I Am Home

I Am Home
I Am Home



Acara pernikahan Dimas dan Reni berlangsung dengan sangat meriah, dekorasi mewah di salah satu ballroom hotel bintang lima mejadi saksi pengucapan janji suci kedua insan yang tengah berbahagia.


Dua bulan ternyata waktu yang lebih dari cukup untuk keduanya menumbuhkan benih benih cinta dalam hatinya, kini keduanya tidak lagi terikat dalam komitmen yang mereka buat namun lebih dari itu, hati keduanya sudah saling mengikat satu sama lain karena cinta yang telah tumbuh di hatinya masing masing.


Hari bahagia pernikahan Dimas dan Reni juga menjadi hari bahagia bagi ketiga sahabatnya, sahabat yang telah bersama Dimas saat mereka sama sama membentuk jadi diri masing masing, sahabat yang pernah melalui banyak hal bersama sama, sahabat yang lebih dari saudara, segala macam suka dan duka mereka lewati bersama.


Noval bersama keluarga kecilnya naik terlebih dahulu ke atas panggung pelaminan dari sahabat sejatinya itu, dia membawa filosofi jodoh di setiap langkahnya, yang pada akhirnya mampu Dimas buktikan kebenarannya.


"Men" Dimas langsung memeluk erat sang sahabat, sedari tadi dia sudah tidak sabar menunggu Noval menghampirinya, mama Dimas menahan Noval cukup lama yang membuat beberapa kali Dimas menyindirnya.


"Selamat berbahagia men" Noval membalas pelukan Dimas dengan erat.


"Karena filosofi brengs*k lo gue akhirnya benar benar menemukan jodoh gue men" ucap Dimas sembari menggenggam erat tangan Reni, Reni hanya tersenyum mendengar hal itu, karena Dimas sempat bercerita salah satu hal yang membuatnya yakin menikah dengan Reni, karena filosofi dari sang sahabat.


Noval hanya tertawa mendengar ucapan Dimas, dia juga tidak menyangka jika bualanya saat itu benar benar di percayai oleh Dimas, bualan yang Noval ciptakan hanya sekedar untuk menghibur Dimas ternyata jadi kenyataan saat ini.


"Lo pantas mendapatkan yang terbaik men" menepuk bahu Dimas.


Noval kemudian bergeser ke arah Reni.


"Kalau suatu saat Dimas nyakitin lo jangan lo umbar ke siapapun, lo bilang ke gue maka gue akan kasih pelajaran yang gak akan Dimas lupain seumur hidup" Noval memegang pucuk kepala Reni "Jika suatu hari lo ingin melepas Dimas, jangan dengan cara lo sakitin dia, lo lepas dia baik baik gue akan dengan senang hati merangkul Dimas untuk bangkit" Noval menitihkan air mata, dia orang yang hampir tidak pernah menangis hari ini menitihkan air mata untuk sahabat terbaiknya "Gue berdoa semoga lo dan Dimas bahagia selamanya, gue percaya lo mampu mengurus dan membahagiakan si bungsu " Reni mengangguk sembari menyalami tangan Noval, tak terasa dia menitihkan air mata mendengar petuah dari Noval.


Dimas memang yang berusia paling muda di antara ketiga sahabatnya, walaupun hanya berbeda hitungan bulan saja, namun Dimas tetaplah si bungsu yang akan terus mereka jaga dan lindungi selamanya.


Amar melangkah naik bersama keluarga kecilnya, rengekan dari si kembar langsung membuat kehebohan di atas panggung.


"Oom Dims bohong" rajuk keduanya.


Dimas hanya terkekeh melihat tingkah anak kembar sahabatnya itu.


"Aunty jangan pernah percaya sama Oom Dims, Oom Dims itu pembohong aunty" Reni tertawa sembari mencubit pipi gembul keduanya, Dimas belum menepati janji pada si kembar saat dulu berpisah di bandara, janji yang akan terus mereka tagih sampai kapan pun.


"Men" Amar terdiam beberapa saat, pandangan matanya menatap lekat lekat wajah sang sahabat.


"Lo emang sahabat gue yang paling bastard" umpatnya sembari memeluk erat tubuh Dimas, Amar adalah orang yang paling tidak percaya ketika Dimas mengirim undangan pernikahanya, dalam pikirannya bagaimana mungkin minyak dan air bisa menyatu, Dimas dan Reni adalah musuh bebuyutan ketika di sekolah dulu.


"Kalau gue tahu dari dulu Reni yang akan menjadi pelabuhan cinta gue men, mungkin gue akan lebih parah berperang saat itu, karena gue yakin Reni akan memaafkan gue hari ini" kelakar Dimas yang di balas cubitan manja oleh sang istri.


Amar kembali memeluk Dimas dengan erat sembari mulutnya terus mengumpati sang sahabat, umpatan rasa ketidak percayaan dari apa yang dia lihat hari ini, setelah itu Amar pun menggeser posisinya berdiri di depan Reni.


"Ren dibalik rasa ketidak lercayaan gue atas pernikahan kalian tapi gue yakin lo adalah orang yang tepat untuk Dimas" Amar menepuk lengan Reni.


"Meskipun omongan gue akan terdengar seperti omong kosong tapi lo simpen baik baik dalam memori otak lo Ren, lo jangan pernah sakiti Dimas dengan alasan apapun, gue bisa memaafkan orang yang sebelumnya menyakiti Dimas karena memang mereka belum ada ikatan pernikahan, tapi jika suatu hari gue tahu lo nyakitin Dimas dengan tangan gue sendiri bakal gue balas lo Ren". Reni mengangguk dengan mata berkaca kaca.


"Kenapa gue gak kasih wejangan ke Dimas karena gue udah kenal Dimas, gue udah tahu bagaimana Dimas, dia gak akan menyianyiakan apa yang sudah dia pilih dan dia miliki, Dimas akan selalu membahagiakan wanitanya, untuk sesuatu yang gak pasti aja Dimas rela menanggung beban selama sepuluh tahun, apalagi untuk lo wanita pilihan Dimas, dia akan rela mengorbankan hidupnya demi kebahagiaan lo"


Reni kembali menangis ketika mendapat wejanga dari sahabat Dimas, dia merasa mereka bukan hanya sahabat namun sudah selayaknya saudara.


Ardi berjalan dengan angkuhnya naik ke atas panggung, tangannya menggenggam erat seorang wanita yang berhasil meluluhkan hatinya, wanita yang selama ini dia tunggu untuk menariknya dari dalam jurang petualangan cinta.


"My brother" tanpa rasa malu Ardi berteriak kencang saat berada di atas panggung, Dimas langsung membuang muka seketika, hal yang selalu dia lakukan jika Ardi sudah bertingkah kekanakan.


"Gue hari ini melihat keajaiban secara langsung men" Dimas terkekeh karena dia tahu apa maksud Ardi.


Pertama kalinya dalam hidup Dimas dia mampu menarik kembali ucapanya, dia mampu melanggar janji yang dia teriakan dengan lantang di depan Reni dan orang tuanya.


"Keajaiban apa?" tanya Reni bingung.


"Lo berdua menikah itu bentuk keajaiban luar biasa bagi gue" Ardi sekali lagi memeluk tubuh Dimas dengan erat.


Mereka berdua kemudian terbahak bersama, hal yang menarik perhatian dari semua orang yang ada di situ, kegilaan mereka mungkin tidak akan pernah habis sampai kapan pun, namun kehadiran permaisuri mereka yang akan membuat keduanya lebih terkendali.


Ardi berdiri tepat di hadapan Reni, seperti halnya yang kedua sahabatnya tadi lakukan, Ardi ingin memberi wejangan pada Reni.


"Ren" Ardi sudah menunjukkan mimik wajah serius menatap mata Reni dalam dalam, Reni tersenyum simpul mendapat tatapan tajam dari sahabat suaminya itu.


"Jika suatu hari terbersit dalam pikiran lo rasa bosan dan ingin melepas Dimas, gue mohon bilang ke gue, gue yang nganter Dimas ke dalam pelukan lo, gue juga yang akan menjemput Dimas dan mengambilnya dari dekapan lo jika itu terjadi, walaupun gue yakin itu tidak akan pernah terjadi Ren, Gue minta lo jangan pernah mendebat apapun ucapan Dimas saat dia sedang marah, jangan pernah bicara dengan nada tinggi sekalipun lo sedang marah, maka gue jamin dengan nyawa gue lo akan bahagia sama Dimas selamanya" Reni mengangguk.


"Gue akan selalu ingat semua wejangan kalian" jawabnya dengan penuh keyakinan.


Ardi turun dari atas panggung setelah mencium pipi Reni, kedua manusia bastards itu bahkan jauh sebelum hari pernikahan ini telah membuat taruhan yang aneh, Ardi terus menyumpahi Dimas akan menikah dengan Reni saat mereka tengah beradu mulut di kelas, Dimas yang tidak terima akan sumpah Ardi lalu berujar, jika Ardi boleh mencium pipi Reni di atas panggung pelaminan jika nanti mereka menikah.


"Kamu benar benar sayang" kesal Reni setelah tahu jika dirinya di jadikan bahan taruhan di masa lalu.


"Sumpah serapah Ardi salah satu hal yang menyebabkan kita berdiri di sini hari ini sayang" Dimas mencium pipi Reni tepat dimana tadi Ardi menciumnya.


Mata Dimas menatap lekat lekat wanita yang tengah naik ke atas panggung bersama lelaki pilihannya, wanita yang telah mengajarkan filosofi cinta pada Dimas di masa lalu, kehadiran Reni seperi anugerah bagi Dimas, Reni membuat Dimas mampu berdamai dengan rasa sakit yang di tinggalkan oleh Namira, bahkan Reni mampu membuat Dimas melanggar janjinya, janji yang Dimas ucapkan saat dia tengah merasakan sakit hati kedua kalinya yang di berikan oleh Namira.


"Jika kamu tidak bisa memaafkan Namira maka kamu tidak akan bisa mencintaiku sayang"


Ucapan Reni yang langsung mampu meruntuhkan kerasnya hati Dimas, mampu mempora porandakan logika yang selama ini Dimas dewakan.


"Selamat ya Dim" ucap Namira dengan tulus, dia merasakan kebahagiaan ketika Dimas mau memaafkan semua kesalahannya, ketika Dimas mampu menemukan kebahagiannya sendiri.


"Terimakasih" jawab Dimas dengan tulus sembari menerima uluran tangan Namira.


Namira langsung memeluk tubuh Reni setelah selesai berbicara dengan Dimas, dia pun berbisik di telinga Reni.


"Jangan pernah melakukan kebodohan yang sama dengan ku Ren, genggam erat berlian di tangan mu jangan pernah sekalipun tergoda dengan sampah yang ada di luar sana"


Reni tersenyum sembari mengangguk, dia paham apa yang dimaksud dengan berlian oleh Namira.


Satu persatu tamu undangan telah memberi ucapan selamat dan doa doa terbaik mereka untuk Dimas dan Reni, Dimas duduk bersama Reni di atas singgasana pengantin.


"Jadi apakah cinta sudah menemukan jalannya sendiri untuk pulang?" tanya Reni pada sang suami.


"Yes, I AM HOME" Dimas mengecup kening Reni, wanita yang menjadi sebuah keajaiban, Anugerah dan tempatnya untuk pulang.


Cinta memang tak akan salah memilih jalan untuk pulang, dan Dimas telah membuktikan hal itu, dia menikah dengan seseorang yang sama sekali tidak pernah ada dalam bayanganya, bahkan namanya saja tidak Dimas ingat saat pertama kali mereka bertemu kembali setelah bertahun tahun lamanya.


I AM HOME END.