I Am Home

I Am Home
Rencana bertemu



Dimas baru saja keluar dari dalam ruang operasi, selama hampir empat jam dia bergelut dengan segala macam peralatan medis untuk menyelamatkan hidup seseorang, mempertahankan senyum dari wajah keluarga pasien, dan mencegah air mata serta pedihnya rasa kehilangan.


"Terimakasih atas kerja kerasnya dokter" ucap keluarga pasien sembari tersenyum tulus pada Dimas setelah Dimas memberi tahu hasil operasi yang sukses.


"Sama sama" ucap Dimas tulus sembari tersenyum.


Dimas kembali ke ruang kerjanya untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan yang baru, setelah penampilannya sudah segar dengan pakaian baru Dimas kemudian duduk di atas kursi ruang kerjanya sembari menyesap secangkir kopi kesukaannya.


"Oh ya bagaimana keadaan Namira" gumamnya kemudian beranjak untuk menuju ruang tempat Namira di rawat.


Setelah mengantar Namira ke ruang UGD, Dimas langsung bergegas menuju ruang operasi karena waktu yang sudah mendesak, dia hanya berpesan kepada dokter jaga dan beberapa suster serta perawat yang ada di sana untuk merawat Namira dengan sabaik baiknya, dan mengabarkan kondisi Namira padanya, Dimas berbicara dia adalah walinya.


Dimas masuk ke dalam ruang UGD, setelah beberapa saat mengamati dia tidak melihat keberadaan Namira di sana, lalu Dimas keluar untuk menuju ke bagian informasi.


"Sus pasien atas nama Namira apa sudah di pindah ke ruang perawatan?" tanya Dimas begitu sampai di bagian informasi.


"Sebentar saya cek dulu dokter" jawab Suster yang di balas anggukan oleh Dimas.


"Pasien sudah keluar dua jam lalu dokter" tutur suster.


"Keluar?" suster mangangguk "Kenapa tidak izin dulu pada saya sus?" tanya Dimas.


"Mungkin dokter bisa tanya langsung kepada dokter jaga UGD"


Dimas kemudian meninggalkan ruang informasi, dia langsung menuju ke tempat dokter jaga UGD.


"Dok kenapa pasien atas nama Namira bisa keluar tanpa izin dari saya?" tanya Dimas tanpa basa basi ketika masuk ke dalam ruang dokter UGD.


Dokter UGD kemudian menjelaskan jika Namira memaksa untuk pulang karena di rasa kondisinya sudah sehat, walaupun dokter jaga sudah melarang karena harus izin dulu pada dokter Dimas namun Namira tetap memaksa, dokter pun tidak bisa berbuat apa apa karena memang tidak memiliki alasan untuk menahan Namira lebih lama.


"Pasien menitipkan ini untuk dokter" dokter jaga menyerahkan sebuah kartu nama.


Dimas menerimanya kemudian membaca sekilas kartu nama itu, terdapat sebuah logo universitas, nama lengkap Namira, serta kontak yang bisa di hubungi.


"Ternyata kamu sudah jadi dosen sekarang". gumam Dimas seraya tersenyum tipis.


Dimas kemudian berlalu meninggalkan dokter jaga setelah mengucapkan terimakasih.


"Namira Kania" gumam Dimas ketika membaca nama yang tertera di kartu nama tersebut.


"Lucu sekali, sudah lama aku mengenalmu bahkan sempat menjalin hubungan tapi baru saat ini aku tahu nama lengkapmu" ucap Dimas menertawakan dirinya sendiri.


"Selamat siang nona Namira" tulis Dimas pada salah satu aplikasi pengirim pesan.


Ting..... tak lama kemudian terdapat notifikasi di ponselnya jika ada balasan dari Namira.


"Siapa?" Dimas tersenyum membaca pesan Namira, seakan dia mampu melihat ekspresi Namira saat menulis pesan balasan itu, Dimas merasa Namira belum berubah sama sekali, Namira masih menjadi orang yang acuh kepada orang lain yang tidak dia kenal seperti dulu.


"Orang yang membawa mu ke rumah sakit" balas Dimas.


"Dokter Dimas?"


"Iya" jawab Dimas singkat.


Namira nampaknya tidak mengenali siapa dokter Dimas yang telah menolongnya, mungkin Namira akan terkejut jika tahu bahwa dokter Dimas yang tadi menolongnya adalah orang yang sangat dia cintai di masa lalu.


"Maaf dokter tadi saya langsung pergi setelah kondisi saya lebih baik" balas Namira panjang lebar, dia meminta maaf tidak menemui Dimas terlebih dahulu sebelum pergi karena Namira mendapat informasi jika Dimas sedang ada operasi yang mungkin akan berlangsung cukup lama.


"Apa dokter ada waktu?" tanya Namira mengakhiri pesan panjang lebar sebelumnya.


"Untuk?" balas Dimas pura pura acuh, padahal bibirnya sedari tadi mengulum senyum saat membaca pesan dari Namira.


"Saya ingin berterimakasih secara langsung pada dokter" balas Namira.


"Tidak perlu"


"Saya mohon dokter, saya merasa seperti orang tidak tahu diri apabila tidak mengucapkan terimakasih langsung pada dokter".


"Apa itu hanya alasan mu, padahal kamu ingin meminta ganti rugi atas kerusakan mobil mu".


Namira mengirim emot tertawa "Dokter tahu saja" isi pesan teks kemudian.


"Baiklah jika kamu memaksa"


"Eh.. saya tidak memaksa ya! tapi anggap saja saya memaksa yang penting dokter mau menyempatkan waktu"


Lalu mereka terus berkirim pesan satu sama lain, Dimas sedang mencurahkan rindu yang selama bertahun tahun dia pendam, Namira juga tanpa sadar merasa nyaman hanya dengan berbalas pesan dengan Dimas, padahal biasanya Namira tidak pernah langsung akrab dengan seorang yang baru dia kenali, mungkin ikatan batin yang menyebabkan keakraban itu.


"Sampai jumpa nanti malam dokter" pesan terakhir Namira ketika mengakiri percakapan mereka, Dimas dan Namira telah sepakat untuk bertemu di salah satu resto yang dekat dengan kampus tempat Namira mengajar, Dimas menawari untuk menjemput Namira setelah tahu jika mobil Namira tengah di perbaiki di bengkel, hal yang tidak Dimas duga Namira langsung menyetujuinya tanpa banyak bertanya.