat nama Namira tertera di layar ponsel tersebut, Dimas menarik nafas dalam untuk menenangkan diri dari emosi.


"Hallo"


"Kamu dimana?"


"Di depan" jawab Dimas singkat


"Oke, aku kesana"


Tut....


Panggilan langsung di akhiri oleh Namira.


Dari jauh Dimas melihat Namir ayng tengah berjalan mendekat ke arah mobilnya, wajah Namira terlihat masih sama seperti puluhan tahun lalu, hanya sekarang terlihat lebih dewasa saja.


Tok... tok... tok...


Dimas menurunkan kaca mobilnya setelah mendengar suara ketukan kaca.


"Udah lama?" tanya Namira setelahnya.


"Masuk" ucap Dimas setelah membuka lock pintu mobilnya.


Biasanya Dimas akan menyambut Namira dengan senyum, dia bahkan tak pernah lupa membukakan pintu mobil untuk Namira, tapi saat ini mood Dimas tengah buruk, setelah melihat Namira yang cukup intens dengan laki laki lain apalagi Namira mengabaikan panggilan telfonnya padahal jelas jelas Dimas melihat jika Namira tadi sempat mengecek ponselnya.


"Lagi banyak kerjaan kah hari ini?" tanya Namira karena merasa sikap Dimas tidak seperti biasanya, apalagi wajah Dimas terlihat seperti sedang kesal.


"Maybe" jawab Dimas, dia kemudian langsung melajukan mobilnya meninggalkan kampus.


"Kamu kenapa Dim?" tanya Namira setelah beberapa saat mobil melaju namun Dimas hanya diam saja, Dimas biasanya selalu bertanya banyak hal bahkan menggoda dirinya jika mereka sedang berdua di dalam mobil, walaupun tidak seperti dulu, sekarang Dimas sedikit lebih kaku dalam menggodanya.


Dimas melirik sesaat kemudian langsung mengarahkan pandangannya kembali ke depan.


"Aku langsung antar kamu pulang saja" ucapnya tanpa melihat ke arah Namira.


"Aku minta maaf sudah buat kamu menunggu" Namira nampaknya menyadari kesalahannya, dia masih ingat jika Dimas adalah orang yang sangat tidak suka menunggu lama dari waktu yang telah di sepakati.


"Dim" Namira memegang lengan Dimas "Maaf ya" ucapnya tulus.


Bukan, bukan karena menunggu Dimas kesal, Dimas kesal karena melihat Namira dekat dengan laki laki lain, rasa cemburu tiba tiba menghantui Dimas, apalagi Dimas sangat tahu jika Namira tidak mudah dekat dengan lawan jenis, selain itu Namira yang mengabaikan panghilannya menjadi salah satu faktor yang membuat Dimas lebih kesal.


"Iya" jawab Dimas singkat, usapan lembut dan suara manja Namira belum mampu menghilangkan emosi Dimas saat itu.


Namira terdiam, dia mencoba mengingat segala hal tentang Dimas, segala hal yang dapat menghilangkan kekesalan Dimas, segala hal yang dapat mengembalikan mood Dimas.


"Tadi aku diajak berbincang sama teman sesama dosen" Dimas menautkan alisnya pertanda Namira boleh melanjutkan ceritanya.


"Dia temanku dari kuliah dulu, aku gak enak kalau langsung di tinggal" ucapnya mencoba memberi penjelasan, Namira ingat jika melakukan suatu kesalahan pada Dimas dia harus memiliki alasan logis agar Dimas langsung memaafkannya.


"Teman" ucap Dimas dalam hati.


"Wah ternyata kamu sudah banyak berubah ya, tidak seperti Namira yang aku kenal" sindir Dimas.


"Maksudnya?"


"Sejak kapan Namira sangat akrab dengan seorang teman lawan jenis" sinis Dimas.


"Ya karena kita sudah mengenal cukup lama makanya bisa akrab" Namira berusaha membela diri, dia tidak sadar bahwa dirinya baru saja melakukan kesalahan dengan beradu argumen dengan Dimas, Namira lupa jika melakukan kesalahan dan menyebabkan Dimas marah hanya perlu dua hal, pertama menjelaskan secara logis alasannya, kedua meminta maaf, jangan pernah beradu argumen dengan Dimas.


"Wah begitu ya, semoga hubungan pertemanan kalian langgeng ya" Dimas menekan kata katanya saat berbicara pertemanan.


"Memang salahnya dimana?" Namira mulai terpancing emosi "Tidak ada bedanya dengan kita yang juga akrab walau hanya berteman" ucap Namira berbarengan dengan Dimas menghentikan mobilnya karena lampu merah.


Dimas melihat Namira, dia tatap dengan intens wajah Namira, kemudian Dimas tersenyum miring.


"Kamu benar"


Mobil kembali melaju setelah lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau, mereka terus beradu argumen, lebih tapatnya Namira terus berbicara menyudutkan Dimas, Dimas hanya sesekali menjawab, selebihnya dia hanya berdehem saja.


"Kamu kenapa sih Dim?" Namira semakin kesal dengan Dimas.


Dimas hanya melirik sesaat kemudian pandangan matanya kembali fokus ke depan.


"Kalau kamu memang sibuk dan tidak bisa menjemputku lebih baik bilang, jangan seperti ini" omel Namira.


"Ini terakhir kali aku menjemput mu!" ketus Dimas.


Namira tersentak.


"Bukan begitu maksud ku Dim" lirih Namira.


"Lain kali coba hargai orang lain, jangan pernah membuatnya menunggu dalam ketidak pastian, karena kamu tidak akan tahu apa saja yang dia korbankan untuk menunggu mu".


Ucapan Dimas langsung membuat Namira bungkam, Namira sedang mencerna maksud dari kata kata Dimas.


*Hargai?


Menunggu*?


Sekian lama Namira berfikir tidak juga menemukan jawaban maksud dari ucapan Dimas barusan, ketika Namira ingin bertanya ternyata mobil yang di kendarai Dimas sudah sampai di parkiran apartement nya.


"Silahkan, saya tidak bisa mengantar mu masuk, masih banyak hal yang harus saya kerjakan" ucap Dimas seakan mengusir Namira secara halus, akbirnya Namira mengurungkan niatnya untuk bertanya pada Dimas, siatuasi saat itu tidak memungkinkan dirinya untuk bertanya pada Dimas, karena dia pun menyadari mood Dimas yang sedang tidak baik.