
Hubungan Dimas dan Reni semakin dekat akhir akhir ini, meskipun lebih banyak berkomunikasi melalui dunia maya, setelah pertemuan pertama waktu itu Dimas dan Reni beberapa kali menyempatkan waktu untuk makan siang bersama, kesibukan Dimas yang tidak mengenal waktu membuat dirinya susah mengatur waktu untuk bertemu lebih lama dengan Reni.
"Akhir pekan ini lo harus bisa atau gue block nomor lo" isi pesan Reni yang membuat Dimas tersenyum.
Memang sudah beberapa kali Dimas membuat janji bertemu dengan Reni namun ada saja halangan mereka untuk bertemu, saat Reni memiliki waktu luang Dimas tiba tiba ada operasi darurat atau pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan, ketika Dimas senggang Reni sedang berada di luar kota untuk perjalanan Dinas, Reni bekerja di salah satu bank swasta sebagai kepala bagian audit internal yang menyebabkan dirinya sering berpergian ke luar kota.
"Iya tukang nyari kesalahan" ledek Dimas karena pekerjaan Reni sebagai Audit internal di bank swasta.
"Dasar dokter nyebelin" balas Reni dengan emot tangan terkepal.
Dimas tersenyum ketika bayangan wajah Reni melintas dalam pikirannya, dia kemudian menaruh ponselnya ke dalam jas dan kembali berkutat dengan pekerjaannya memeriksa rekam medis pasien, nampaknya dia akan lembur beberapa hari ini supaya tidak ada pekerjaan yang mengganggunya nanti di akhir pekan.
...****************...
Dimas sudah rapi dengan pakaian semi formal, dia hari ini akan menjemput Reni di bandara sesuai janjinya tempo hari, Reni baru saja selesai dengan pekerjaannya di luar kota.
Dimas melihat jam di tangannya, satu jam lagi pesawat yang di tumpangi Reni akan mendarat di bandara terbesar yang ada di ibu kota, Dimas kemudian bergegas turun menuju tempat parkir apartemennya.
Beberapa saat mengemudi akhirnya Dimas tiba di parkiran bandara, dia mengirim pesan pada Reni sebelum turun dari mobil.
"Nunggu bagasi bentar pak dokter" balas Reni saat Dimas mengabari dirinya sudah sampai di bandara.
"Gue tunggu di Moonbucks" balas Dimas.
Dimas kemudian melangkah masuk ke dalam salah satu cafe yang ada di bandara, dia memesan dua cokelat hangat kesukaannya, beberapa saat menunggu di lihatnya wanita yang akhir akhir ini menemani kesendiriannya berjalan masuk sembari menyeret sebuah koper, Dimas melambaikan tangannya untuk memberitahu keberadaan dirinya.
Reni tersenyum sembari melangkah menuju ke tempat Dimas berada, dia menaruh kopernya di sudut ruangan kemudian duduk di tepat di sebelah Dimas.
"Wah penyambutan lo oke juga" ucap Reni sembari menerima secangkir cokelat hangat yang di sodorkan Dimas.
"Udah gue cicip kurang manis jadi gue pesan lagi" elak Dimas.
"Dasar lo dokter nyebelin" sungut Reni kemudian menyesap minumannya.
Mereka berbincang hangat, Reni lebih banyak bercerita tentang aktifitasnya saat di luar kota, Dimas menjadi pendengar yang baik sesekali dia tertawa saat Reni mengeluh dengan wajah yang menggemaskan.
"Lo baru di omelin gitu aja ngeluh" cibir Dimas "Gue pernah di cekik sampai hampir mati sama keluarga pasien" lanjutnya, bukannya bersimpati Reni malah terbahak.
"Kalau gue jadi keluarga pasien itu gue cekik beneran sampai mati" ujarnya yang membuat Dimas langsung menyentil dahi Reni.
"Aw.... dasar psikopat lo" geram Reni sembari berusaha mencubit perut Dimas.
Mereka kembali tertawa lepas seakan semua beban hilang dengan kehadiran dari masing masing sebagai pelipur lara.
"Dimas nanti malam lo ada acara?" tanya Reni.
"Ada" jawab Dimas bermaksud menggoda Reni.
"Kan gue udah bilang lo kosongin waktu lo, kenapa lo malah ada acara heh!" sungut Reni sembari menatap tajam wajah Dimas.
"Ya kan acaranya sama lo"
"Dimas nyebelin" Reni memberikan cubitan kasih sayang di lengan Dimas yang sukses mendarat dengan sempurna.
"Aw......" Dimas langsung meringis kesakitan.
"Lo temani gue ya nanti malam?" pinta Reni dengan mata yang berkedip kedip.
"Ish...... ngambekan" goda Reni, Dimas masih mengusap lengannya yang benar benar terasa sakit, cubitan tangan Reni seperti menggunakan tenaga dalam.
"Yaudah sini gue usap usap biar sakitnya hilang" Reni mengusap lengan Dimas dengan lembut "Maaf ya, anggep aja kenang kenangan, gak pernah kan lo di cubit cewe secantik gue" ucapnya penuh percaya diri.
"Ada acara apa lo nanti malam?" tanya Dimas dengan senyum tipis di bibirnya karena usapan lembut Reni.
"Keenakan lo gue usap usap" Reni menepuk lengan Dimas sedangkan Dimas hanya terkekeh.
"Ulang tahun teman gue"
"Cewe cowo?" tanya Dimas.
"Emang perlu banget gue jawab"
"Iya dong, kalau cewe siapa tahu masih ada peluang"
"Dokter mesyum ish dasar"
Mereka kembali terlibat pergumulan, Reni berusaha mencubit tubuh Dimas sebanyak mungkin, sedangkan Dimas berusaha mencari kesempitan di balik kesempatan.
"Ahhh dasar dokter mesyum modus banget lo cium cium kepala gue" Dimas hanya terkekeh sedangkan Reni mengusap usap kepalanya yang beberapa kali Dimas cium.
"Kalau lo gak jawab gue gak mau anter lo"
"Cowo" ketus Reni.
Dimas terkekeh.
"Lo dandan yang cantik nanti" pintanya.
"Gue udah cantik dari lahir" jawab Reni penuh rasa percaya diri.
"Kalau lo cantik gak mungkin lo putus sama mantan lo terus ngajak gue manas manasin mantan lo itu" tebak Dimas, Reni langsung memberi tatapan tajam pada Dimas yang baru saja mengatakan suatu hal yang memang benar adanya, tapi dari mana Dimas bisa tahu.
"Kok lo tahu?" ucap Reni tak percaya.
Dimas tersenyum simpul "Nebak aja" jawabnya acuh.
Dimas terus menggoda Reni perihal mantannya itu, Reni hanya bisa menggerutu sesekali mencoba membalas ulah Dimas.
"Diam gak!" kesal Reni karena Dimas terus meledeknya.
"Kalau itu cuma teman lo gak mungkin ngajak gue, dan tebakan gue benar kan?" Dimas memberikan tatapan mengejek "Ternyata dia mantan lo" Dimas menaik turunkan alisnya dengan senyum yang menjengkelkan.
"Nyebelin"
"Nyebelin gini lo nyaman kan?" Dimas menatap wajah Reni "Lo jangan terlalu nyaman sama gue Ren, karena lo akan lebih susah move on nanti di saat gue pergi, lebih susah ngelupain gue dari pada mantan lo itu"
"Pede banget lo jadi orang"
"Lah gue mah pede wajar, ganteng iya, kaya iya, terkenal apalagi, dokter Dimas Mahendra nih" Sombong Dimas yang membuat Reni semakin gemas.
Mereka menghabiskan banyak waktu di dalam cafe itu, Dimas masih terus menggoda Reni agar tidak menaruh hati padanya, padahal Dimas lah yang sudah menaruh hati pada Reni, namun dia seakan berusaha membohongi dirinya karena rasa sakit yang berkali kali dia alami dari hubungan sebelumnya.