I Am Home

I Am Home
Senyuman itu



"Aku ingin menikah" ucap Anna dengan lirih, tubuhnya tengah terkulai lemah di atas tempat tidur rumah sakit, Dimas berusaha tersenyum, tak pernah sekalipun dia tunjukkan kesedihan di depan Anna, tak sekalipun dia tumpahkan air mata di depan Anna.


"Besok mau?" tanya Dimas yang membuat Anna langsung mengerucutkan bibirnya.


"Gak besok juga lah" sungut Anna, Dimas langsung mengelus kepala sang kekasih.


"Yaudah kalau gitu lusa ya" sambungnya yang membuat Anna tersenyum, senyum manis seperti biasa, senyum yang selalu membuat Dimas bahagia dan enggan untuk mengalihkan pandangannya walau sedetik saja.


Senyuman itu yang selalu membuat Dimas terkenang.


...****************...


Suarana sirine ambulance terdengar begitu nyaring, the bad boys yang tengah berada di kantin bunda langsung memperhatikan dengan seksama ke arah ambulance itu berada.


Deg......


Pandangan Dimas seketika terkunci ketika melihat tubuh seorang wanita yang berada di atas ranjang yang tengah di dorong oleh beberapa orang berpakaian putih khas perawat, Dimas kembali menajamkan pandangannya untuk memastikan dia tidak salah melihat.


"Anna" teriak Dimas langsung berlari ke arah ambulance itu, ketiga sahabatnya bergegas mengikuti Dimas.


"Ann Anna" Dimas langsung menggenggam tangan Anna ketika tubuh Anna yang sudah terkulai lemah sedang di masukkan ke dalam ambulance.


"Gue ikut" teriak Dimas, namun seorang laki laki langsung mencekal lengannya saat Dimas hendak masuk ke dalam ambulance.


"Maaf mas tidak bisa"


Dimas langsung mengepalkan tangannya, tatapannya penuh emosi menatap pria yang mengenakan seragam berwana putih itu.


"Kita pakai mobil men" ucap Amar.


"Anji*g" maki Dimas saat pintu ambulance di tutup.


"Lo panik boleh tapi jangan beg* jing" makinya pada Dimas "Ayo ke parkiran kita ikuti mereka pakai mobil"


Noval segera menarik tubuh Dimas menuju parkiran, Ardi langsung berlari ke ruang BK untuk mengurus surat izin agar mereka bisa keluar dari sekolah saat itu.


Sampai di rumah sakit Dimas langsung berlari menuju ruang ICU, Amar sebelumnya sudah menghubungi orang tua Anna, dan dia mendapat info jika Anna langsung di masukkan ke ruang ICU.


Melalui kaca kecil yang terdapat di pintu ruang ICU Dimas bisa melihat tubuh Anna yang terkulai lemah, berbagai macam kabel menempel di kepala dan tubuh Anna, tidak ada air mata yang keluar hanya tatapan penuh kepiluan dan putus asa yang terlihat di wajah Dimas.


Satu hari berlalu, tidak ada perkembangan terkait kondisi Anna, dengan masih menggunakan seragam sekolah Dimas duduk di kursi panjang di depan ruang ICU, disampingnya terlihat Noval yang dengan setia menemani Dimas dari kemarin.


"Makan dulu men" Noval menyodorkan kotak yang berisi makanan kepada Dimas, Dimas hanya menggeleng.


"Dari kemarin lo belum makan apapun men, jangan sampai Anna sadar ntar lo gak bisa liat dia" ucapnya berusaha membujuk Dimas.


"Jangan lo kasih harapan gue men" ucap Dimas dengan tatapan mata nanar.


"Gue gak pernah kasih harapan sama sekali men, tapi kita juga jangan pernah kehilangan harapan dengan harapan Anna bisa bertahan sampai sekarang, lo harus yakin keajaiban itu ada" ucapnya panjang lebar.


Dimas tetap bergeming, dari kemarin tidak ada yang berhasil menbujuk Dimas, bahkan kehadiran mama Dimas tidak berpengaruh apa apa, Dimas hanya diam sembari menundukkan kepalanya ketika mamanya membujuk Dimas untuk pulang dulu dan mengganti baju.


Beberapa orang masuk ke dalam ruang ICU, Dimas langsung beranjak dari duduknya, wajahnya langsung dia arahkan ke jendela kecil di pintu ruangan itu, senyumnya mengembang ketika melihat Anna sudah membuka matanya.


Dimas mundur beberapa langkah untuk memberi jalan para perawat yang mendorong ranjang pasien Anna, dengan penuh semangat Dimas mengikuti Anna dari belakang, kondisi Anna dinyatakan sudah lebih baik dan bisa di pindahkan ke ruang perawatan.


Dimas tengah duduk tepat di samping ranjang pasien Anna, mulutnya penuh dengan makanan, Noval baru saja mengadu kepada Anna jika Dimas belum makan apapun dari kemarin, hal itu menbuat Anna memaksa Dimas untuk makan atau dia tidak mau Dimas berada di ruangan itu, hal yang sangat mudah bagi Dimas, dengan penuh semangat dia langsung memasukkan makanan yang di berikan oleh Noval ke dalam mulutnya.


Amar dan Ardi masuk ke dalam ruang perawatan, mereka berdua masuk ke sekolah karena paksaan dari Dimas, jika bukan Dimas yang meminta, mereka berdua enggan untuk beranjak barang selangkah pun dari rumah sakit, mereka ingin selalu berada di samping Dimas dalam masa masa sulitnya.