
"Kemana men? tanya Ardi ketika Dimas berdiri.
Dimas kemudian menunjuk ke arah lobby, terlihat dua orang pria tengah bersitegang, Namira berdiri di tengah tengah mereka seakan sedang melerai keduanya.
"Andro" gumam Ardi begitu pandangannya menangkap seseorang yang dia kenali.
"Lo kenal?" tanya Dimas.
"Siapa?"
"Please men jangan beg*" kesal Dimas melihat sikap Ardi yang selalu bercanda jika di tanya.
"Ngambekan lo" cibir Ardi "Iya gue kenal, rekan bisnis yang baru gue temui tadi" tuturnya.
Andro adalah salah satu rekan bisnis Ardi, dia memiliki sepak terjang yang tak jauh berbeda dengan Ardi, pecinta banyak wanita.
"Hubungannya apa dia sama Namira dan Leo?" gumam Dimas.
"Mana gue tahu" Ardi kembali duduk kemudian menenggak satu sloki minuman.
"Duduk dulu men, kita jadi penonton aja dulu" ucapnya seraya menarik tangan Dimas agar kembali duduk.
Kedua sahabat itu terus memperhatikan interaksi ketiga orang di ujung sana, Namira sesekali mendorong tubuh Leo agar menjauh, dia juga menarik tangan Andro ketika tangan itu berusaha mencengkram baju Leo.
"Andro cukup!" ucap Namira dengan nada tinggi, bahkan Dimas mampu mendengarnya dari jarak yang cukup jauh.
"Leo, kamu keluar dulu" pinta Namira dengan tatapan memohon pada Leo.
Leo bukannya menurut justru mendorong tubuh Andro dengan cukup keras sehingga Andro terpental kebelakang, teriakan Namira seketika menggema, beberapa petugas keamanan terlihat berlari ke arah mereka.
"Pak tolong pak, tolong!" ucap Namira dengan panik ketika Andro tiba tiba menerjang tubuh Leo.
Sebuah tendangan mendarat telak di dada Leo membuatnya terjungkal seketika, petugas keamanan yang baru datang langsung memegangi tubuh Andro yang hendak kembali menyerang Leo.
"Andro stop" teriak Namira yang berada di tengah tengah antara Andro dan Leo.
Leo yang baru saja bangkit hendak menyerang Andro namun berhasil di cegah oleh petugas keamanan yang ada di situ.
"Ayok men" ajak Ardi setelah beberapa lama mereka menjadi penonton.
"Kemana?"
Ardi menunjuk ke arah keramaian yang tengah terjadi di lobby.
"Males gue" Dimas tak bergeming.
"Gue yakin mereka ribut ada hubungannya sama Namira" ucap Ardi berusaha meyakinkan Dimas agar mau mengikutinya.
"Ah biarin lah bukan urusan gue, mau Leo kalah atau Andro kalah bodo amat" ketus Dimas.
Dimas sesungguhnya juga ingin tahu hubungan Namira dengan Andro, karena beberapa kali Namira menyebut nama Andro saat Andro beradu mulut dengan Leo.
"Ck... ck... ck..." Ardi berdecak kesal "Lo yakin siap melepas Namira pada salah satu dari mereka" Ardi mulai melempar umpan pada Dimas.
"Maksud lo?"
"Gue kenal Andro men" Ardi kemudian memberikan pe jelasan pada Dimas.
Ardi sudah berbisnis bersama Andro selama beberapa tahun terakhir, dia cukup mengenal baik pribadi Andro, Andro pernah bercerita tentang hal yang membuat dirinya menjadi pemain cinta, dia beralasan karena pernah di khianati oleh kekasih dan sahabatnya, apalagi setahu Ardi bahwa Andro bukanlah orang yang mau mempermalukan dirinya di depan umum untuk hal hal sepele.
Dimas diam sejenak berusaha mencerna kata kata Ardi.
"Maksud lo Leo sahabat Andro dulu yang mengkhianatinya?"
"That's right" jawab Ardi cepat "Dan lo bisa tebak siapa kekasih Andro yang menghianatinya dulu?"
"Namira" gumam Dimas lirih namun Ardi masih bisa mendengarnya.
"Yuhuuu" Ardi tersenyum lebar.
"Ayo" ajak Dimas kemudian langsung berdiri dan berjalan cepat.
Ardi sedari awal mempunyai firasat yang tidak baik ketika Dimas bercerita Namira telah kembali dan mereka memulai menjalin hubungan lagi.
Dua orang petugas keamanan terlihat kualahan menahan tubuh Andro yang terus membrontak, Ardi mempercepat langkahnya mendahului Dimas.
"Brother" Ardi mengalungkan tangannya di leher Andro.
"What's wrong with you?" Andro menoleh ke belakang untuk melihat siapa orang yang berani memiting lehernya.
"Ardi" ucap Andro.
"You are not shame" ucapnya sembari menunjuk ke arah orang orang yang tengah melihat ke arah mereka, Ardi kemudian menarik tubuh Andro untuk pergi dari situ, dia menghentikan langkahnya tepat di sebelah Dimas.
"Lo urus sisanya men" bisik Ardi pada Dimas.
Dimas langsung menghampiri Namira yang tengah berdiri dengan ekspresi wajah terkejut karena kehadirannya di situ, Dimas langsung meminta petugas keamanan untuk melepas Leo, dia yang akan membereskannya tutur Dimas.
"Lo masih ada keperluan dengan Namira? tanya Dimas pada Leo.
Leo mengangguk tapi Namira langsung memotong "Aku pulang sama Dimas, kamu pulang saja" Namira langsung menarik tangan Dimas untuk menjauh tanpa menunggu jawaban dari Leo.
Namira mengajak Dimas untuk berbicara di dalam bar, dia merasa risih dengan tatapan orang orang yang ada di lobby.
"Kamu kok bisa ada di sini sayang?" tanya Namira begitu mereka duduk di salah satu meja yang ada di bar.
Dimas tersenyum tipis "Pertanyaan itu lebih tepat buat kamu" Dimas menatap mata Namira lekat lekat "So, ada yang perlu di jelaskan?" ucapnya.
"Maaf" lirih Namira.
"Untuk?" Dimas manutkan alisnya.
"Kebohongan ku" jawab Namira.
"Yang mana?"
"Leo" Namira menundukkan kepalanya.
Dimas menghela nafas berat, bukan itu yang ingin Dimas dengar, jika tentang kebohongan Namira yang berada di situ bersama Leo, tanpa di jelaskan pun Dimas sudah tahu, namun Dimas enggan bertanya lebih jauh mengenai hubungan Namira dan kedua laki laki itu.