
Sore berlalu berganti malam, sahabat Dimas dan lainnya sudah pulang sedari tadi, hanya menyisakan Namira yang dengan setia menunggu Dimas, mama Dimas sempat datang namun kemudian pulang karena di minta oleh Dimas, Dimas hanya ingin Namira yang menemani.
"Mir" panggil Dimas.
"Apa Dim?" sahut Namira tanpa menoleh, matanya masih fokus menatap layar televisi.
"Ish... nengok apa si" kesal Dimas.
"Dasar ambekan" cibir Namira sembari menatap ke arah Dimas.
"Kenapa?" tanyanya lembut.
"Mmmmm..." Dimas memutar bola matanya "Gue minta maaf" lanjutnya.
"Untuk?" Namira memasang mimik wajah serius, hal itu membuat Dimas menjadi grogi.
"Bisa gak wajahnya biasa aja" protes Dimas sembari mengerucutkan bibirnya.
Namira terkekeh melihat ekspres Dimas yang menggemaskan, setelah reda suara tawanya Namira mengatur nafasnya untuk menormalkan ekspresinya.
"Gak ada yang perlu minta maaf dan di maafkan Dim" Namira menggenggam tangan Dimas "Aku sudah bilang kemana pun kamu pergi aku menunggumu" ucapnya tulus.
Dimas tertegun sesaat, pandanganya bisa merasakan pancaran ketulusan dari mata Namira.
"Lo mau jadi pacar gue?" ucap Dimas cepat.
Namira terkesima seketika, dia tatap lekat lekat mata Dimas, Dimas berusaha membuang mukanya, namun Namira langsung menahannya dengan tangannya.
"Kalau kamu cuma takut kehilangan aku kamu salah Dim, aku tidak perlu pengakuan atau status Dim, yang aku tahu kamu cinta aku dan aku cinta kamu, itu sudah lebih dari cukup" ucap Namira dengan penuh keyakinan.
"Tapi.." Namira menempelkan jarinya di bibir Dimas.
"Tidak usah terburu buru, mari nikmati setiap prosesnya bersama" Dimas seketika menyunggingkan senyum di wajahnya.
"Tetaplah di sisiku apapun yang terjadi" pinta Dimas dengan nada memohon, Namira mengangguk pelan.
"Terimakasih" Dimas mengecup kening Namira dengan lembut.
Kecanggungan terjadi setelahnya, keheningan menghiasi, Dimas sedikit gelisah, dia nampak berpikir untuk keluar dari suasana canggung itu.
"Eh Mir" pekik Dimas tiba tiba.
"Sorry sorry" Dimas tersenyum melihat ekspresi wajah Namira "Gue mau nanya?"
"Apa?" jawab Namira.
"Kok lo bisa tiba tiba datang" penasaran Dimas.
"Gue di kasih tahu Anggi".
"Anggi?" ucap Dimas kebingungan.
Namira kemudian menceritakan saat itu dirinya sedang di sekolah bersama Anggi, tiba tiba Amar menelfon dan memberitahu jika Dimas saat ini sedang di keroyok di depan sekolah, Amar dan yang lainnya sudah tidak berdaya menolong Dimas, Amar meminta Anggi memberitahu Namira setidaknya Namira bisa memberi salam perpisahan terakhir bagi Dimas.
"Sial*n tuh kunyuk" umpat Dimas, Dimas segera mengutuki ketiga sahabat laknatnya itu.
"Jadi ini semua rencana para bedeb*ah itu?" sungut Dimas, Namira mengangguk.
"Makanya tadi lo marah marah sama mereka?" tanya Dimas kemudian.
Awalnya Namira tidak mengetahui dalang di balik pengeroyokan Dimas, setelah Namira mengantar Dimas ke rumah sakit dan memastikan kondisi Dimas sudah baik dia pun pulang untuk mengganti baju, ketika Namira kembali sudah ada tiga sahabat Dimas yang sedang duduk di depan ruang perawatan Dimas, awalnya Namira ingin menyapa namun ketika sudah dekat Namira mendengar mereka sedang membicarakan Dimas.
"Men kayanya terlalu parah kondisi Dimas" ucap Noval dengan wajah khawatir.
"Iya gue lupa breefing orang yang mukulin Dimas tadi" jawab Amar sembari cengengesan.
Namira yang mendengar hal itu seketika murka, tanpa menunggu lama Namira langsung menghampiri ketiganya, kemudian Namira meminta mereka masuk ke dalam ruang perawatan Dimas, di dalam Namira langsung memukuli ketiganya satu persatu.
Dimas mengulum senyum mendengar cerita Namira.
"Oh Namira gadis bar barku" ucap Dimas yang membuat Namira langsung melotot tajam.
"Gue benar benar gak tau rencanya mereka Mir" cetus Dimas yang menyadari arti tatapan Namira "Sumpah" Dimas mengangkat kedua jarinya.
"Aku cuma takut gak sempat ucapin selamat tinggal sama kamu Dim" goda Namira.
"Jadi lo gak khawatirin gue" Namira menggeleng.
"Namiraaa!!!!!" Dimas langsung mengacak acak rambut Namira dengan gemas, Namira hanya tekekeh, dia merasa sangat bahagia dengan moment yang saat ini tengah terjadi, moment yang akan menjadi kenangan indah bagi Namira.