I Am Home

I Am Home
Aku menunggumu pulang



Anggi menenggak minuman di dalam gelas hingga tandas, dia seperti baru saja melewati perjalanan jauh melalui sebuah gurun pasir, Anggi berusaha menormalkan nafasnya setelah beberapa saat lalu berbicara dengan menggebu gebu penuh emosi dengan Namira saat menceritakan tentang Dimas.


"Pokoknya Mir gue gak bakal setuju kalau lo masih dekat dekat sama si bastrad itu?" sungut Anggi.


"Dimas yank" protes Amar yang tidak terima dengan sebutan Anggi untuk sang sahabat.


"Aw... sshhh" Amar meringis setelah Anggi mencubit lengannya dengan sangat keras.


"Ish biru yank" rajuk Amar sembari mengusap usap lengannya yang terasa ngilu.


"Makanya diam gak usah ikut ngomong".


"Iya iya maaf" Amar kembali menunduk sembari menahan sakit di lengannya.


Awalnya Anggi sudah mengusir Amar untuk pulang, Anggi masih merasa kesal dengan Amar yang masih membela Dimas, Amar ngotot tetap ingin menemani Anggi untuk bertemu dengan Namira, keputusan yang kemudian sangat di sesali Amar.


"Tau gini pulang aja gue tadi" sesal Amar dalam hatinya.


"Mir lo dengerin gue gak si" kesal Anggi karena melihat wajah Namira biasa saja tanpa ada rasa marah di sana.


"Iya gue denger kok Nggi" jawab Namira santai.


"Kalau lo dengar kenapa muka lo biasa aja?"


"Terus gue harus apa, gue harus marah? gue harus ngelabrak Dimas?" tukas Namira "Gue bukan siapa siapanya Dimas Nggi, gue gak berhak marah dong" lanjutnya sembari menyesap cangkir teh di depannya.


"Ya karena lo bodoh, lo sama Dimas udah kaya orang pacaran, lo kemana kemana bareng, Dimas juga memperlakukan lo seakan lo pacarnya" sungut Anggi tidak mau kalah.


"Terus?"


"Ya lo marah kek, kalau gue jadi lo gue gamparin Dimas".


"Glek" Amar yang mendengar ke bar baran dari sang kekasih menelan salivanya dengan susah payah.


"Lo sayang sama Dimas kan?" tanya Anggi penuh selidik


Namira mengangguk.


"Terus kenapa lo cuma diam aja setelah tau hal kaya gini"


Namira menggeleng.


"Jangan cuma ngangguk sama geleng doang, kesel gue lama lama sama lo Mir" cibir Anggi.


"Nggi, dengerin gue baik baik, gue sayang sama Dimas, gue cinta sama Dimas, tapi gue percaya sama Dimas"


"Percaya? apa yang lo percaya dari orang kaya Dimas si" potong Anggi.


Huh.... Namira menghela nafas panjang.


"Bisa gak kalau gue ngomong gak lo potong" kesal Namira, Anggi pun mengangguk pasrah setelah melihat Namira kesal.


Namira kemudian menjelaskan kembali tentang perasaannya pada Dimas, bagi Namira Dimas adalah cinta pertamanya, Dimas orang yang mampu menenangkan Namira ketika dia resah dan gundah, Dimas adalah orang yang paling mengerti apa yang di inginkan oleh Namira walau hanya melalui sorot mata saja, Dimas adalah orang yang membuat Namira sangat mengaguminya, orang yang bisa membuat Namira mengerti apa itu cinta.


"Maka dari itu kalau kebahagian Dimas bukan gue, gue gak akan menahan Dimas, bahkan sekedar memintanya bertahan pun gak akan gue lakuin Nggi" ucap Namira mengakhiri ceritanya.


Anggi hanya bisa terdiam mendengar ungkapan hati Namira, sedangkan Amar sedang mengutuki sang sahabat dalam hatinya, bagaimana seorang Dimas yang bisa di cintai begitu dalam oleh wanita, dulu Anna sekarang Namira, tidak dapat di terima oleh logika Amar.


"Apa kelebihan si kampret itu si" cibir Amar dalam hatinya.


...****************...


Setelah bertemu dengan Anggi dan Amar, Namira langsung menguhubungi Dimas untuk bertemu di tempat biasa, Namira memang sengaja datang sedikit terlambat ingin mengetahui bagaimana reaksi Dimas, reaksi yang akan sangat berpengaruh terhadap keputusan Namira nantinya, apakah dia akan bertahan untuk menunggu Dimas atau Namira akan pergi dengan sejuta luka dalam hatinya.


"Terimakasih udah nunggu Dim, gue udah tau apa keputusan yang bakal gue ambil" ucap Namira dalam hati sembari mengaur nafasnya sebelum menyapa Dimas.


"Dimas" sapa Namira dengan penuh kelembutan.


Dimas hanya bisa melongo mendengar kelembutan yang baru saja keluar dari mulut Namira, emosi yang sedari tadi sudah memuncak pun lenyap begitu saja, Namira wanita ter bar bar yang Dimas kenal, wanita yang selalu ketus jika berbicara dengannya, wanita yang tak mengenal rasa takut, hari ini berbicara dengan lembut di sertai mata berbinar dan wajah ceria.


"Du.. duk Mir" ucap Dimas tergagap, Dimas tidak bisa menutupi keterkejutannya ketika mendapati Namira seperti orang lain saat ini.


"Ada apa Mir?" tanya Dimas setelah Namira duduk di sebelahnya.


"Kangen aja" jawabnya dengan manja.


"Sejak kapan cewe bar bar ini bisa manja" ucap Dimas dalam hatinya.


"Wah tumben, serius?


"Engga"


"Ish" gerutu Dimas kesal.


Namira menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan.


"Dim boleh aku minta satu hal sebelum aku bicara" pinta Namira sembari memberikan tatapan teduh pada Dimas.


"Aku? sejak kapan Namira ngomong pake aku kamu" gumam Dimas dalam hati.


Dimas mengangguk.


"Jangan memotong atau menyela sebelum aku selesai bicara oke?"


"Baiklah" jawabnya kemudian.


Namira kemudian memulai bercerita tentang awal pertemuan mereka di cafe, tentang rasa kesal Namira karena Dimas sering menghubunginya dan rasa sepinya ketika Dimas tiba tiba tak pernah menghubunginya lagi.


"Ya lo gak pernah respon gue" potong Dimas yang langsung membuat Namira menatapnya tajam.


"Maaf maaf" Dimas tersenyum bodoh "Ya sudah lanjut".


Sebenarnya Namira sering menanyakan keadaan Dimas pada Anggi setelah Dimas tidak lagi menghubunginya, jawaban dari Anggi berdasarkan cerita Amar menimbulkan rasa ketertarikan Namira pada Dimas, setelah itu Namira diam diam memperhatikan Dimas dari jauh, sampai puncaknya saat Dimas benar benar jatuh karena kehilangan Anna, entah kenapa Namira ikut merasakan sakit melihat kondisi Dimas saat itu hingga akhirnya Namira sadari jika dia sudah jatuh cinta pada Dimas, cinta pertama Namira.


"Apa kamu percaya jika cinta pertama itu tak akan berakhir bahagia?" tanya Namira.


"Mungkin" jawab Dimas singkat, dia masih syok karena mendengar penuturan Namira.


"Cinta tahu dimana rumahnya dan kapan dia harus pulang" ucap Namira mengutip tulisan dari ponselnya "Apa kamu percaya itu Dim?" tanya Namira.


Dimas mengangguk pelan.


"Mulai sekarang kejarlah bahagia mu kejarlah wanita yang membuat mu nyaman". Namira menggenggam tangan Dimas.


"Tapi ingat satu hal" Dimas menautkan alisnya.


"Aku menunggumu pulang" Namira menyentuh dada Dimas, dia kemudian berdiri dan kangsung bergi meninggalkan Dimas yang masih terdiam tenggelam dalam pikirannya.


Dimas bahkan tidak bisa untuk sekedar bertanya tentang apa maksud dari Namira, Dimas masih belum bisa percaya Namira baru saja mengungkapkan isi hatinya.